
"Sebenarnya ini apartemen siapa?" Tanya Alea saat Aidan baru saja kembali dari dapur untuk membersihkan piring bekas makanannya.
"Apartemen gue." Ucap Aidan berjalan ke arah gorden. Aidan pun membuka gorden hingga sinar matahari masuk ke dalam kamar.
"Apartemen lo?" Alea menatap tak percaya. Kemudian ia mencoba bangkit walau pangkal pahanya masih sakit. Wanita itu berjalan mendekati Aidan.
"Iya. Apartemen ini dibeli sejak gue kelas dua SMA."
"Apa? Papa yang beliin?"
Aidan menggeleng. "Gue yang beli. Karna saat itu gue merasa butuh apartemen ini jika gue pulang larut malam."
"Pakai uang lo sendiri." Alea mendongak menatap wajah Aidan yang kini menghadap lurus ke depan.
"Hasil dari kerja gue di perusahaan dan hotel waktu itu."
"Jadi lo udah lama terjun ke dunia bisnis?"
Kali ini Aidan menurunkan pandangan menatap Alea yang sedikit pendek darinya. "Dari kelas satu SMA gue udah turun langsung ke perusahaan. Sekedar untuk bantu Papa dan sekalian belajar bagaimana memimpin perusahaan nantinya."
Percakapan dua insan manusia itu terus berlanjut hingga matahari mulai meninggi.
Karena siang ini Alea ada jadwal kuliah, akhirnya Aidan pun mengantarkan Alea untuk pergi ke kampus menggunakan mobilnya. Sebelumnya mereka sudah pulang ke rumah mereka terlebih dahulu untuk mengambil buku dan tugas kuliah Alea.
"Jadi teman-teman lo udah tau kalau lo udah menikah?" Tanya Alea saat mobil berhenti di lampu merah.
"Udah. Lagi pula gue gak bisa terlalu lama menyembunyikan status gue sama mereka."
"Termasuk Velissa juga tau?" Alea memiringkan badan menghadap Aidan.
"Velissa belum tau."
Wajah Alea seketika nampak murung. Prasangka buruk mulai berdatangan di pikirannya. Hingga sampai di depan kampus Alea masih nampak diam dengan berbagai pikiran buruknya. Aidan yang tidak peka itu pun hanya ikut diam.
"Alea..." Mengguncang tubuh Alea. Akhirnya wanita itu kembali ke alam sadarnya.
"Eh iya." Alea pun menatap sekitar. "Kenapa lo turunin gue di sini? Gimana kalau ada yang liat gue turun dari mobil lo?" Omel Alea.
"Gue gak peduli. Cepat turun atau lo akan terlambat." Tekan Aidan.
Alea pun melirik jam di pergelangan tangannya. Benar saja jika waktu kuliahnya akan dimulai tiga menit lagi. Alea pun dengan cepat menyambar tangan Aidan untuk menyalaminya kemudian buru-buru keluar dari mobil Aidan sambil melihat ke arah sekitar. Pergerakan Alea pun tak luput dari pandangan seseorang yang sedari tadi memperhatikan mobil Aidan dari kejauhan dengan tangan terkepal.
"Alea...!!!" Pekik Cika dan Maudy berbarengan saat melihat Alea masuk ke dalam kelas.
"Kebiasaan banget sih lo ilang gitu aja buat kita panik tau gak?!" Cecar Cika ketika Alea sudah mendaratkan tubuhnya di kursi.
"Lo beneran pulang sama Kak Aidan tadi malam?" Timpal Maudy kemudian.
"Aidan tuh resek banget bawa gue tiba-tiba."
"Tapi perasaan kita gak liat Kak Aidan ada di sana kemarin deh." Ucap Maudy.
Alea pun menceritakan awal mula kejadian tadi malam.
"Jadi Kak Aidan cemburu liat Kenzo nyanyi buat lo tadi malam?"
"Katanya sih begitu."
"Wah, wah.. Perkembangan baik nih!" Ucap Cika berbinar.
"Betul banget. Sepertinya Kak Aidan udah mulai bucin sama lo deh." Goda Maudy.
*