
"Berat banget..." Keluh Alea membawa dua kantong plastik besar berisi belanjaannya keluar dari dalam mobil. Dengan susah payah Alea membawa belanjaannya masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di dapur, Alea pun menata barang-barang belanjaannya di dalam kulkas. "Banyak juga yang gue beli." Gumamnya melihat isi kulkas yang sudah hampir penuh.
Merasa tidak nyaman dengan pakaian yang dikenakannya, Alea pun memutuskan untuk mengganti bajunya dengan baju yang lebih santai untuk di rumah.
Alea menatap satu persatu bahan-bahan masakan di depannya. Sebagai pemula, ia ingin mencoba membuat ikan goreng cabe merah, udang goreng dan sayur bening yang sudah ia pelajari lewat aplikasi yout*b.
Aidan yang baru saja sampai di dalam rumah nampak menyerngitkan keningnya mendengar suara gaduh dari arah dapur. Segera ia langkahkan kakinya ke arah dapur untuk melihat apa yang terjadi di dalam sana.
Aidan memijat pangkal hidungnya melihat Alea yang tengah menangis sambil mengupas bawang. Jangan lupakan dapur yang sudah seperti kapal pecah dengan barang-barang yang berserakan di sekitarnya.
"Hiks... Hiks... Pedih banget mata gue tau gak!" Isakan tangis Alea membuat Aidan yang mendengarnya mengela nafas panjang. Bahkan kini Alea sudah memakai kaca mata anti radiasi miliknya yang biasa ia pakai jika sedang menggunakan komputernya. Jangan tanyakan bagaimana Alea mendapatkannya. Tentu saja Aidan mengetahuinya, karena ia meninggalkan kaca mata itu di atas meja sofa tadi malam.
"Udah selesai nangisnya?" Tanya Aidan datar ketika Alea sudah selesai mengupas bawang terakhir.
Alea yang tidak menyadari keberadaan Aidan pun sontak terlonjak kaget. "Lo bisa pakai salam dulu gak sih datang ke sini! Bikin jantungan aja!" Cecar Alea menatap Aidan tajam.
"Lo aja yang terlalu serius ngupasin bawang sambil nangis hingga gak tau gue udah di sini dari tadi!" Ledek Aidan. Jangan lupakan wajahnya yang datar dan dingin itu semakin membuat Alea kesal ketika melihatnya.
"Mata gue pedih tau karna ni bawang!" Sungut Alea. "Lo gak liat perjungan gue buat belajar masak. Gak ngehargain banget sih lo pake ledek gue segala!" Muka Alea berubah masam.
Aidan memperhatikan satu piring ikan goreng dan satu piring udang goreng yang sudah tersaji di atas meja makan. "Lo buka bawang buat masak apa lagi?" Tanya Aidan dengan dahi mengkerut. Karena menurutnya masakan yang sudah selesai dimasak Alea sudah cukup banyak untuk dimakan hanya dua orang.
Aidan diam. Kemudian kembali memperhatikan kekacauan yang Alea buat. "Pokoknya gue gak mau tau. Lo bersihkan dapur sampe bersih dari kekacauan yang lo perbuat!" Perintah Aidan kemudian berlalu dari dapur.
"Tanpa lo suruh gue juga mau beresin!" Pekik Alea pada Aidan yang sudah hilang dari pandangannya. Alea pun bergegas menyelesaikan masakan terakhirnya. Untuk pemula seperti dirinya, Alea cukup cekatan dalam memahami dan melakukan pekerjaannya walau hanya melihat tutorial dari yout*b.
Di dalam kamarnya Aidan menghempaskan tubuh lelahnya di atas ranjang. Sudut bibirnya nampak tertarik mengingat Alea yang mau belajar memasak. Walau pun sikap Alea sangat bar-bar, namun wanita itu masih mau mendengarkan ucapannya.
Sedangkan Alea, setelah selesai memasak dan membereskan kekacauan yang ia perbuat. Alea memutuskan untuk membersihkan tubuhnya yang sudah penuh keringat ke dalam kamarnya.
***
*
*
*
Lanjut? Happy reading!:)
Jangan lupa like, komen, vote dan rate bintang 5 supaya author makin semangat nulisnya. Dukungan teman-teman sangat berarti untuk kinerja jari author dalam menulis😉
Terimakasih sudah membaca karya recehku: