Oh My Introvert Husband

Oh My Introvert Husband
OMIH-36



Di dalam kamarnya Alea nampak memikirkan kembali ucapan sahabatnya. Jujur saja untuk saat ini ia masih takut jika Aidan benar-benar akan menceraikannya dan ia akan menjadi janda di usianya yang masih muda.


Apalagi ketika Alea bisa melihat dengan jelas bagaimana sikap Velissa kepada Aidan yang begitu lembut sangat berbeda jauh dengan dirinya. Alea juga bisa menangkap jika Velissa memiliki perasaan pada suaminya itu. Entah Aidan mengetahuinya atau tidak, Alea pun tidak tahu.


Menghembuskan nafasnya kasar di udara. Lime jemarinya kini ia gigit sambil membayangkan resiko apa yang akan dihadapinya bila berstatus sebagai janda nantinya.


"Ish... Gue gak mau!!" Pekik Alea tidak ingin lagi membayangkan sesuatu yang buruk terjadi padanya suatu saat nanti. Apa lagi dengan status sebagai janda, belum tentu masih ada pria yang mau dengannya nantinya. Sedangkan Aidan, walau pun berstatus sebagai duda, pria itu masih tetap bisa mendapatkan wanita pujaannya di luar sana dengan hanya mengandalkan ketampanan dan kekayaannya saja.


Sudah hampir satu jam Alea uring-uringan di dalam kamarnya memikirkan nasib pernikahannya kelak. Namun wanita cantik itu belum juga menemukan solusi yang tepat untuk dirinya saat ini. Apa lagi jika mengingat sikap Aidan yang begitu menyebalkan. Membuatnya selalu naik darah saja. Huh, Alea sudah pusing memikirkannya.


"Astaga gue lupa!!" Pekik Alea ketika menyadari ia belum memasak untuk makan malamnya dan Aidan. Segera Alea meloncat dari atas kasurnya berlari menuju lantai bawah dengan masih menggunakan tenktop dan hot pants. Masa bodoh, pikirnya. Lagi pula Aidan sudah memberitahunya jika pria itu akan pulang malam karena harus ke perusahaan Ayah Rangga terlebih dulu. Alea pun merasa akan lebih nyaman jika beraktivitas di dapur dengan pakaiannya saat. Tidak panas, pikirnya.


*


Kening Aidan nampak mengkerut ketika baru memasuki rumahnya. Keadaan rumah yang masih nampak gelap seperti tidak ada orang di dalamnya membuat Aidan bertanya-tanya kemana perginya Alea. Pantulan cahaya dari dalam dapur dan sedikit suara keributan dari dalam sana membuat Aidan dengan cepat melangkahkan kakinya ke arah dapur.


Huh


Aidan menghela nafas lega karena suara keributan dari dalam dapur itu berasal dari istrinya yang sedang memasak. Tumben sekali Alea baru memasak saat waktu sudah hampir malam hari, pikirnya. Aidan kembali dibuat menggeleng melihat pakaian yang Alea kenakan saat ini. Penampilan Alea saat ini berhasil menguji imannya kembali. Apa istrinya itu tidak sadar jika ia adalah pria normal yang bisa saja terpancing gairah melihat pemandangan seksi yang ditunjukkannya hampir setiap hari. Aidan mencoba menghalau pikiran kotor yang sedang bersarang di pikirannya saat ini.


Sedangkan Alea yang fokus pada masakannya, tidak menyadari kehadiran Aidan yang sedang berdiri di pintu dapur menatapnya tanpa berkedip. Di saat Alea hendak meletakkan masakan yang sudah siap di atas meja makan, Alea dibuat terkejut ketika matanya melihat Aidan sedang berdiri tegak tidak terlu jauh dari posisinya. Ternyata saat ini Aidan sudah berjalan ke arahnya. Untung saja tangannya masih kuat memegang piring masakannya hingga masakannya itu tidak jatuh begitu saja di atas lantai.


"Kenapa gak hidupin lampu luar dan ruangan tamu? Lo gak lihat hari sudah mulai gelap!" Cecar Aidan tanpa memperdulikan ucapan Alea.


"Gue lupa! Lagi pula lo gak lihat gue lagi masak sekarang. Mana kepikiran gue mau hidupin lampu. Lagian gue kira masih siang!" Balas Alea tak ingin disalahkan.


Aidan memperhatian keringat yang kini membasahi pelipis Alea. Wajah Alea kini terlihat lusuh dan rambutnya terlihat lepek karena keringat. Walau pun dalam kondisi seperti itu, Alea masih terlihat cantik bahkan tanpa polesan make up sekali pun. Seperkian detik Aidan nampak terpesona dengan kecantikan alami yang dimiliki istrinya itu.


Melihat Aidan yang hanya diam saja dan malah sibuk memperhatikan dirinya membuat Alea sedikit gugup. Alea pun berdehem mencoba menyadarkan Aidan dan menghilangkan kegugupannya.


Kaki Aidan kini melangkah lebih dekat ke arah Alea yang masih berdiri di samping meja makan. Wajahnya ia condongkan mendekati telinga Alea.


"Lihat penampilan lo. Apa lo sengaja menggoda gue saat ini?" Bisik Aidan terdengar lirih di telinganya. Bahkan Alea dapat merasakan hembusan nafas Aidan di sekitar leher dan wajahnya yang berhasil membuat Alea meremang.


***


Happy reading!:)


Jangan lupa like, komen, vote dan rate bintang 5 supaya author makin semangat nulisnya. Dukungan teman-teman sangat berarti untuk kinerja jari author dalam menulis😉


Terimakasih sudah membaca karya recehku:)