Oh My Introvert Husband

Oh My Introvert Husband
OMIH-37



"Aaa... Dasar kulkas mesum!!" Pekik Alea ketika kesadarannya sudah mulai muncul dan Aidan sudah berlalu dari sana. Alea menutupi wajah dengan kedua tangannya. Ia benar-benar merasa malu saat ini. Ingin sekali ia mengejar Aidan dan menokok kepala suaminya itu dengan wajan. Namun saat mengingat pekerjaannya belum benar-benar selesai, Alea pun mengurungkan niatnya.


Aidan menarik kedua sudut bibirnya. Senyumannya yang jarang ia perlihatkan kepada orang-orang nampak terkembang sempurna mengingat kelakuan istrinya. Walau pun sesuatu nampak berkontraksi di bawah sana ingin segera dituntaskan, Aidan tetap menahannya. Menurutnya sekarang bukanlah waktu yang tepat. Apa lagi melihat sikap istrinya yang pasti akan menolaknya mentah-mentah.


Aidan menyantap makan malamnya dengan begitu lahap. Makin hari masakan istrinya itu makin terasa enak dan cocok di lidahnya. Walau pun tidak seenak buatan Bundanya—Vara.


Alea menatap senang Aidan yang begitu lahap menyantap hasil masakannya. Ada rasa bahagia sendiri di dadanya saat melihat suaminya itu memakan semua hasil masakannya.


Aidan yang merasa ditatap Alea pun mendongak. "Ngapain liatin gue terus? Lo udah mulai tertarik sama gue?" Tanya Aidan dengan gaya khasnya yang selalu datar.


Alea mencibir. "Pede banget lo!" Ketusnya.


Aidan membalas dengan menarik salah satu sudut bibirnya. Membuat Alea yang melihat seolah Aidan tengah mengejeknya.


"Gak sudi gue tertarik sama lo!" Jelas Alea menusukkan garpu dengan kuat ke daging ayam yang ada di piringnya.


"Awas cinta lo sama gue!" Goda Aidan. Entah mengapa sejak bersama Alea lelaki itu mudah mengeluarkan suaranya dan banyak bicara.


"Mimpi aja lo tenggelam ke laut!" Alea mulai sewot. Bibirnya nampak komat-kamit yang terlihat semakin lucu oleh Aidan.


Perdebatan mereka berakhir ketika Aidan tak lagi membalas ucapan Alea. Ia lebih memilih menghabiskan makanannya yang sudah hampir habis.


Tatapan Aidan tak lepas dari wajah Alea yang sedang mengunyah makanannya. Mereka seolah bergantian memperhatikan satu sama lain.


"Jangan lupa beresin." Titah Aidan ketika hendak pergi meninggalkan meja makan.


Alea memberengut. "Gak ada niatan bantuin gue sama sekali banget sih!" Ucapnya bersungut-sungut. Wajahnya sudah sangat masam saat ini.


Aidan menghiraukannya. Ia lebih memilih melanjutkan langkah menuju ruang tamu. Bukannya tidak mau membantu, namun Aidan punya alasan tersendiri untuk itu.


"Huh, capek banget gue..." Alea menghempaskan tubuh lelahnya di sofa samping Aidan duduk.


Kegiatan Aidan yang sedang menyelesaikan laporan yang harus diserahkan besok pagi untuk bahan rapat di perusahaan harus terhenti karena kedatangan Alea. Bahkan Alea menjatuhkan tubuhnya secara kasar di atas sofa membuat Aidan sedikit kaget.


Aidan menatap kesal ke arah Alea sekilas dan kembali melanjutkan kegiatannya.


"Capek banget ngurus suami yang gak ada niat bantuin istrinya sama sekali." Sindir Alea dengan sedikit mengeraskan suaranya. Sedangkan yang disindir hanya acuh saja membuat Alea semakin kesal.


"Memang susah kalau punya suami kaya batu. Terlihat tapi gak bisa bersuara." Sindirnya lagi. "Apa mungkin bisu kali, yah?" Alea masih mengoceh menyindir suaminya. Bahkan ia beberapa kali menguap sambil mengoceh tidak jelas.


Aidan hanya diam mendengarkan suara cempreng istrinya itu. Tak lama kemudian suara cempreng Alea tergantikan dengan bunyi dengkuran halus yang membuat Aidan menghentikan aktivitasnya.


***