
Sesuai perkataan Aidan, pagi ini mereka berangkat menuju kampus bersama. Disepanjang perjalanan Alea hanya sibuk memainkan ponselnya yang terus berbunyi. Sesekali helaan nafas Alea terdengar kasar.
Mobil terus melaju hingga tak terasa sudah masuk ke dalam perkarangan kampus. Aidan memarkirkan mobilnya di tempat yang masih kosong. Tubuhnya memiring menatap pada Alea yang masih fokus pada ponselnya.
"Liat apaan sih? Fokus begitu." Cecar Aidan hendak meraih ponsel Alea.
"Gue itu lagi balesin chat teman-teman tau!" Protes Alea masih mempertahankan ponsel di tangannya.
"Lo gak mau turun?" Tanya Aidan merasa jengah.
"Eh." Kedua bola mata Alea membelalak saat mengetahui mereka sudah berada di parkiran kampus.
Aidan menghela nafasnya melihat keterkejutan Alea. Aidan menggeleng kemudian keluar dari dalam mobilnya diikuti Alea.
Alea menarik nafas panjang sebelum tubuhnya benar-benar keluar dari dalam mobil. Dan benar saja. Kedatangan mereka pagi itu disambut oleh beberapa mata wanita yang menatap sinis pada Alea. Kebanyakan mereka masih merasa tidak terima jika idola mereka sudah memiliki seorang kekasih.
"Udah gak usah dipikirin." Ucap Aidan menggenggam tangan Alea.
Sontak perbuatan Aidan membuat Alea semakin terbelalak. Begitu pula para fans Aidan.
Tak ingin mendapatkan penolakan dari istrinya, Aidan pun menarik paksa tangan Alea untuk berjalan menuju kelas.
"Aidan, ih..." Alea memberontak berusaha melepaskan genggaman tangan Aidan. Bukannya melepas, Aidan justru mempererat genggaman tangannya.
Di dalam kelas Aidan kini tengah terjadi keributan kecil antara Velissa, Leo dan Aska.
"Kalian jangan bohongi gue deh. Gue yakin kalian pasti tahu kapan mereka jadian." Desak Velissa lagi. Ia sungguh tak terima saat Aidan mengumbar berita jika ia dan Alea sudah resmi menjadi sepasang kekasih.
"Kita emang gak tau, Velissa." Aksa nampak jengah melihat sikap Velissa yang akhir-akhir ini yang jauh berubah. Begitu lula dengan Leo.
Velissa mendengus kasar. Menjatuhkan tubuhnya di atas kursi dengan kasar.
"Kalian kok ngebiarin Aidan pacaran dengan dia sih? Kalian berdua kan tau gimana bar-barnya cewek itu!" Geram Velissa.
Tak lama Aidan pun masuk ke dalam kelasnya. Velissa yang melihat kedatangan Aidan mencoba memaksakan senyum palsunya.
"Duduk sini, Aidan." Ucap Velissa menunjuk kursi yang masih kosong di sebelahnya.
*
"Gue merasa jadi artis tau gak hari ini." Ucap Alea menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Saat ini mereka tengah berkumpul di rumah Cika setelah selesai perkuliahan hari ini.
Cika dan Maudy kompak terkekeh.
"Bagus dong. Akhirnya lo cepat terkenal di seantero kampus." Celetuk Cika tak menghentikan tawanya.
"Bener banget tuh." Timpal Maudy dengan tawa yang semakin keras.
"Nyebelin banget sih kalian!" Geram Alea. Niatnya yang ingin meluapkan rasa kesalnya sirna begitu saja.
"Lo makin gendutan ya akhir-akhir ini?" Ucap Cika saat memperhatikan perut Alea yang sudah mulai membuncit.
"Eh iya. Gue kok baru sadar." Maudy yang tidur di samping Alea sontak mengulurkan tangannya di perut Alea.
"Bener banget nih. Lo makan apa aja sih kok bisa besar gini." Cika merasa heran.
"Gak ada makan apa-apa. Mungkin karna hati senang, jiwa pun tenang." Ucap Alea asal.
Cika dan Maudy kompak mendengus.
***
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺