
Aidan terus melirik pada ponselnya yang terus berbunyi menampilkan nama Velissa di sana.
"Angkat saja." Ucap Alea tanpa mengalihkan pandangannya.
Aidan nampak menimbang. Sebelum akhirnya tetap memutuskan untuk mengangkat panggilan dari Velissa.
"Gue harus segera kembali ke rumah sakit." Ucap Aidan sedikit berat.
Alea tersenyum tipis. "Pergilah. Gue ingin lanjut tidur." Alea merangkak menuju tempat pembaringannya tadi kemudian membenamkan tubuhnya di dalam selimut.
"Maafin gue..." Lirih Aidan. Tanpa sempat membersihkan tubuhnya lebih dulu, Aidan segera mengambil kembali kunci mobilnya yang baru ia letak di atas nakas kemudian melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar.
"Lo jahat, Aidan..." Gumam Alea menggigit bibir bawahnya menahan isakan tangisnya agar tidak keluar.
*
Satu minggu pun berlalu. Seperti perkataan Aidan tempo hari. Setiap harinya Aidan harus bolak-balik rumah sakit untuk menjaga Velissa yang masih dalam perawatan di rumah sakit. Satu minggu ini Alea lewati tanpa kehadiran suaminya di saat ia mengalami gejala morning sickness setiap harinya.
Setiap kali Aidan pulang ke rumah pun, Alea selalu berpura-pura tidur agar tidak memperlihatkan rasa sakitnya pada Aidan. Namun Alea tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri seperti memasakkan makanan untuk Aidan sebelum suaminya itu sampai di rumah. Walau Alea harus menelan pil pahit karena Aidan lebih sering mengabaikan masakannya. Namun walaupun begitu, Alea tetap menjalankan kewajibannya. Dah hal yang membuat Alea sakit hati saat ini adalah sudah dua hari ini Aidan tak lagi pulang ke rumah mereka.
"Kak Aidan itu benar-benar keterlaluan! Lo kok diam aja sih Lea diginiin. Apa lagi lo juga lagi hamil saat ini." Ucap Cika merasa berang.
"Bener-bener keterlaluan tuh Kak Aidan!" Timpal Maudy yang tak kalah merasa berang.
Alea hanya diam sambil menatap pada langit yang nampak gelap sore itu. Tanpa terasa satu tetes air mata mengalir di pipi mulusnya. Entah mengapa perasaan Alea saat ini benar-benar sakit setiap kali mengingat jika suaminya sedang berduaan dengan wanita lain tanpa memperdulikan perasaannya.
Harusnya gue yang lo kasihani, Aidan. Gue sedang mengandung anak-anak lo. Gue yang sebenarnya lebih membutuhkan sosok lo sebagai ayah dari anak gue saat ini.
"Alea lo nangis?" Cika mendekat pada Alea saat melihat punggung Alea yang naik turun.
Maudy pun turut mendekat pada Alea.
"Apa gue benar-benar hanya sebatas istri di atas ranjang oleh Aidan? Apa gue gak ada artinya di hidup dia." Ucap Alea terbata-bata.
"Gue sakit... Sakit banget... Ini semua salah gue yang terlalu mengharapkan cinta dan kasih sayang dari suami gue sendiri." Raung Alea menepuk dadanya yang terasa sesak.
"Menurut gue ada baiknya lo bilang ke Kak Aidan jika saat ini lo sedang hamil. Mungkin saja jika begitu Kak Aidan akan lebih memilih untuk menemani lo di banding cewek gatel itu." Saran Cika.
Kepala Maudy mengangguk menyetujui. "Saat ini Kak Aidan hanya terhasut oleh kelemahan wanita siluman itu, Lea. Lo harus kuat. Lo harus rebut suami lo kembali!" Perintah Maudy.
Alea masih terisak dalam tangisannya. Mengelus perutnya yang sedikit membuncit. "Apa dengan mengatakan kehadiran kalian Daddy kalian akan kembali kepada kita?" Lirih Alea merasa tak yakin.
***
...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...
Sambil menunggu cerita Alea dan Aidan update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.
- Hanya Sekedar Menikahi (On Going)
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺