
"Alea... Cepatan sini!!" Ucap Cika melihat Alea yang sedang berjalan ke arah mereka.
"Apaan sih, Cik. Orang gue juga udah di sini!" Gerutu Alea yang merasa malu karena beberapa orang kini menatap tak suka ke arah mereka.
"Liat tuh Kenzo memenangkan pertandingan!" Seru Cika begitu antusias.
Maudy pun mengangguk membenarkan. Bahkan Maudy bertepuk tangan beberapa kali sangking antusiasnya.
"Udah tampan, jago main basket, ketua angkatan lagi. Emang idola banget!" Seru Maudy.
Alea hanya menggeleng melihat tingkah dua sahabatnya. Alea lebih memilih fokus menjatuhkan pandangan pada sosok pria yang kini nampak sedang bersiap-siap untuk melanjuti pertandingan berikutnya.
Melihat tim Aidan yang sudah mulai memasuki lapangan, kehebohan pun tak dapat dihindari lagi. Para penonton terutama kaum wanita terdengar bersorak menyemangati idola mereka. Siapa lagi kalau bukan Aidan.
"Suami lo, Lea!!" Pekik Maudy pada Alea yang langsung mendapatkan gumpalan tisu di mulutnya oleh Cika.
"Lo apa-apaan sih, Cik!" Gerutu Maudy yang merasa jijik dengam tisu di mulutnya walau tisu itu masih baru.
"Lo yang apa-apaan? Ngapain lo pake bilang suami Alea segala!" Ucap Cika. Untuk saja kondisi lapangan masih terdengar heboh sehingga para penonton lainnya tidak terlalu mendengarkan ucapan Maudy.
Maudy pun hanya bisa nyengir menyadari kesalahannya.
"Ya, maaf." Cicitnya terkekeh.
Alea hanya mendengus merespon Cika dan Maudy. Pandangannya kembali menuju pada tim Aidan yang sudah berdiri di tengah lapangan bersama tim lawan. Seketika jantung Alea berdetak begitu cepat tatkala matanya bertabrakan dengan mata elang milik Aidan.
Deg
Deg
Deg
Pertandingan pun dimulai. Kali ini Alea nampak begitu fokus menyaksikan pertandingan. Pandangannya hanya tertuju pada sosok yang lebih tinggi dari yang lainnya tengah menggiring bola menuju gawang.
Kelihaian Aidan mengelabuhi lawan lagi-lagi membuatnya menghasilkan skor. Para penontom kali ini lebih berteriak histeris karena Aidan sudah tiga kali berturut-turut memasukkan bola pada gawang.
"Keren banget gila....!!!" Pekik Cika dan Maudy nyaris bersamaan.
Sorak-sorak penonton wanita yang begitu mengagumi Aidan pun mulai terdengar. Segala pujian dari mereka pun tak luput dari pendengaran Alea. Entah mengapa Alea merasa tidak suka jika ada wanita lain memuji suaminya itu.
"Apa-apaan sih mereka lebay banget!" Gerutu Alea dengan bibir mengerucut. Pandangannya tak lagi menatap kagum pada suaminya yang masih asik pada pertandingan. Kini pandangannya justru menatap sisi para wanita yang sedari tadi tak henti-hentinya menyoraki nama suaminya.
"Lo kenapa, Lea?" Cika menyenggol lengan Alea ketika melihat raut wajah Alea yang sangat masam.
"Gue gapapa." Cetus Alea tanpa mengalihkan pandangan ke arah Cika. Pandangannya masih menatap sinis pada kaum wanita yang seperti tidak ada habisnya menyoraki nama Aidan.
"Lo cemburu?" Goda Cika berbisik di telinga Alea.
"Apaan sih lo?! Cemburu sama siapa coba!" Sungutnya menjauhkan wajah Cika dengan telapak tangannya.
Cika terkekeh mendengar jawaban Alea. Ia tahu, jika sahabatnya itu saat ini sudah sangat dongkol dengan wanita-wanita yang sibuk memuji segala kelebihan Aidan.
"Ya sama pangeran kulkas lo lah." Kelakar Cika.
"Nggak!" Ketus Alea.
"Cemburu bilang aja kali, Lea. Gak ada yang marah juga!" Timpal Maudy seraya terkekeh geli.
"Rese banget sih kalian!" Alea yang sudah mulai jengah dengan sikap sahabatnya memilih beranjak dari kursinya.
***