Oh My Introvert Husband

Oh My Introvert Husband
Merasa nyaman



Aidan menghela nafasnya melihat Alea memalingkan wajah dengan raut wajah marahnya. Setelah meletakkan nampan di atas nakas, Aidan pun mendekati Alea. Alea pun sontak beringsut menjauh.


"Maafin gue." Ucap Aidan melihat Alea yang kembali meneteskan air mata. Hatinya sungguh sakit saat melihat istrinya menangis karna ulahnya.


"Hiks.. Pergi...!!" Pekik Alea menutup wajahnya dengan selimut. Aidan pun segera membawa tubuh Alea ke dalam pelukannya. Alea berusaha memberontak memukul dada pria itu.


"Lepasin gue...!! Gue benci sama lo!!" Pekik Alea lagi. Tangisan Alea pun semakin keras.


"Hiks... Hiks..."


Bukannya melepas, Aidan justru mengeratkan pelukannya pada tubuh Alea. Ia semakin merasa bersalah saja. Setelah merasa Alea sudah sedikit tenang, Aidan pun melepaskan pelukannya.


"Apa salah gue Aidan? Kenapa lo selalu saja berbuat semau lo tanpa memikirkan perasaan gue!" Lirih Alea yang masih menangis.


Aidan menangkup wajah Alea menghadap oe arahnya. "Gue gak suka jika ada orang lain selain gue menatap lo dengan cinta. Gue gak suka jika lo memandang pria lain selain gue dengan perasaan mengagumi. Dan gue sangat tidak suka jika orang lain menyentuh apa yang udah jadi milik gue." Ucap Aidan menatap dalam kedua mata Alea yang basah.


Pikiran Alea pun tiba-tiba tertuju pada kejadian tadi malam saat Kenzo menatapnya dengan cinta. "Apa lo tadi malam lihat Ken—" Ucapan Alea pun terhenti karna Aidan mengecup bibirnya.


"Jangan menyebutkan nama cowok lain saat lo sedang bersama gue." Tekan Aidan.


Alea pun dapat menebak jika Aidan melihat saat Kenzo bernyanyi tadi malam di cafe mertuanya.


"Jangan bilang kalau lo cemburu dengan Ken—" Ucapan Alea lagi-lagi terputus karna kecupan bibir Aidan.


"Apa itu tandanya lo udah mulai menyimpan rasa untuk gue?" Tanya Alea dengan hati-hati.


Aidan pun memeluk kembali tubuh Alea. "Entahlah... Gue gak tau perasaan apa yang gue rasakan saat ini. Yang gue tau gue selalu merasa nyaman saat bersama lo." Menghujami pucuk kepala Alea dengan ciuman.


Air mata Alea pun kembali mengalir deras. Ia tidak menyangka jika perasaannya akan terbalas. Walau pun Aidan belum mengatakan cinta padanya, namun kata-kata nyaman Aidan sudah cukup buatnya untuk saat ini. Alea pun membalas pelukan Aidan dengan erat.


"Gue sayang sama lo, Aidan..." Lirih Alea. Dan gue juga cinta sama lo... Lanjut Alea dalam hati.


"Sekarang mandi, ya? Habis mandi lo baru makan." Ucap Aidan.


Alea mengangguk. Aidan pun menyibakkan selimut yang membungkus tubuh Alea hingga membuatnya lagi-lagi meremang. Tidak ingin pikiran kotornya terus berlanjut, Aidan pun segera menggendong tubuh polos Alea menuju kamar mandi.


Dengan telaten Aidan pun membantu Alea untuk mandi yang membuat wajah Alea bersemu merah. Rasa kesalnya sudah hilang begitu saja karna sikap manis yang ditunjukkan Aidan. Setelah selesai, Aidan pun turut membantu Alea memakaikan pakaian di tubuhnya. Alea merasa heran karna di lemari yang ada di kamar itu sudah terdapat baju-baju wanita.


"Sekarang makan dulu ya?" Ucap Aidan setelah mendudukkan tubuh Alea di pinggir ranjang. Aidan tak sedikit pun membiarkan Alea untuk bergerak sendiri.


"Lo yang masak?" Tanya Alea merasa ragu.


Aidan mengangguk. Dan mulai menyuapkan sarapan ke dalam mulut Alea.


*