
"Turunin gue, Aidan!" Pekik Alea meronta di dalam gendongan Aidan.
Akhirnya karena masih menyadari jika mereka berada di lingkungan kampus, Aidan pun menurunkan Alea saat sudah berada di depan kantin.
"Ikut gue!" Titahnya memegang kuat pergelangan tangan Alea.
Mau tidak mau Alea pun mengikuti langkah Aidan karena ia tidak mau menjadi perhatian mahasiswa lain seperti saat di kantin tadi.
"Lo apa-apaan sih!" Geram Alea saat Aidan sudah masuk ke dalam mobil.
Aidan hanya diam. Namun Alea dapat melihat wajah Aidan yang menahan amarah saat ini.
Di sepanjang perjalanan hanya ada kesunyian di dalam mobil yang dikemudikan Aidan. Hingga empat puluh menit kemudian mobil yang dibawa Aidan pun sampai di depan rumah mereka.
Alea yang sangat merasa marah dengan perlakuan Aidan segera turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam rumah mereka.
Aidan pun turut turun dengan cepat untuk mengikuti langkah Alea.
"Lepasin tangan gue!" Hardik Alea menghempaskan tangan Aidan yang mencekal pergelangan tangannya saat ia ingin menaiki tangga.
Aidan tak menurutinya. Namun pandangannya menatap tajam pada istrinya.
"Apa seperti ini sikap lo jika suami lo sedang berada jauh dari lo, huh?!" Maki Aidan yang sudah merasa sangat marah mengingat tingkah Alea di kantin tadi.
"Emangnya gue kenapa?" Tanya Alea yang tak kalah menatap tajam pada suaminya.
"Gue? Gue kegatalan?" Alea menunjuk dadanya dengan satu tangannya yang bebas.
"Lalu apa namanya seorang wanita yang sudah bersuami namun dengan mudahnya membiarkan pria lain menyentuh wajahnya kalau tidak kegatalan?!" Maki Aidan lagi.
"Jaga ucapan lo Aidan!" Ucap Alea sedikit terbata. Alea menggigit bibir bawahnya untuk menahan sekuat mungkin tangisannya agar tidak keluar.
"Lo harusnya sadar jika lo sudah bersuami, Alea. Dan gue udah pernah bilang jika apa yang udah menjadi punya gue, gak akan gue biarin disentuh orang lain sedikit pun!" Tekan Aidan.
Alea menatap Aidan dengan senyuman sinis. "Lalu apa bedanya gue dengan lo?" Akhirnya tangisan yang Alea tahan akhirnya pecah juga. "Apa bedanya gue dengan suami gue yang lebih mementingkan orang lain dari pada istrinya sendiri? Bahkan waktu suami gue gak pernah ada saat gue butuhin!" Maki Alea lagi. Air matanya semakin deras membasahi pipi mulusnya.
Aidan terhenyak. Menatap pada wajah istrinya yang sudah berlinang air mata. Ingin sekali ia menghapus air mata yang membasahi pipi istrinya, namun egonya yang terlalu tinggi membuat Aidan urung melakukannya.
"Jawab gue, Aidan... Jawab!!" Jerit Alea mencengkram erat kemeja yang dikenakan Aidan.
"Lo benar... Gue ini memang wanita kegatalan dan gue juga wanita murahan!" Jeritan Alea semakin menjadi-jadi. "Gue bahkan rela menyerahkan tubuh gue pada pria lain saat ini karena suami gue gak bisa memenuhi kebutuhan biologis gue sebagai istrinya!" Lanjut Alea mengusap kasar air mata di pipinya.
Tangan Aidan hampir terangkat. Namun Aidan sebisa mungkin menahannya.
"Lo mau nampar gue? Tampar gue sekarang Aidan... Tampar...!!" Alea mengarahkan tangan Aidan mendekat pada wajahnya. Namun tenaganya yang kalah kuat dari Aidan membuat tangan Aidan masih bertahan di posisinya.
***