Oh My Introvert Husband

Oh My Introvert Husband
OMIH-53



Alea membuka kedua matanya secara perlahan. Pandangannya kini mengedar mengamati sekitar. Menyadari jika dirinya kini sedang tidak berada di dalam kamarnya, Alea pun sontak bangkit dari tidurnya. Seperkian detik suara pekikan Alea berhasil memekakkan telinga.


"Aaaa...." Pekik Alea menyadari jika kini dirinya dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun.


Namun Alea pun cepat-cepat menutup mulutnya ketika sepenggal ingatannya dengan kejadian tadi malam berputar di memorinya.


"Apa semalam bukan mimpi?" Gumam Alea. Rona merah nampak menyembul di kedua pipinya saat mengingat kejadian panas mereka tadi malam.


"Ternyata ucapan Cika dan Maudy benar. Jika Aidan sangat ganas di atas ranjang." Lanjutnya kemudian.


"Siapa yang ganas di atas ranjang?" Ucap Aidan secara tiba-tiba yang kini sudah berada di depan Alea.


"Aaaa..." Alea kembali memekik dan membenamkan tubuhnya ke dalam selimut saat melihat Aidan yang hanya menggunakan selembar handuk menutupi pusat tubuhnya.


"Kenapa lo suka sekali teriak-teriak?" Ucap Aidan. Tangannya kini dengan jahil membuka selimut yang menutupi tubuh Alea.


"Lepasin...!!" Ucap Alea berusaha menarik selimut yang membungkus tubuhnya kini ditarik Aidan. Dengan sekuat tenaga Alea menahan selimut itu agar tidak terlepas dari tubuhnya.


"Nyebelin banget sih lo!" Gerutu Alea saat selimut itu berhasil ia pertahankan.


"Memang apa lagi yang ingin lo tutupi dari gue? Gue bahkan bukan hanya melihatnya saja, tapi gue juga—"


"Diam!!" Pekik Alea yang sudah merasa begitu malu. "Minggir! Gue mau ke kamar mandi!" Ucap Alea yang berusaha turun dari ranjang.


"Aww..." Alea meringis saat merasakan sakit pada pangkal pahanya. Bahkan kini air mata nampak mengalir di sudut matanya.


"Makanya jangan sok bisa sendiri kalau lo masih membutuhkan bantuan gue." Ucap Aidan yang langsung mengangkat tubuh Alea.


"Turunkan gue!!" Pekik Alea merasa sangat malu karena Aidan mengangkat tubuhnya dalam keadaan polos.


Aidan tak memperdulikannya. Pria itu terus berjalan membawa Alea menuju kamar mandi yang ada di kamarnya.


"Maafin gue, ya." Ucap Aidan merasa bersalah. Aidan mengelus rambut wanita itu guna menenangkannya. "Seseorang memberikan obat perangsang di minuman gue dengan dosis tinggi." Jelas Aidan agar Alea dapat mengerti.


"Siapa?" Tanya Alea yang masih menangis.


"Gue juga gak tau siapa. Namun gue akan mecari tau siapa orangnya." Ucap Aidan merasa berang.


"Gue bantuin mandi, ya." Tawar Aidan merasa bersalah melihat Alea yang begitu kesakitan.


Alea mengangguk saja. Lagi pula ia juga kesulitan untuk bergerak. Bahkan Alea dapat merasakan jika daerah intinya saat ini membengkak.


Setelah membantu membersihkan tubuh Alea dengan menahan hasratnya yang kembali naik, Aidan pun memasangman handuk ke tubuh Alea.


"Tunggu di sini. Gue ambilin pakaian lo dulu." Ucap Aidan setelah mendudukkan tubuh Alea di tepi ranjang. Kemudian keluar dari dalam kamarnya menuju kamar Alea.


Alea menatap kepergian Aidan dengan perasaan iba. Ia sangat tahu jika Aidan berusaha mati-matian menahan hasratnya tadi. Alea juga tahu jika pengaruh obat itu belum sepenuhnya hilang karena dosisnya yang cukup tinggi. Melihat Aidan yang sudah kembali ke dalam kamarnya, Alea pun memikirkan sesuatu yang dapat membantu hasrat suaminya.


"Gue tau lo pasti kesiksa banget karena pengaruh obat itu masih ada. Lo boleh melakukannya lagi jika lo membutuhkannya. Tapi gue mohon pelan-pelan." Ucap Alea malu-malu.


Aidan yang mendapat angin segar menatap pada kedua bola mata Alea meminta persetujuan. Melihat Alea memberikan respon tanda persetujuan, Aidan pun tak dapat melewatkan kesempatan emas itu. Tanpa menunggu lama bibirnya kini sudah membungkam bibir Alea dengan ciuman dan mulai menanggalkan handuk yang masih melilit pinggangnya.


***


Like


komen


dan votenya, ya:)