
"Eh, bukannya itu Kak Aidan?" Ucap Maudy menunjuk pada Aidan yang kini sedang berbincang dengan para wasit.
"Eh, iya! Kak Aidan juga ikut tanding?" Ucap Cika melihat Aidan yang juga mengenakan pakaian basket saat ini.
Alea pun sontak melihat pada arah pandangan Cika dan Maudy. Dan benar saja. Ia bisa melihat jika kini Aidan tengah berbincang dengan para wasit menggunakan seragam basket.
"Gila. Gila. Gila. Beneran tuh Kak Aidan juga ikut tanding?" Cika nampak tak percaya dengan pandangan di hadapannya.
"Liat aja pakaiannya. Jelas lah dia ikut tanding juga!" Timpal Maudy.
"Keren banget tau gak!"
"Bener banget tuh!"
Cika dan Maudy pun sibuk memuji Aidan dan melupakan seketika jika Alea adalah istri sah dari pria yang mereka puji.
Sedangkan Alea hanya melongos melihat tingkah dua sahabatnya. Namun jauh dari dalam lubuh hatinya Alea akui, jika suaminya itu terlihat begitu tampan dengan seragamnya.
Pertandingan babak pertama pun dimulai. Tim Kenzo kini nampak bertanding dengan tim dari pihak lawan dari fakultas lain. Cika dan Maudy nampak antusias melihat pertandingan yang semakin sengit. Sedangkan Alea kini sudah nampak bosan. Bahkan ia tidak menyadari jika Kenzo sedari tadi selalu melihat ke arahnya sambil mendribble bola.
Gol!!
Alea sontak menutup kedua telinganya ketika mendengat teriakan penonton yang begitu antusias ketika Kenzo lagi-lagi memasukkan bola ke dalam gawang.
"Lo mau kemana?" Tanya Cika melihat Alea yang bangkit dari kursinya.
"Mau ke toilet. Lo mau ikut?"
"Kali ini gue ogah! Mending gue liatin Kenzo tanding."
Alea mencebik. "Sialan lo!" Umpatnya. Karena biasanya dua sahabatnya itu selalu antusias untuk menemaninya.
Cika terkekeh. "Temenin Alea gih, Dy!" Perintah Cika pada Maudy.
Sebelum Maudy angkat bicara, Alea lebih dulu menimpalinya. "Gue bisa sendiri! Lo pikir gue anak kecil yang selalu harus ditemani." Gerutunya.
Cika terkekeh. "Kalau ada apa-apa hubungi gue dan Maudy!" Ucap Cika kembali terkekeh namun penuh keseriusan.
Alea pun berlalu dari hadapan Cika dan Maudy.
"Huh, seger banget." Gumam Alea membasuh kembali wajahnya di westafel. Tanpa menambahkan kembali riasan di wajahnya, Alea pun keluar dari dalam kamar mandi setelah merasa urusannya sudah selesai.
Buk
Alea yang sibuk dengan ponsel di tangannya tidak sengaja menabrak tubuh seorang pria yang ingin masuk ke dalam kamar mandi.
"Aduh... Sakit banget pantat gue!" Sungut Alea karena pantatnya berada dengan lantai kamar mandi.
"Lo kalau jalan pake mata dong!" Umpat Alea tanpa melihat lawan bicaranya. Saat ini ia hanya fokus mengelus pantatnya yang terasa sakit.
Alea pun mendongak melihat uluran tangan yang kini sudah berada di depan wajahnya.
"Gak perlu!" Cetusnya tanpa meliat wajah pria yang kini sedang menunduk menatapnya. "Gak usah sok ba—" Ucapan Alea terhenti ketika melihat siapakah gerangan pemilik tangan tersebut.
"Elo...!!" Pekik Alea karena ternyata Aidan lah pemilik tangan kekar itu.
Alea pun bangkit dengan sendirinya tanpa menerima uluran tangan Aidan.
"Kenapa sih gue selalu nabrak tiap ketemu sama lo!" Gerutu Alea mengerucutkan bibirnya.
"Kalau lo lagi jalan. Fokuslah pada jalan yang lo tuju. Bukan fokus sama ponsel!" Ucap Aidan penuh penekanan.
"Lonya aja yang jalan gak pake mata! Makanya lo selalu nabrak gue...!!" Ucapnya membela diri.
Aidan hanya menggeleng melihat tingkah bar-bar istrinya yang tidak mau disalahkan. Aidan pun berlalu begitu saja masuk ke dalam kamar mandi dibandingkan harus mendengar kembali suara cempreng umpatan istrinya itu.
"Dasar kulkas nyebelin lo!!" Pekik Alea melihat Aidan mebinggalkannya begitu saja.
***
Happy reading!:)
Jangan lupa like, komen, vote dan rate bintang 5 supaya author makin semangat nulisnya. Dukungan teman-teman sangat berarti untuk kinerja jari author dalam menulis😉