Oh My Introvert Husband

Oh My Introvert Husband
Sepertinya menyenangkan



"Bunda...." Panggil Alula yang saat ini berada di gendongan Aidan.


Percakapan Bunda Vara dan Alea pun terhenti. "Eh kamu udah bangun sayang?"


"Udah..." Alula mengucek kedua matanya. Kemudian meminta diturunkan dari gendongan Aidan.


"Adik kamu itu udah berat Aidan. Kenapa masih digendong juga." Ucap Bunda Vara pada Aidan karena selalu saja suka menggendong Alula.


"Memang kenapa kalau Kakak gendong Lula? Lula gak berat kok. Ya, kan, Kak?" Protes Alula mengerucutkan bibirnya.


"Kalau gak dipaksa Aidan juga gak mau Bunda." Balas Aidan membuat Alula seketika memberengut.


"Lula tidak berat. Lula ini kan langsing!" Sungutnya memutar tubuhnya yang mungil.


"Hei... Kata-kata dari mana itu?" Timpal Yura yang sudah pulang berjalan mendekat pada mereka.


Alula berkacak pinggang. "Bukankah itu kata-kata dari Kakak ketika sedang berada di depan cermin!" Menatap tajam pada Yura. "Aku ini sudah cantik... Putih... Pintar... Langsing... Ya walau pun sedikit pendek... Tapi kenapa Kak Rey tak jug melirikku, ya..." Alula menirukan suara Yura sambil menggerakkan tubuhnya.


"Hei... Apa yang kau bicarakan..." Yura mendekat pada Alula kemudian membekap mulut mungil adiknya dengan telapak tangannya.


"Lepas... Lepaskan Lula...." Alua memberontak menarik tangan Yura dari mulutnya.


"Ayura... Alula..." Suara bariton yang berasal dari belakang mereka membuat aksi kakak beradik itu terhenti.


"Ayah..." Pekik Ayura dan Alula secara bersamaan.


"Ayah..." Alula berlari ke arah Rangga saat tangan Yura sudah terlepas dari mulutnya. "Kak Yura menyiksa Lula..." Alula memeluk kaki Rangga erat seperti orang ketakutan. Kemudian menatap pada Yura sambil menjulurkan lidahnya.


Rangga membuang nafas bebas di udara. Kemudian menatap pada Yura yang nampak bersungut karna aduan adiknya.


"Sudah-sudah... Alula ayo duduk di sini... Ayah kamu ingin istirahat dulu." Pinta Vara dengan memerintah pada Alula.


Alula kemudian melepaskan pelukan tangannya di kaki Rangga setelah mendapatkan ciuman di keningnya oleh Rangga. Berlari ke arah Vara dan duduk di samping sebelah kanan bundanya. Sedangkan Alea yang berada di samping sebelah kiri Bunda Vara terkekeh geli dengan tingkah adik-adik suaminya.


"Kamu baru pulang, Yura?" Tanya Rangga melihat Yura masih memakai tas kuliahnya di bahunya.


"Pandai banget biar gak dimarahin." Cibir Aidan ke arah Ayura.


"Apa Kakak ada ngomong sesuatu?" Tanya Yura seolah tak begitu mendengar ucapan Aidan.


Aidan mendengus. Kepalanya menggeleng melihat tingkan aneh bin ajaib dua adik perempuannya. Sore itu keluarga keluarga kecil itu melakukan perbincangan santai diikuti gelak tawa dari mereka saat mendengar celotehan Ayura dan Alula yang tiada habisnya.


"Keluarga lo manis banget sih, Aidan." Alea menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang setelah selesai bercengkrama dengan keluarga suaminya.


"Kalau waktu bisa diputar, gue pengen minta adik yang banyak sama Mama dan Papa biar ada temannya di rumah." Alea mengeluh mengingat masa-masa kesendiriaannya saat di rumah.


"Udah... Gak perlu dipikirin." Aidan mengelus kepala Alea yang saat ini sudah berada di pangkuannya.


"Ya gue kan pengen aja punya adik kayak lo." Sungut Alea.


"Lo itu udah tua. Udah gak pantas punya adik lagi."


"Pantas aja kok. Orang teman-teman gue banyak tuh yang baru punya adik bayi." Sangkal Alea.


Aidan tersenyum miring. "Kalau buat lo udah gak pantas. Karna yang pantas itu lo punya anak bukan punya adik lagi." Ucap Aidan menarik gemas hidung mancung Alea.


***


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺