
Alea nampak berjalan terburu-buru mengikuti langkah Kenzo yang lebih lebar dari langkah kakinya. Setelah menyelesaikan mata kuliah pertama mereka, Alea pun merengek agar langsung dibawa menuju tempat penjual burger. Dan mau tidak mau Kenzo pun menurutinya.
"Pelanin langkah lo dong, Alea jadi cepet-cepet itu jalannya!" Seru Cika pada Kenzo.
Kenzo menghentikan langkahnya tiba-tiba dan berbalik hingga tubuh Alea menabrak dada bidangnya.
"Lo ngapain jalan cepet gitu sih? Gue kan gak kemana-mana!" Protes Kenzo pada Alea yang kini mengusap keningnya yang terasa sakit.
"Gue kan udah gak sabar mau cepat sampai ke tempat penjual burgernya." Ucap Alea.
Kenzo menghela nafas panjang. Kemudian kembali melanjutkan langkahnya lebih pelan. Tak lama akhirnya mereka pun sampai di tempat penjual burger langganan Kenzo. Untung saja penjual burger itu sudah datang dan saat ini tengah menyiapkan jualannya.
"Lo mau pesan berapa?" Tanya Kenzo pada Alea.
"Gue mau tiga porsi." Ucap Alea dengan melebarkan senyumannya.
Cika dan Maudy yang melihat tingkah Alea menggeleng pelan.
"Pesan enam porsi ya, Mas!" Ucap Kenzo pada penjual burger.
"Oke, Mas!" Balas penjual burger yang masih terlihat berumur dua puluh tahunan.
Enam porsi burger yang masih hangat itu pun akhirnya sudah berada di tangan Kenzo. Melihat Alea yang sudah terlihat tidak sabar untuk memakan burgernya, Kenzo pun mengajak mereka untuk duduk di kursi yang ada di taman yang posisinya tidak tidak jauh dari penjual burger itu.
Dan pada saat sampai di taman itu, Alea dibuat terkejut karena Aidan juga sedang berada di sana bersama Leo dan Aksa. Tanpa memperdulikan keberadaan Aidan, Alea pun terus berjalan mencari kursi yang masih kosong.
Setelah mendapatkannya, mereka pun duduk saling berhadapan.
"Kenzo ayo buruan buka burgernya." Pinta Alea merasa tak sabar.
Tanpa menunggu lama, Alea pun dengan lahap memakan burger yang masih hangat itu. Kenzo, Cika dan Maudy pun hanya bisa menggeleng melihat cara makan Alea.
Sedangkan di posisinya. Aidan menatap pada Alea dengan perasaan bersalah. Ia merasa menjadi suami yang tidak berguna karena tidak bisa memberi makanan apa saja yang Alea inginkan di saat istrinya sedang ngidam seperti saat ini.
Tak ingin terlalu lama menatap pemandangan yang membuat matanya memanas, Aidan pun memilih bangkit meninggalkan taman disusul oleh Leo dan Aksa.
*
Hari-hari pun terus berlalu. Alea masih tetap pada pendiriannya untuk tidak ingin bertemu dengan Aidan. Bahkan setiap bertemu dengan Aidan di kampus, Alea selalu saja memalingkan wajahnya seakan enggan menatap suaminya itu.
Walaupun begitu, Aidan tetap berusaha setiap harinya berkunjung ke rumah mertuanya dengan berharap Alea mau berjumpa dengannya walau pun selalu berakhir sia-sia.
Hingga suatu malam, suara tangisan yang cukup keras berasal dari kamar Alea membuat Mama Zaskia dan Papa Bara yang hendak masuk ke dalam kamar mereka mengurungkan niatnya. Mama Zaskia pun dengan cepat berjalan ke arah kamar putrinya saat mendengar tangisan Alea semakin kencang.
Ceklek
"Lea..." Mama Zaskia buru-buru mendekat ke arah Alea yang sedang menangis di tepi ranjang.
"Alea... Kamu kenapa sayang?" Papa Bara tak kalah khawatir melihat air mata membanjiri pipi putrinya.
"Ai-Aidan, Ma..." Ucap Alea sedikit terbata.
"Aidan? Aidan kenapa sayang?" Tanya Mama Zaskia tak mengerti.
"Lea mimpi jika Aidan sedang bermesraan dengan Velissa, Ma... Hiks..." Alea pun semakin terisak. "Aidan selingkuh dari Lea, Ma..." Raung Alea kemudian.
***