
"Gue akan menjadi ibu?" Lirih Alea dengan mata berkaca-kaca. "Tapi gue sangat takut mengingat usia gue masih sangat muda. Apa gue bisa menjadi ibu yang baik untuk anak gue nantinya." Alea mengelus perutnya yang masih rata.
"Aidan... Lo kemana sih... Kenapa belum balas pesan gue. Padahal lo udah baca pesan yang gue kirim." Desah Alea kemudian merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Besok Daddy kamu akan pulang. Daddy kamu pasti sangat senang karena kamu sudah hadir di rahim Mommy." Alea tersenyum mengingat Aidan yang selalu berharap agar ia segera hamil.
Karena sudah lelah dengan aktivitasnya seharian ini, Alea pun memutuskan untuk tidur. Besok pagi ia akan pergi ke dokter kandungan untuk memeriksa kondisi janinnya.
*
"Velissa gimana?" Tanya Aksa yang baru saja datang ke rumah sakit diikuti Leo.
Sejak siang hari tadi Aidan disibukkan untuk mengurus Velissa yang tiba-tiba saja pingsan saat mereka sedang melakukan kunjungan ke salah satu pabrik produk kecantikan.
"Velissa demam tinggi. Dan juga karena penyakit asam lambungnya kambuh membuat dia pingsan. Saat ini dia masih istirahat setelah diberikan obat oleh perawat." Jelas Aidan.
"Tumben banget Velissa pingsan gitu. Biasanya dia wanita yang kuat." Ucap Aksa merasa heran.
"Ya namanya manusia punya batas ketahanan tubuh masing-masing!" Timpal Leo memukul punda Aksa.
Aksa menggaruk keningnya yang tak gatal. "Iya juga sih..." Ucapnya.
"Gue sepertinya harus kembali ke Jakarta hari ini." Ucap Aidan membuat Aksa dan Leo menatap ke arahnya.
"Kenapa? Apa lo ada urusan mendadak?" Tanya Aksa.
Kepala Aidan menggeleng. "Bukan. Tapi Velisaa meminta untuk dirawat di rumah sakit yang ada di Jakarta. Lagi pula kita di sini cuma sampai besok." Jelas Aidan.
"Lo mau balik bareng Velissa?" Tanya Leo memastikan.
Aidan mengangguk. "Gue gak tega lihat dia sendiri. Lagi pula nyokap dan bokapnya masih berada di luar negeri saat ini. Dan baru bisa kembali satu bulan lagi."
"Apa lo yakin? Gimana kalau Alea tau? Bisa ribet nanti urusannya." Tekan Leo.
"Kalau menurut lo itu yang terbaik, ya, gak masalah. Tapi jika jalan yang lo pilih membuat Alea salah paham jangan salahkan kita. Karna kita udah ingatin lo sejak awal." Tekan Leo lagi.
Aidan tak lagi mengindahkan perkataan Leo. Karena tiba-tiba suara Velissa terdengar memanggil namanya.
"Aidan... Aidan... Lo bakal kena ke dalam masalah besar jika lo masih seperti ini." Kepala Leo menggeleng beberapa kali.
"Dari dulu Aidan itu gak bisa kalau gak peduli sama Velissa. Apalagi Velissa sakit seperti sekarang. Gue yakin Aidan khawatir banget. Walau dia masih ragu jika Alea dapat memahaminya nantinya." Timpal Aksa yang dapat membaca raut wajah Aidan.
"Gue harap hal ini gak akan menjadi bumerang buat Aidan nantinya." Ucap Leo.
Aksa mengangguk menyetujui. "Bahkan Aidan tidak sadar jika sikap dia yang seperti ini yang membuat Velissa menjadi salah paham akan sifatnya." Tambah Aksa.
Aksa dan Leo pun menghela nafas panjang.
Sedangkan di dalam ruangan rawat Velissa, Aidan nampak menyuapi Velissa yang tidak ingin memakan makanannya.
**
Lanjut lagi gak?
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺