Oh My Introvert Husband

Oh My Introvert Husband
OMIH-48



Percakapan empat orang manusia itu terus berlanjut. Satu orang di antara mereka nampaknya tidak menyadari jika ada orang yang menunggunya pulang ke rumah.


"Kemana sih Aidan? Udah jam segini belum pulang juga. Bukannya pertandingannya udah selesai dari tadi." Gerutu Alea menghentakkan kakinya di lantai. Sudah hampir dua jam Alea menunggu kedatangan Aidan untuk makan bersama namun yang ditunggu tak kunjung menampakkan batang hidungnya.


Kruk


Bunyi perut Alea semakin berdemo. Cacing di perutnya sudah meronta meminta makan.


"Duh, sabar ya cacing. Laki gue belum pulang. Kan gak sopan kalau gue makan duluan." Pinta Alea mengelus perutnya.


Jarum jam semakin berputar ke kanan. Akibat terlalu lama menunggu Aidan pulang, mata Alea pun mulai memberat. Sesekali Alea nampak menguap. Bahkan kini air mata nampak keluar di sudut matanya. Sudah tak tahan menahan rasa kantuknya, akhirnya mata Alea pun terpejam. Alea tertidur di atas meja makan dengan menelungkupkan wajah di antara kedua tangannya yang terlipat.


Pukul sepuluh malam suara deru mobil memasuki perkarangan rumah mulai terdengar. Setelah memarkirkan mobilnya di bagasi, Aidan pun melangkahkan kakinya memasuki rumahnya yang tidak terkunci.


Kepala Aidan menggeleng melihat tingkah ceroboh istrinya yang tidak mengunci pintu. Bagaimana jika ada orang yang berniat jahat masuk ke dalam rumahnya, pikirnya. Kaki jenjangnya kini melangkah ke arah dapur. Aidan berniat mengambil air dingin untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering.


Sampainya di dapur Aidan tertegun. Ia melihat sosok bertubuh mungil itu tengah tertidur di atas meja makan dengan mulut yang sedikit terbuka. Melihat beberapa hidangan masakan tertata di atas meja, rasa bersalah menyeruak di dada Aidan. Dua piring nampak masih persih di atas meja.


Aidan tersadar pasti Alea menunggu dirinya pulang untuk makan. Karena mereka sudah terbiasa makan bersama setiap harinya. Aidan merutuki dirinya. Dirinya bahkan sudah sangat kenyang saat ini. Sedangkan istrinya pasti menahan lapar menunggu kedatangannya. Suami macam apa dirinya yang membiarkan sang istri kelaparan sedangkan dirinya enak-enakkan makan di luar sana tanpa memikirkan istrinya?


Tangan Aidan terulur menyibakkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik Alea. Walau pun tidak tega membangunkan wanita itu, namun Aidan tetap melakukannya. Apa lagi istrinya saat ini tengah menahan lapar.


"Lea... Hei... Bangunlah..." Aidan mengguncang tubuh Alea guna membangunkan wanita itu.


Tak lama mata indah milik Alea perlahan terbuka. Lagi-lagi ia mendapatkan wajah tampan suaminya ketika membuka mata.


"Lama banget sih pulangnya? Gak tau apa gue nungguin sampe kelaparan?" Suara Alea terdengar parau.


"Maaf, ya. Gue diajakin teman-teman dulu nongkron di cafe." Jawab Aidan dengan jujur.


"Siapa bilang? Gue masih lapar kok. Tadi gue cuma makan cemilan doang di cafe." Walau pun tak pantas berbohong, tapi Aidan melakukannya. Tidak mungkin ia mengatakan jika sudah sangat kenyang saat ini. Pastilah Alea makin kecewa padanya.


"Beneran?"


Aidan mengangguk membenarkan.


"Ya udah ayo makan. Bukannya lo udah kelaparan?"


Alea dengan cepat menyambar piring di hadapannya. Kemudian mulai mengisi piring dengan nasi.


"Segini cukup?" Tanya Alea pada Aidan.


"Buat gue?"


Alea mengangguk.


Aidan tertegun. Ia tidak menyangka jika Alea akan mengambilkan makanan untuknya. Karena biasanya ia yang akan melakukannya sendiri.


***


Sudah beri dukungan buat hari ini belum?


Like


Komen


Votenya!:)