
"Aku memang sengaja menggodamu." Ucap Alea sambil mengecup bibir suaminya.
"Sayang..." Lirih Aidan berharap Alea menghentikan aktivitasnya yang sedang memberikan sentuhan di bawah sana.
"Aku menginginkanmu..." Bisik Alea di telinga Aidan dengan malu-malu.
Aidan terhenyak mendengar ucapan Alea. "Kau serius?" Tanya Aidan memastikan ucapan Alea.
Dengan malu-malu Alea pun mengangguk. Hormon kehamilan memang membuatnya selalu ingin berada di dekat suaminya dan merasakan sentuhan suaminya.
Tanpa menunggu lama, Aidan pun sudah memangut mesra bibir istrinya. Memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat Alea melayang.
"Apa aku sudah boleh mengunjungi baby twins?" Tanya Aidan sedikit ragu.
Dengan malu-malu Alea pun mengangguk. "Pelan-pelan." Pintanya dengan wajah memerah menahan malu.
"Aku tidak janji." Ucap Aidan dan tanpa membuang waktu memulai kegiatan panas mereka yang sudah hampir dua bulan tidak mereka lakukan.
Sedangkan Mama Zaskia yang hendak mengantarkan makanan ke dalam kamar Alea menghentikan niatnya saat mendengar suara ******* yang saling bertaut di dalam kamar putrinya.
"Apa yang mereka lakukan? Apa mereka melakukannya di saat kondisi seperti ini?" Mama Zaskia menggelengkan kepala kemudian berbalik memilih untuk pergi dari sana.
"Anak muda sekarang memang tidak bisa melihat kondisi dan tempat." Gumam Mama Zaskia kemudian.
*
Dua jam berlalu, akhirnya kegiatan panas mereka di siang hari itu pun selesai. Aidan dan Alea nampak menarik nafas dengan nafas tak beraturan.
"Aku lelah sekali." Gerutu Alea merasakan badannya yang semakin pegal.
"Tidurlah. Sebentar lagi aku akan membangunkanmu untuk makan." Ucap Aidan mengelus rambut istrinya yang berantakan.
"Maaf jika telah membuatmu bersedih. Namun mulai saat ini aku akan selalu berusaha untuk menggantikan kesedihanmu dengan beribu kebahagiaan." Tekad Aidan
*
Suasana kampus pagi itu nampak dihebohkan dengan berbagai berita dari sosial media yang mengatakan jika Aidan dan Alea sudah menikah. Bahkan foto pernikahan dan buku pernikahan mereka nampak terpampang nyata di sana.
"Jadi Aidan dan wanita bar-bar itu memang sudah menikah!" Geram Velissa mengepalkan kedua tangannya erat. Velissa sungguh tidak menyangka jika pria yang sudah lama dicintainya sudah menikah bahkan akan memiliki anak.
"Tapi... Bagaimana bisa? Bukankah mereka belum pernah saling mengenal sebelumnya?" Gumamya merasa ragu.
Kedatangan Aidan dan Alea pagi itu berhasil mencuri perhatian dari pada mahasiswa yang sedang berjalan menuju kelas masing-masing. Beberapa orang nampak mencuri pandang pada perut Alea yang sudah terlihat membuncit karena saat ini Alea tidak memakai kemeja longgar seperti biasanya.
"Alea..." Suara Cika dan Maudy terdengar cukup keras memanggil namanya membuat Alea membalikkan tubuhnya.
"Cika... Maudy..." Sapa Alea pada kedua sahabatnya.
"Lo kuliah hari ini? Gue pikir lo gak akan kuliah hari ini." Ucap Cika.
Alea tersenyum. "Gue udah baik-baik aja. Jadi gue memilih untuk masuk kuliah pagi ini." Terang Alea.
"Lo yakin udah gak apa-apa?" Tanya maudy merasa khawatir.
"Gue oke. Ucap Alea menenangkan pemikiran dua sahabatnya. Apalagi setelah ia melepas rindu dengan berolah raga keringat berasama suaminya membuat Alea mendapatkan energinya kembali.
"Syukurlah." Ucap Cika dan Maudy menghembuskan nafas lega.
"Gue titip Alea. Tolong jaga dia dengan baik." Pinta Aidan pada Cika dan Maudy.
***