
Aidan menggertakkan giginya menahan kekesalan dan kekecewaan yang memuncak pada Velissa. Setelah merasa cukup mendengar semua kebusukan sahabatnya itu, Aidan pun memilih untuk pergi dari sana.
"Maafin gue, Alea..." Gumam Aidan sungguh merasa bersalah pada istrinya. Bahkan ia dengan teganya meninggalkan Alea hanya demi sahabatnya yang berakal licik itu.
Aidan pun memutuskan untuk mengendarai mobilnya kembali menuju rumah. Setelah sebelumnya mengirimkan pesan pada Leo dan Aksa untuk menggantikannya menemani Velissa tanpa menjelaskan kejadian yang sebenarnya.
Namun di tengah perjalanan Aidan mendapatkan telefon dari orang suruhannya yang ia perintahkan menjaga Alea mengatakan jika saat mereka sampai di rumahnya, rumah itu nampak kosong. Bahkan pengawal yang ingin mengecek kebenarannya pun harus dikejutkan dengan darah yang berserakan di atas lantai.
Rahang Aidan nyaris terjatuh saat mendengar kabar tentang istrinya.
"Cepat cari keberadaan istriku sekarang juga!" Titahnya sedikit meninggi. Aidan menambah laju kecepatan mobilnya. Saat ini ia ingin memastikan jika Alea benar-benar tidak ada di rumah mereka.
Deg
Jantung Aidan berdetak kencang saat melihar dengan mata kepalanya sendiri darah yang berserakan di lantai rumahnya.
"Alea..." Pekik Aidan berusaha memanggil nama istrinya. Hingga deringan telefon menghentikan teriakan Aidan.
"Apa?" Pekik Aidan saat mengetahui jika saat ini istrinya tengah berada di rumah sakit.
Tanpa membuang waktu, Aidan pun segera bergegas keluar dari dalam rumahnya untuk menuju alamat rumah sakit yang dikirimkan orang suruhannya.
*
"Bagaimana keadaan anak saya dokter?" Papa Bara segera mencecar dokter yang baru saja menangani Alea. Maudy dan Cika pun mendekat untuk bisa mendengar lebih jelas ucapan dokter.
Dokter muda itu nampak menghela nafas panjang. "Nona Alea mengalami pendarahan. Untung saja beliau cepat dibawa ke sini sehingga kami dapat dengan cepat menghentikan pendarahannya. Dan beruntungnya nona Alea memiliki bayi yang sangat kuat sehingga mereka masih bisa bertahan di rahim ibunya." Terang Dokter.
Papa Bara terhenyak. "Kandungan? Apa maksudnya dokter?" Tanya Papa Bara tak sabar.
"Apa anda belum mengetahui jika saat ini putri anda sedang mengandung?" Tanya Dokter yang dengan cepat dijawab gelengan kepala oleh Papa Bara.
"Benar begitu Cika? Maudy? Apa benar saat ini Alea sedang menyandung?" Tekan Papa Bara.
Cika dan Maudy pun mengangguk membebarkan.
"Saya sudah mengingatkan pada Nona Alea beberapa hari yang lalu agar dapat menahan emosi dan pemikirannya agar hal ini tidak terjadi. Namun sepertinya saat ini Nona Alea begitu tertekan dan terlalu banyak pikiran hingga membuat tubuhnya drop dan akhirnya pingsan." Terang Dokter.
Cika dan Maudy pun semakin merasa marah pada Aidan karena secara tidak langsung Aidan lah yang membuat Alea kepikiran dan akhirnya pendarahan seperti saat ini. Tak lama Papa Bara pun mempertanyakan pada Cika dan Maudy tentang kejadian apa saja yang dialami putrinya hingga seperti ini. Cika dan Maudy pun mau tidak mau menceritakan keseluruhan yang Alea rasakan dua minggu terakhir ini.
"Aidan..." Geram Papa Bara mengepalkan kedua tangannya erat. "Beraninya kau menyakiti putri kesayanganku!" Amuk Papa Bara merasa berang.
Tak lama suara sepatu yang beradu dengan lantai mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara.
"Kak Aidan.." Seru Cika dan Maudy hampir bersamaan.
Papa Bara yang sudah menahan kekesalannya sedari tadi pun tanpa basa basi langsung mendaratkan tamparan keras di pipi menantunya saat Aidan sudah berada di dekatnya.
**/
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺