Oh My Introvert Husband

Oh My Introvert Husband
OMIH-43



"Begitu juga dengan gue. Kita terlibat di dalam hubungan pernikahan yang sah di mata hukum dan agama. Kita sama-sama berat menerima dalam hal ini. Gue dan lo juga tidak saling mencintai dari awal. Bahkan mungkin lo sudah punya calon pasangan lo sendiri dan terhalang karena adanya gue."


Aidan masih menatap lurus ke depan.


"Lo dengerin gue gak sih?" Geram Alea melihat Aidan yang hanya diam saja.


"Jadi maksud ucapan lo apa?" Kini tubuh Aidan sudah menghadap ke arah Alea.


Deg


Lagi-lagi jantung Alea berdetak di luar batas normal. Wajah Aidan kini begitu dekat dengannya. Berhasil membuat tubuh Alea bergetar karenanya.


"Ya maksud gue itu bagaimana kalau kita membuat kesepakatan."


"Kesepakatan?"


"Ya... Maksud gue bagaimana jika kita membuat kesepakatan untuk tetap melanjutkan pernikahan ini sampai gue tamat kuliah. Jujur aja untuk saat ini gue belum siap menerima status sebagai janda di umur gue yang masih belasan tahun." Cicit Alea.


"Maaf kalau gue terkesan egois. Gue seperti menghambat hubungan lo dengan calon atau kekasih lo. Mungkin juga lo udah ngerencanain kapan lo akan menceraikan gue."


Aidan mendesah menahan gemuruh di dadanya. Istrinya ini memang pandai membuat emosinya meledak.


"Terserah. Gue setuju." Jawabnya. Dari pada meluapkan emosinya, lebih baik Aidan menyetujuinya. Setelah menjawab ucapan Alea, Aidan pun beranjak menuju kamarnya. Istrinya itu memang memiliki pikiran yang begitu pendek.


"Sampai kapan pun gue tidak akan pernah menceraikan lo." Gumam Aidan ketika hendak masuk ke dalam kamarnya.


"Kenapa dia pergi? Apa dia marah karna ucapan gue? Apa omongan gue ada yang salah? Gue kan cuma gak mau dia menceraikan gue di posisi gue masih umur segini!" Gerutu Alea merasa kesal.


Alea pun ikut bangkit dari sofa mengikuti Aidan untuk masuk ke dalam kamar sambil menghentakkan kakinya di lantai.


*


Alea mengangguk membenarkan.


"Gue 'kan cuma minta dia buat kerja sama."


"Alea... Alea... Seharusnya lo gak ngomong kaya gitu sama Kak Aidan. Dan seharusnya lo itu memperjuangkan rumah tangga lo agar tidak dimasuki pelakor. Lo gimana sih!" Seru Maudy menatap geram pada Alea.


"Ya kalau dia gak cinta sama gue dan gue juga gak cinta sama dia gue bisa apa? Rumah tangga seperti apa yang akan gue jalani nantinya tanpa ada cinta di dalamnya." Tukas Alea.


"Lo bisa belajar untuk mencintai Kak Aidan dan membuat dia jatuh cinta sama lo!" Tekan Cika.


"Bener tuh. Kalau gue jadi lo nih ya. Gue gak mau tuh ngelepasin Kak Aidan buat cewe mana pun. Secara Kak Aidan itu bisa dibilang laki-laki sempurna!" Seru Maudy.


"Iya... Sempurna bekunya." Sahut Alea.


"Lo bakal nyesel Lea kalau nyia-nyiain Kak Aidan untuk cewek lain, Alea..." Ucap Cika lagi.


"Duh... Diam deh... Gue jadi bingung." Sungut Alea mengadah ke atas.


"Udahlah tadi diamin gue lagi saat sarapan." Lanjut Alea kemudian.


"Mungkin aja Kak Aidan marah karena ucapan lo." Timpal Maudy.


"Marah karna gue minta dia untuk bertahan sampai gue tamat kuliah?" Tanya Alea.


"Bukan itu, Alea. Mungkin Kak Aidan marah karna lo membahas perceraian dengan dia. Sedangkan dia tidak pernah memikirkan kalimat keramat itu!" Tegas Cika meluruskan.


***