
Kepala Aidan menggeleng pelan melihat Alea yang makan seperti orang kesetanan. Alea yang merasa diperhatikan pun melirik ke arah Aidan yang masih menatapnya.
"Kenapa lo?" Tanya Alea tak suka.
Aidan diam. Ia kembali melanjutkan memakan makanannya.
"Dasar kulkas!" Lirih Alea. Kemudian kembali melanjutkan makannya. Ia benar-benar sangat lapar saat ini.
Setelah menyelesaikan makan mereka. Alea dan Aidan pun masuk ke dalam kamar masing-masing. Di dalam kamar Aidan nampak memandang langit-langit kamarnya sambil berpikir bagaimana pernikahan yang akan mereka jalani ke depannya. Melihat sikap Alea yang sangat bar-bar membuat Aidan berpikir keras untuk membimbing istrinya itu.
Sedangkan Alea, kini wanita itu sibuk memilih pakaian tidur yang akan ia kenakan. Lidahnya berdecak beberapa kali karena ia melupakan membawa baju tidur yang biasa ia pakai. Baju tidur yang ia bawa dominan panjang dan Alea merasa tidak nyaman mengenakannya.
"Besok gue harus balik ke rumah buat ambil pakaian tidur yang ketinggalan." Dengusnya.
Setelah lama memilih, akhirnya Alea menemukan satu gaun malam yang terselip diantara lipatan kain lainnya. Tanpa pikir panjang Alea pun mengenakannya. Ia sungguh mengantuk setelah makan tadi. Setelah membalas sebentar pesan teman-temannya di grup, Alea pun memutuskan untuk langsung tidur.
_
Mata Alea mengerjap menyesuaikan sinar matahari yang masuk dari celah-celah jendela. Alea nampak menguap beberapa kali. Matanya masih sangat mengantuk. Tetapi setelah melihat jam di dinding kamarnya Alea pun langsung bangkit untuk segera ke kamar mandi. Karena hari ini ia masuk kuliah pagi.
Setelah selesai bersiap-siap, Alea pun keluar dari dalam kamarnya. Pandangannya sejenak terhenti memperhatikan kamar Aidan yang masih tertutup rapat. "Apa dia belum bangun?" Gumam Alea menerka.
Rasa gengsinya yang terlalu tinggi membuat Alea memutuskan niatnya untuk memastikan apakah Aidan sudah bangun atau tidak. Alea memilih melanjutkan langkahnya menuruni tangga.Tiba di lantai bawah, Alea melihat Aidan sedang duduk di meja makan menikmati sarapan paginya.
"Gue kira lo belum bangun." Ucap Alea sembari menarik salah satu kursi di meja makan.
"Lo pesan makanan lagi?" Tanya Alea sambil mengambil nasi gorengnya.
"Tentu saja. Mulai besok lo harus mulai belajar memasak. Tidak mungkin setiap hari kita terus memesan makanan." Ucap Aidan.
"Kenapa tidak mungkin? Apa lo kekurangan uang untuk membeli makanan? Gue punya uang lebih kok. Jadi lo tenang aja." Ucap Alea berpikir singkat.
Aidan mengeram kesal mendengar ucapan Alea. Ia hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar di udara melampiaskan kekesalannya. "Gue gak butuh uang lo. Apa lo gak malu sama Bunda jika Bunda datang ke sini dan mengetahui jika tiap hari kita membeli makanan?" Tekan Aidan. "Gue udah letakin ATM di atas meja tamu. Lo bisa gunakan ATM itu buat membeli kebutuhan sehari-hari." Lanjutnya. Aidan beranjak dari duduknya. "Gue berangkat dulu. Jangan lupa cuci piring bekas makan nanti." Perintahnya.
Bukannya Aidan menuntut Alea harus pandai dalam memasak. Hanya saja ia tidak ingin istrinya dipandang buruk jika keluarganya mengetahui mereka setiap hari memesan makanan. Walau pun pernikahan mereka diawali dengan kesalahpahaman, tetapi Aidan tetap ingin membimbing istrinya menjadi wanita yang lebih baik.
*
*
*
*
Lanjut? Happy reading!:)
Jangan lupa like, komen, vote dan rate bintang 5 supaya author makin semangat nulisnya. Dukungan teman-teman sangat berarti untuk kinerja jari author dalam menulis😉
Terimakasih sudah membaca karya recehku: