
Dua hari sudah Aidan berada di luar kota. Dan selama itu pula Alea nampak uring-uringan di dalam kamarnya. Pikirannya selalu melayang memikirkan hal yang tidak-tidak dilakukan Aidan di luar sana.
"Aidan kenapa gak balas pesan gue sih!" Sungut Alea menghempaskan ponselnya di atas ranjang.
"Mungkin aja Kak Aidan lagi sibuk, Lea. Buang deh pikiran buruk lo dari kemarin." Ucap Cika yang merasa jengah melihat tingkah Alea.
"Lagian lo kenapa makin sensitif sih makin ke sini. Kayak orang ha—." Maudy menghentikan ucapannya saat Alea tiba-tiba berlari ke kamar mandi.
"Alea..." Pekik Cika dan Maudy secara bersamaan. Mereka pun turun dari ranjang mengejar langkah Alea ke dalam kamar mandi.
"Lo gak apa-apa, Lea?" Ucap Cika memijat tengkuk Alea.
"Gak apa-apa gimana? Lo gak lihat Alea muntah-muntah terus akhir-akhir ini. Pasti dia kenapa-kenapa lah!" Sengit Maudy.
Hoek
Alea kembali memuntahkan isi perutnya. Bahkan makanan yang baru ia makan ikut keluar dari dalam mulutnya.
"Alea lo sebenarnya kenapa sih..." Ucap Cika yang merasa khawatir dengan kondisi sahabatnya.
"Gue selalu mual setiap memikirkan Aidan terlalu lama." Lirih Alea membasuh mulutnya. "Tolongin gue jalan dong. Gue lemes banget ini." Lirih Alea.
Cika dan Maudy pun membantu Alea keluar dari dalam kamar mandi menuju ranjang. Mereka pun membantu merebahkan tubuh Alea yang terasa lemas.
"Lo sejak kapan sering muntah kayak gini?" Ucap Maudy setelah menyelimuti tubuh Alea.
"Udah semingguan ini gue suka mual. Mungkin asam lambung gue kambuh." Ucap Alea. Menutup kedua matanya saat merasa kepalanya terasa sakit.
"Tapi gue juga mual setiap memikirkan Aidan terlalu lama." Lanjutnya kemudian.
"Gue curiga deh sama lo, Lea." Ucap Maudy menelisik tubuh Alea dari atas sampai bawah. "Tubuh lo makin hari makin berisi. Dan lo juga terlihat aneh akhir-akhir ini. Dan baru saja lo muntah-muntah." Maudy mencoba memahami keadaan yang terjadi.
"Jangan-jangan..." Ucap Cika dan Maudy berbarengan.
"Jangan-jangan apa?" Alea yang merasa penasaran pun bangkit untuk duduk walau tubuhnya terasa lemah.
"Apa?! Gu-gue hamil?" Kedua bola mata Alea nyaris keluar dari wadahnya saat mendengar ucapan kedua sahabatnya.
"Sekarang gue tanya. Lo kapan terakhir kali datang bulan?" Selidik Cika.
Alea nampak berpikir. "Gue lupa. Sepertinya udah dua bulan terakhir gue gak datang bulan. Tapi ini hal yang biasa, Cika. Lagi pula gue juga udah beberapa kali kaya gini kan?" Ucap Alea.
"Dua bulan? Wah sepertinya dugaan kita bener nih..." Kepala Maudy menggeleng beberapa kali.
"Kan gue bilang hal ini udah biasa gue alami!" Cetus Alea. Namun di dalam hatinya ia masih cemas jika ia benar-benar hamil.
"Gue yakin seratus persen jika lo beneran hamil, Lea!" Tekan Maudy. "Cik, lo jaga Alea. Gue pergi ke apotek dulu." Maudy buru-buru turun dari ranjang.
"Lo mau ngapain ke apotek?" Tanya Cika yang tidak mengerti.
"Ya buat beli alat tes kehamilan buat Alea lah." Geruru Maudy karna Cika yang tidak paham arah ucapannya.
"Ohh..." Kepala Cika mengangguk.
"Buat apa beli alat tes kehamilan segala sih. Gue ini gak kenapa-kenapa!" Alea berusaha menahan Maudy yang nampak menggebu-gebu.
***
Lanjut lagi gak?
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺