Oh My Introvert Husband

Oh My Introvert Husband
Mengejar cinta



"Udah seneng belum?" Tanya Aidan mulai menghidupkan mesin mobilnya.


Alea melirik ke arah samping dimana Aidan kini tengah fokus mulai menjalankan laju mobilnya.


"Seneng banget...." Alea menunjukkan tiga bungkus plastik di tangannya.


"Gak jadi diet nih ceritanya?" Cibir Aidan.


Alea terkekeh kecil. "Besok aja dietnya. Lagian bukannya kata lo gue itu seksi seperti ini." Goda Alea mengedipkan sebelah matanya.


"Jangan mulai deh!" Desah Aidan menarik hidung mancung Alea dengan sebelah tangannya.


Alea tersenyum walau hidungnya kini sedikit memerah. Mulutnya terus mengunyah jajanan yang baru saja dibelinya. Hati Alea merasa sangat senang melihat perubahan Aidan yang semakin manis kepadanya.


Jangan salahkan gue kalau gue semakin cinta sama lo, Aidan. Alea manarik kedua sudut bibirnya dan membuang pandangan ke arah samping.


*


"Yura belum pulang, Bunda?" Tanya Aidan saat tak melihat keberadaan saudar kembarnya.


"Belum. Katanya mau main ke rumah temannya dulu." Bunda Vara meletakkan kripik pisang yang baru selesai dibuatnya di atas meja.


"Duduk sini, Bunda." Ucap Alea menggeser tubuhnya. Memberi ruang di sampingnya untuk Binda Vara duduk.


"Mau dipijetin lagi?" Bunda Vara menaikkan sebelah alis matanya. Akhir-akhir ini setiap Alea datang ke mansionnya, menantunya selalu saja meminta dipijat olehnya.


Alea terkekeh kecil. "Kepala Alea sedikit pusing." Sebenarnya Alea merasa sungkan. Namun entah mengapa mendapatkan pijatan dari Bunda Vara membuat sakit di kepalanya sedikit mereda sehingga Alea ingin terus melakukannya. Untung saja ia mendapat mertua sebaik Bunda Vara yang selalu menuruti kemauannya.


"Kamu sedikit berisi sekarang, sayang." Bunda Vara mulai memijit kepala Alea yang sudah berbaring di pahanya.


"Tuh kan. Lea gendut ya, Bunda?" Rungut Alea.


"Enggak gendut kok. Cuma sedikit berisi aja. Jadi semakin cantik deh." Bunda Vara sedikit memberi elusan di kepala Vara dengan jemarinya.


Bunda Vara mengangguk membuat Alea melebarkan senyumannya.


"Kak Yura kenapa tidak sekampus sama Kak Aidan sih Bunda?" Tanya Alea yang sudah duduk kembali.


Bunda Vara tersenyum mengingat kelakuan putri tertuanya. "Yura itu sangat ingin selalu dekat dengan pria incarannya sejak kecil. Dan setelah tamat sekolah, Yura memilih untuk melanjutkan pendidikan di salah satu universitas yang dimiliki oleh orang tua pria incarannya karena Yura yakin jika pria itu pasti melanjutkan pendidikannya di sana."


"Apa Kak Aidan mengetahuinya Bunda?"


Bunda Vara mengangguk. "Ikatan batin mereka sangat kuat. Walau pun Yura selalu menyangkal, namun Aidan tahu niat dari Yura yang ingin berpisah sekolah dengannya. Dan Aidan juga tahu jika Yura menyukai pria itu sejak kecil."


"Apa pria itu juga menyukai Kak Yura, Bunda?" Alea menatap Bunda Vara sedikit serius.


"Entahlah... Tapi Yura selalu berkata jika pria itu selalu berusaha menjauhinya."


"Apa? Masa sih, Bunda? Apa masih ada pria yang secara terang-terangan menolak wanita seperti Kak Yura? Kak Yura itu hampir mendekati wanita sempurna. Sudah cantik, pintar, baik, lucu dan juga dari keturunan kaya." Alea terkekeh diakhir ucapannya.


"Ya namanya perasaan tidak bisa dipaksakan. Bunda selalu berpesan pada Yura agar melupakan perasaannya. Namun Yura masih saja bertekad untuk mengejar cintanya. Bunda bisa apa selain mendukung anak-anak Bunda. Bunda yakin jika baik Aidan ataupun Yura sudah bisa menentukan mana yang baik dan tidaknya untuk kehidupan mereka." Terang Bunda Vara.


***


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺