Oh My Introvert Husband

Oh My Introvert Husband
Kewajiban sebagai istri



Pagi-pagi sekali Aidan sudah bangun dari tidurnya karena hari ini adalah keberangkatan pratikum ke luar kota. Pandangan Aidan terjatuh pada Alea yang kini sedang merapikan kembali barang-barang yang sudah disiapkan wanita itu tadi malam untuk ia bawa nanti.


"Lo udah bangun?" Tanya Alea tanpa mengalihkan pandangannya dari barang-barang di depannya.


"Udah. Kenapa di keluarin lagi barang-barangnya?" Tanya Aidan merasa heran.


"Gue lupa masukin vitamin dan beberapa obat-obatan untuk lo di sana nanti. Sekalian ngecek mana tau ada yang ketinggalan." Ucap Alea.


"Thank's ya udah nyiapin barang-barang gue." Aidan mengelus kepala Alea saat wanita itu sudah selesai membereskan barang-barang yang akan ia bawa.


"Udah kewajiban gue kali." Ucap Alea tersenyum.


"Mau jadi istri yang baik nih ceritanya?" Goda Aidan mengacak rambut Alea.


"Ya iyalah. Biar suami gue gak mau digebet orang." Seloroh Alea.


"Takut banget ya suaminya diambil orang?" Goda Aidan lagi.


"Ish... Apa-apaan sih!" Gerutu Alea karena Aidan menarik hidungnya di akhir ucapannya.


Aidan tertawa.


"Mandi gih sana. Nanti lo ketinggalan bus lagi." Alea bergegas mengambilkan handuk untuk Aidan.


Aidan menatap tubuh Alea yang begitu sigap menyiapkan keperluan untuknya. Rasanya ada yang menggelitik di relung hatinya melihat sikap Alea yang sudah sepenuhnya menyerahkan dirinya sebagai istri yang baik untuknya.


"Lo gak ikutan mandi?' Tawar Aidan menaikkan sebelah alis matanya saat Alea memberikan selembar handuk di tangannya.


"Enggak! Lagi pula gue tau apa yang ada di pikiran mesum lo!" Sungut Alea. Kemudian mendorong tubuh Aidan untuk masuk ke dalam kamar mandi.


Aidan terkekeh geli melihat tingkah istri bar-barnya itu.


*


Suasa di kampus pagi itu sudah cukup ramai oleh kedatangan para mahasiswa yang akan melakukan pratikum ke luar kota hari ini. Aidan keluar dari dalam mobilnya diikuti oleh Alea. Kedatangan mereka pun berhasil menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana.


"Fans-fans lo itu!" Sungut Alea saat para kakak kelasnya menatap sinis ke arahnya.


"Eh tasnya nanti lupa!" Alea bergegas membuka pintu belakang mengambil tas ransel Aidan.


"Biar gue aja. Berat ini." Ucap Aidan mengambil alih tas ranselnya saat Alea susah payah menggendong tas ranselnya.


"Lagian lo masukin apa aja sih ke dalam tas gue." Ucap Aidan merasa heran karena tasnya nampak berisi lebih banyak dari tadi pagi.


"Gue masukin cemilan yang gue masak tadi pagi. Mana tau lo kepalaran nanti di jalan." Ucap Alea dengan polosnya.


Aidan menghela nafas panjang. Dapat ia perkirakan jam berapa Alea bangun untuk mempersiapkan segala keperluannya. "Lain kali gak perlu repot-repot. Gue bisa beli nanti kalau busnya berhenti di jalan." Ucap Aidan mengelus pipi Alea.


"Gak repot kok. Gue seneng kali ngelakuinnya." Balas Alea tersenyum.


"Ehem." Deheman keras dari Leo dan Aksa menghentikan percakapan mereka.


"Romantis banget sih. Sampe gak sadar ini lagi di kampus." Cibir Leo membuat Alea mendelik.


"Sirik banget sih lo!" Cetus Alea menjulurkan lidahnya.


Bukannya marah, Leo justru terkekeh melihat wajah Alea yang begitu lucu di pandangannya. Apa lagi saat ini pipi Alea terlihat lebih berisi dari biasanya. Obrolan ringan mengisi percakapan mereka sembari menunggu arahan untuk berkumpul. Hingga suara seseorang menghentikan percakapan mereka.


"Aidan..."


***


Lanjut lagi gak?


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺