Oh My Introvert Husband

Oh My Introvert Husband
OMIH-42



Aidan memperhatikan Alea yang nampak banyak termenung saat makan malam. Entah apa yang dipikirkan istrinya itu. Bahkan saat ini kedua alis mata Aidan nampak mengkerut melihat Alea yang beberapa kali mendesah. Aidan pun tak luput memperhatikan makanan Alea yang masih utuh tak tersentuh sedikit pun. Sedangkan makanannya sudah hampir habis.


"Sampai kapan lo mau menung terus?" Tanya Aidan yang hampir jengah melihat tingkah Alea. Saat ini makanannya sudah habis. Sedangkan Alea masih utuh belum juga tersentuh.


Alea terhenyak. Ia menatap Aidan dengan wajah masam. Pria itu sudah mengganggu pemikirannya tentang perkataan Cika dan Maudy tadi pagi. Nafas Alea terdengar terbuang. Aidan masih memperhatikan wanita itu. Ia tak bersuara. Namun wajahnya masih menampakkan kekesalan.


Aidan memutuskan untuk tidak bertanya lagi karena Alea tidak menjawab pertanyaannya. Wanita itu mulai memakan makanannya tanpa niat. Bahkan belum habis setengahnya Alea sudah menghentikan makannya.


Melihat tingkah aneh Alea pada makanan membuat Aidan bertambah bingung. Pria itu memilih beranjak dari meja makan. Mungkin Alea merasa tidak nyaman diperhatikan olehnya. Aidan memilih melangkah ke arah ruang tamu. Malam ini ia tidak melakukan pekerjaan apa pun. Ia hanya ingin istirahat dan menenangkan pikiran barang sejenak.


Tak lama Alea menyusul dan duduk di samping Aidan. Aidan sangat yakin jika Alea pasti tidak menghabisi makanannya. Padahal masakan wanita itu sungguh enak malam ini. Entah setan apa yang merasuki ***** makan Alea. Aidan tidak tahu saja jika semua itu karena dirinya.


"Aidan..."


"Hm?" Aidan menoleh.


"Ada yang ingin gue bicarain sama lo." Ucap Alea terbata. Wanita itu nampak gugup.


Aidan memiringkan sedikit tubuhnya untuk bisa leluasa menjangkau wajah Alea. "Lo lagi bicara." Jawabnya.


"His..." Alea mendesah. Suaminya ini memang benar-benar irit bicara dan terkesan datar.


"Bisa lo matiin sebentar film lo?" Pandangan Alea mengarah pada televisi berukuran 50 inch yang sedang menyiarkan pertandingan bola.


Aidan menurutinya tanpa bertanya. Kini televisi itu sudah mati. Keheningan mulai menyelimuti dua insan manusia itu.


"Langsung aja." Ucap Aidan tanpa basa-basi.


"Emh... Gu-gue..." Hish. Alea merutuki lidahnya yang terbata saat berbicara. Bahkan tubuhnya pun ikut bergetar menahan kegugupannya.


Aidan diam. Ia masih menantikan kelanjutan ucapan wanita itu.


Alea menghela nafasnya. Ia harus segera mengungkapkan apa yang dari tadi mengganggu pikirannya.


"Lo jadi mau bicara?" Tanya Aidan pada akhirnya.


"Ya... Gue ingin membicarakan tentang hubungan kita."


Aidan kembali diam menanti kelanjutan ucapan Alea.


"Apa lo berniat menceraikan gue suatu saat nanti?" Alea nampak menggigit bibir bawahnya setelah mengucapkan kalimat yang sedari tadi tersangkut di kerongkongannya.


Mendengar ucapan Alea seketika wajah Aidan nampak memerah. Perceraian. Kata keramat yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya. Bahkan di keluarganya sangat menentang tentang itu. Tradisi keluarganya adalah menikah sekali seumur hidup. Dan itu sudah tersimpan rapat di memori Aidan.


"Kenapa lo bertanya seperti itu?" Tanya Aidan berusaha menyembunyikan kekesalannya.


"Ya gue hanya bertanya saja. Kita ini 'kan menikah karena kesalahpahaman. Bahkan tidak ada cinta di antara kita. Lo juga pasti sangat berat menerima pernikahan ini. Dan mungkin aja saat ini lo udah memikirkan cara untuk mengakhiri pernikahan ini."


Aidan mengeram. Tangannya kini terkepel erat. Namun ia masih mau mendengarkan kelanjutan ucapan Alea.