
Alea mengedarkan pandangan dengan mata yang masih berat saat bangun dari tidurnya dan tidak mendapatkan Aidan berada disisinya.
"Aidan kemana sih?" Gumamnya kemudian duduk dari pembaringan. Melihat tidak adanya tanda-tanda keberadaan Aidan, Alea pun memutuskan untuk membersihkan diri ke kamar mandi.
Saat sedang mengguyur tubuhnya di bawah shower, Alea dikejutkan dengan tangan seseorang melingkar di tubuhnya. Merasa terkejut, Alea pun reflek membalikkan tubuhnya.
"Aidan..." Ucap Alea melihat Aidan yang kini sudah sama polos dengan dirinya.
"Kesana ih... Gue kan malu..." Gerutu Alea dengan wajah yang sudah merona.
Aidan terkekeh. "Ngapain malu? Bahkan tadi malam lo sangat agresif sa—" Ucapan Aidan terhenti berganti dengan ringisan di bibirnya karena cubitan tangan Alea sudah mendarat di pinggangnya.
"Aw..."
"Makanya jangan ngeselin." Sungut Alea.
Aidan kembali terkekeh.
"Mandi bareng, ya?" Tawarnya.
Alea nampak berpikir. Namun belum sempat ia menjawab, tubuhnya sudah melayang di udara karna Aidan menggendongnya menuju bathup.
Acara mandi yang berlangsung selama satu jam lebih itu pun akhirnya selesai. Alea keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah masam. Sedangkan Aidan keluar dengan rona bahagia di wajahnya. Bagaimana wajah Alea tidak masam, karena Aidan bukan hanya mengajaknya mandi bersama melainkan juga berkeringat bersama.
"Lo mau kemana? Bukannya sekarang hari libur?" Tanya Alea melihat Aidan sudah rapi dengan setelan kaos hitam dan celana jeans hitamnya.
"Gue ada janji dengan Leo dan Aksa hari ini. Mungkin gue juga pulang malam."
"Jadi lo ninggalin gue sendiri di rumah?" Sungut Alea.
"Lo bisa bawa Cika dan Maudy ke sini jika lo bosan."
Kedua mata Alea membulat. "Lo—"
"Ya gue udah tau kalau lo udah memberitahu Cika dan Maudy tentang pernikahan kita."
"Dan teman-teman lo?"
Entah mengapa mendengar Aidan belum memberitahu tentang pernikahan mereka pada teman-temannya membuat Alea sedikit bersedih.
Aidan yang tidak memperhatikan raut wajah Alea yang berubah itu pun fokus memakai jaket levis di tubuhnya.
"Gue berangkat." Ucap Aidan pada Alea yang masih mematuh melihatnya.
"Hati-hati." Ucap Alea memaksakan senyumnya.
Setelah mengecup kening Alea, Aidan pun berlalu keluar dari dalam kamar. Saat ini ia sudah tidak sabar untuk sampai di apartemen Leo untuk mengetahui siapakah dalang yang sudah memasukkan obat ke dalam minumannya tempo hari.
Aidan memasuki apartemen Leo diikuti Aksa di belakangnya. Di ruang tamu Leo sudah duduk bersama dengan seorang pria pemilik klab yang kemarin mereka kunjungi.
"Duduk dulu." Ucap Leo pada Aidan yg kini menatap tajam pada pria yang duduk di samping Leo.
Aidan pun duduk berdampingan dengan Aksa.
"Jadi siapa orangnya?" Tanya Aidan tanpa basa-basi.
"Gue takut lo gak akan percaya jika gue mengatakan ini." Ucap Leo sedikit ragu.
"Jadi?" Aidan menatap Leo dengan tatapan menuntut.
"Velissa." Ucap Leo pada akhirnya.
Aidan nampak mengegang. Tangannya mengusap kasar wajah tampannya. Tubuhnya ia sandarkan di sofa sambil menarik napas panjang.
"Gue juga gak nyangka jika Velissa menggunakan cara licik untuk menjerat elo menjadi miliknya."
"Bukannya udah dari lama gue bilangin kalau Velissa itu menyimpan rasa sama lo. Lo aja yang gak pernah dengerin omongan kita." Timpal Aksa.
"Sepertinya Velissa melakukan ini karena dia terlalu mencintai lo dan tak ingin lo jatuh ke pelukan cewek lain."
***