
Aidan merebahkan tubuh Alea di atas ranjang dengan hati-hati. Setelahnya ia pun dengan tergesa-gesa melepas pakaiannya tanpa rasa malu sedikit pun. Sedangkan Alea yang melihat aktivitas Aidan menutup kedua matanya melihat pemandangan tak biasa di depannya saat ini.
"Aidan gue malu..." Ucap Alea menutup wajahnya dentan kedua tangannya.
Aidan yang sudah terbakar api gairah tak lagi mendengarkan ucapan Alea. Dengan sigap ia pun mulai melucuti satu per satu pakaian tipis yang melekat di tubuh Alea hingga kini mereka sama-sama dalam keadaan polos.
"Aaa..." Pekik Alea ketika melihat sesuatu yang sudah menegang di tubuh Aidan.
Aidan kembali memberikan rangsangan-rangsangan yang membuat Alea terbawa suasana. Karena sudah tidak bisa lagi menahan hasratnya yang sudah di ubun-ubun Aidan pun dengan kasar menerobos sesuatu yang dijaga Alea selama ini hingga membuat wanita itu terpekik dan menangis kesakitan.
"Sakit..." Lirih Alea dengan air mata mengalir di sudut matanya.
"Maafin gue. Tapi setelah ini akan berganti rasa nikmat." Aidan pun kembali memompa tubuhnya. Rasa nikmat yang baru pertama kali dirasakannya membuat Aidan terus menghujami Alea. Apa lagi Aidan sadar jika dosis obat itu sangat tinggi. Membuat Aidan tak bisa menghentikan aktivitasnya.
Cukup lama kedua insan terbakar api gairah itu melakukan aktivitas panasa mereka. Merasa efek obat itu sudah mulai menghilang, Aidan pun dengan cepat mengakhiri percintaan mereka. Nafas keduanya tersengal-sengal. Aidan mengelap keringat yang bercucuran di wajah Alea dengan jemarinya.
"Maafin gue. Pasti tadi sangat sakit." Ucapnya mengecup kening Alea.
Aidan memandang lekat wajah yang kini sudah tertidur lelap di dadanya. Aidan akui jika istrinya itu memang cantik luar dalam. Aidan tidak menyangka jika Alea memiliki tubuh yang begitu seksi di usinya yang bahkan belum menginjak 20 tahun. Merasa tubuhnya sudah lelah Aidan pun mengecup kembali kening Alea dan ikut terbang ke alam mimpi sambil memeluk erat tubuh Alea.
*
Sinar matahari yang masuk dari celah-celah jendela mengganggu Aidan dari tidurnya yang baru terasa sebentar. Mata Aidan menyipit kala sinar mentari itu mengenai wajahnya. Pandangannya kini tertuju pada wanita yang masih tidur begitu lelap menjadikan lengan kirinya sebagai bantalan.
Secara perlahan Aidan menyingkirkan kepala Alea dari lengannya secara perlahan agar tak membangunkan istrinya yang masih berkelana di alam mimpi. Aidan meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Ringisan kecil keluar dari mulutnya kala merasakan sakit pada bahunya.
Aidan sedikit menyunggingkan senyuman saat mengingat jika bahunya dijadikan Alea sebagai pelampiasan rasa sakit yang dirasakan wanita itu untuk pertama kalinya. Aidan kembali membungkus tubuh Alea saat pergerakan Alea membuat selimut yang membungkus tubuhnya sedikit turun dan menampakkan sesuatu yang menggoda iman Aidan di sana. Aidan menggeleng menghilangkan pikiran kotornya. Ia tidak ingin kembali mengikuti hawa nafsunya yang tidak pernah habis itu mengingat semalaman penuh ia menggempur istrinya itu tanpa ampun.
Setelah memastikan Alea kembali tidur dengan nyaman, Aidan pun melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi setelah sebelumnya mengumpulkan pakaian mereka yang berserakan di atas lantai.
*