
"Aidan..."
Mendengar namanya dipanggil, Aidan mengalihkan pandangannya pada Velissa yang baru datang dengan membawa koper kecil di tangannya.
"Lo baru datang?" Tanya Aidan yang diangguki oleh Velissa.
"Cerita apaan sih, kayanya seru banget." Ujar Velissa menampilkan senyum manisnya.
"Ini ceritain malam pertamanya Aidan sama—" Leo segera membekap mulut Aksa yang hampir keceplosan.
"Malam pertama?" Velissa nampak terkejut. "Malam pertama Aidan dengan siapa?" Velissa mendekat pada Aksa.
"Aidan kan belum menikah!" Lanjutnya kemudian.
"Ya, malam pertama Aidan dengan istrinya besok lah!" Timpal Leo.
"Dan calon istrinya Aidan besok itu kan gue!" Timpal Alea juga dengan yakin. "Iya kan, sayang?" Ucap Alea mengelus rahang tegas Aidan.
Aidan hanya mengangguk dan menyematkan senyum tipis di bibirnya.
Suara pengumuman yang mengarahkan mereka untuk berkumpul pun memutuskan percakapa mereka. Velissa mendengus karena rasa penasarannya belum terjawab dengan jelas.
Dasar cewek bar-bar! Gerutu Velissa dalam hati menatap tajam pada Alea.
Leo, Aksa dan Velissa pun berjalan lebih dulu menuju lapangan.
"Gue ke lapangan dulu, ya." Pamit Aidan pada Alea.
Kepala Alea mendongak untuk menatap wajah suaminya. "Tapi setelah ngumpul ke sini dulu ya. Ada yang mau gue bilang." Pinta Alea.
Aidan mengangguk. Kemudian beranjak menuju ke lapangan setelah membelai lembur rambut panjang Alea.
Sesuai janjinya, setelah berkumpul di lapangan, Aidan pun menyempatkan untuk menghampiri Alea di parkiran sebelum masuk ke dalam bus.
"Ada apa, hem?" Tanya Aidan melihat wajah Alea yang nampak begitu senang melihat kedatangannya.
"Masuk dulu, yuk." Ucap Alea menuju pada mobilnya.
Aidan mengangguk menurutinya. Aidan pun masuk ke dalam mobil diikuti oleh Alea.
"Emang sepenting apa sih yang mau dibicarain sampe masuk ke mobil segala?" Tanya Aidan menatap pada wajah cantik Alea.
"Aidan, gue—" Alea tak melanjutkan ucapannya. Ia lebih memilih memeluk erat tubuh kekar suaminya.
"Gue pasti bakalan rindu sama lo..." Lirih Alea di dalam pelukan Aidan.
"Cuma tiga hari. Bukan tiga tahun." Kelakarnya mengelus rambut panjang Alea.
"Tapi gue pasti rindu banget. Secara setiap malam ada yang menemani gue tidur. Sekarang gue tidur sendiri." Sungut Alea.
Aidan melepas pelukannya kemudian tertawa.
"Kayaknya udah ada yang mulai cinta nih sama gue." Goda Aidan.
"Ish... Pede banget sih lo!" Gerutu Alea memalingkan wajahnya yang mulai memerah.
Aidan tertawa-tawa. "Gue berangkat dulu. Baik-baik selama gue pergi." Ucap Aidan mengelus tangan Alea.
Alea mengangguk. "Lo juga jangan macam-macam selama di sana." Tegur Alea.
"Gue gak macam-macam kok. Gue cuma satu macam." Balas Aidan membuat Alea menghadiahinya dengan cubitan di perutnya.
"Galak banget sih. Sakit ini..." Aidan mengelus pinggangnya yang perih.
"Lo gak duduk berdua sama Velissa kan di dalam bus?"
"Gue sama Aksa. Udah gak usah mikir yang macam-macam."
Alea mengangguk. Mereka pun kembali berpelukan dan melakukan perpisahan dengan mulai menempelkan bibir satu sama lain. Setelah merasa pasokan oksigennya mulai berkurang, Alea pun menepuk dada Aidan untuk melepaskan ciumannya.
"Gue pergi dulu." Pamit Aidan lagi sembari mengusap bibir Alea yang basah dengan ibu jarinya
Alea tersenyum kemudian mengangguk. "Hati-hati. Jangan lupa kabari gue kalau udah sampe." Pesannya yang diangguki Aidan.
***
Lanjut lagi gak?
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺