
"Enggak. Siapa yang cemburu." Elak Alea memalingkan wajahnya ke samping.
Bibir Aidan tertarik ke samping melihat tingkah istrinya.
"Kalau lo cemburu dengan Velissa, gue bisa jauhin dia buat lo."
"Maksud lo? Gue gak mau ya jadi orang yang memutus pertemanan orang lain."
"Ya itu kan kalau lo cemburu atau gak suka gue dekat dengan Velissa." Goda Aidan.
Bibir Alea nampak mengerucut. Sebenarnya ia memang cemburu melihat kedekatan mereka. Namun gengsinya terlalu tinggi untuk mengungkapkannya.
"Eh anak Mama udah datang..." Mama Zaskia buru-buru berhambur memeluk putri sematawayangnya. Mama Zaskia pun beralih memeluk Aidan barang sejenak.
"Papa mana, Ma?" Tanya Alea saat tidak melihat keberadaan Bara di sekitarnya.
"Papa masih ada di kamar. Ayo duduk dulu." Mama Zaskia menuntun anak dan mantunya untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Papa masih lama gak, Ma? Lea udah gak sabar pengen makan ini." Cebik Alea mengelus perutnya yang sudah mulai berbunyi.
"Nah itu Papa dateng..." Ucap Mama Zaskia melihat Papa Bara turun dari tangga.
Senyuman Alea pun terbit tatkala melihat kedatangan sang ayah. Alea pun buru-buru mendekat ke arah Papa Bara.
"Kenapa manja banget sih akhir-akhir ini?" Ucap Papa Bara membenamkan ciuman di kening Alea.
"Lea kan kangen banget bisa ngumpul kaya gini terus sama Mama dan Papa." Ucapnya tersenyum.
Alea pun mengangguk. Pandangannya pun tertuju pada Mama Zaskia. Mama Zaskia yang mengerti arti tatapan putrinya pun segera mengajak mereka untuk makan bersama.
"Pelan-pelan dong, Lea. Gak ada yang mau ngambil makanan lo." Ucap Aidan sedikit berbisik saat melihat Alea makan begitu lahapnya.
Alea pun hanya terkekeh sambil melanjutkan kembali makanannya. Mama Zaskia dan Papa Bara hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah putri mereka.
*
"Udah puas makannya?" Tanya Aidan saat Alea menjatuhkan bokongnya di pinggir ranjang. Setelah makan malam tadi, Alea pun melanjutkan memakan keripik pisang yang dibuat oleh Mama Zaskia. Tak tanggung-tanggung Alea juga meminta Aidan untuk membelikannya martabak jagung dengan alasan ia sangat ingin memakannya sejak beberapa hari yang lalu.
"Udah..." Jawabnya sambil nyengir.
"Sini..." Tunjuk Aidan pada pahanya.
"Apa?" Tanya Alea dengan kening berkerut.
"Duduk sini..." Perintah Aidan menunjuk kembali pahanya.
Dengan sedikit memberengut Alea pun berjalan mendekat pada Aidan dan duduk di paha pria itu. Walau pun sudah sering melakukannya bersama Aidan, namun tetap saja dengan posisi intim seperti ini membuat tubuh Alea menegang. Apa lagi ia dapat melihat dengan jelas setiap pahatan mahakarya tuhan di hadapannya saat ini. Hembusan nafas Aidan yang berbau mint itu juga tak luput dari indera penciumannya.
Aidan dan Alea saling bertatap mata satu sama lain. Entah siapa yang memulai, kini kedua bibir mereka sudah beradu satu sama lain. Ciuman yang awalnya lembut itu mulai memanas saat lidah Aidan mulai menerobos masuk mengabsen setiap inci yang ada di dalam rongga mulut Alea. Bukan hanya lidahnya saja yang bekerja. Karna saat ini tangan Aidan sudah mulai menjalar menyelip ke dalam kaos yang dikenakan Alea mencari sesuatu sebagai pegangannya. Suasana di dalam kamar pun mulai memanas akibat sentuhan demi sentuhan yang Aidan berikan pada Alea.
***