
"Kalian kemana sih tadi malam? Kok gue ditinggal gitu aja di sana? Kalau gue kenapa-napa di sana gimana?" Ucap Velissa mencoba untuk tenang. Ia ingin memastikan bagaimana efek dari obat yang sudah diminum Aidan dan bagaimana akhirnya Aidan bisa terlepas dari pengaruh obat itu.
"Sorry banget ya, Vel. Kita-kita tadi malam langsung pergi nganterin Aidan balik ke rumahnya karna Aidan gak enak badan. Lo sih kelamaan di kamar mandi." Elak Aksa nyengir.
Velissa nampak berpikir barang sesaat. Apa mungkin efek obat itu tidak berpengaruh pada tubuh Aidan? Pikirnya ragu.
Namun di relung hatinya Velissa sangat takut jika ulah nekatnya tadi malam akan ketahuan dan merusak persahabatan mereka. Velissa pun kembali melanjutkan makannya dalam diam.
"Gue boleh gabung?" Ucap Kenzo secara tiba-tiba sudah berada di meja Alea, Cika dan Maudy.
"Boleh-boleh. Gabung aja kali. Kebetulan masih ada kursi kosong." Ucap Cika seraya menggeser kursinya.
Kenzo pun tersenyum lebar. Kini ia sudah duduk di antara Alea dan Cika.
"BTW lo keren banget kemarin!" Ucap Maudy pada Kenzo.
"Biasa aja. Buktinya gue kalah."
"Alah... Juara dua lo bilang kalah? Itu udah keren banget tau!" Timpal Cika.
Kenzo hanya tersenyum kecil.
"Bibir lo kenapa?" Tanya Kenzo pada Alea melihat bibir wanita itu sedikit membengkak.
"Bibir gue?"
Kenzo mengangguk.
"Emang bibir gue kenapa?" Meraba bibirnya.
"Bibir lo kayak bengkak gitu."
"Ohh..." Alea manggut-manggut.
"Habis digigit semut tadi malam." Ucap Alea dengan suara sedikit keras.
"Uhuk..." Aidan yang sedikit mendengar ucapan Alea tiba-tiba tersedak.
Alea sedikit menyunggingkan senyuman melihat reaksi Aidan.
Alea mengangguk.
Alea pun kembali menikmati semangkok bakso di hadapannya. Sedangkan Kenzo nampak berpikir keras. Jawaban Alea termasuk tidak masuk akal melihat adanya bekas gigitan di bibir Alea cukup besar. Namun mengingat Alea tidak memiliki seorang kekasih dari info yang di dapatkannya, Kenzo menepis pikiran buruknya.
"Lo denger Alea ngomong apa?" Tanya Aksa pada Leo.
"Denger lah gue. Orang ngomongnya kenceng banget."
"Apa lo yakin dengan omongan cewek itu?"
"Enggak lah. Paling juga habis sama cowoknya."
"Dianya aja yang murahan." Timpal Velissa tiba-tiba.
"Maksud lo apa?" Tanya Aksa. Sedangkan Aidan sudah mengepalkan tangannya di bawah meja.
"Ya lo lihat aja dia. Penampilannya dan gaya hidupnya. Sudah pastilah Alea itu cewe gak bener. Pasti juga tadi malam dia habis ngelakuin hal gak bener sama cowoknya. Tadi gue juga lihat jalannya agak aneh." Cibir Velissa.
Aksa dan Leo saling pandang. Mereka tidak menyangka jika Velissa yang selama ini mereka kenal lembut berkata sejahat itu. Walau pun jika perkataannya itu benar.
Velissa yang menyadari reaksi sahabatnya pun kembali angkat bicara. "Gue ngomong kaya gini tuh agar kalian gak salah pilih aja dalam memilih pasangan." Elaknya.
Aksa den Leo mengangguk saja. Mereka memang pernah beberapa kali melihat Alea berpakaian sedikit minim saat di luar kampus. Namun jika di kampus, pakaian Alea masih tergolong tertutup.
Aidan nampak mengetatkan rahangnya mendengar ucapan Velissa yang terkesan menjelekkan istrinya. Seharusnya Aidan lah orang yang sangat mengetahui bagaimana istrinya itu luar dalam. Apa lagi Aidan sangat tahu jika istrinya itu masih suci saat ia sentuh.
***
Sudah berikan dukungan belum hari ini
Like
Komen
Dan votenya:)