
Tatapan Aidan begitu dalam melihat Alea yang sedang tertidur dengan posisi duduk di sampingnya. Alea nampak begitu pulas dalam tidurnya. Wanita itu nampak seperti sangat kelelahan dari raut wajahnya. Aidan hendak tertawa saja ketika melihat keripik yang masih di pegang Alea di tangannya. Istrinya itu memang juara kalau masalah makanan. Padahal tadi Alea makan cukup banyak. Dan kini toples berisi keripik sudah hampir habis setengahnya oleh Alea.
"Capek banget, ya?" Aidan memindahkan kepala Alea yang bersandar pada sofa ke pahanya sebagai bantalan agar istrinya itu merasa nyaman. Aidan kembali melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi selesai. Sesekali matanya melihat Alea yang semakin pulas tidur di pahanya. Bahkan kini wanita itu menenggelamkan wajahnya di perutnya.
Tangan Aidan terulur menyibakkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik istrinya itu. Aidan akui, jika istrinya itu memang sangat cantik. Pantas saja teman-teman lelaki di angkatannya banyak yang membicarakan kecantikan istrinya akhir-akhir ini.
Setelah hampir satu jam berkutat di layar komputernya, akhirnya laporan yang dikerjakan Aidan pun siap. Setelah mematikan komputer, Aidan menunduk ke bawah dimana Alea masih terlelap dalam pangkuannya. Beberapa kali Alea menggeliat mencari posisi yang nyaman. Aidan mengelus kepala Alea sebentar. Kemudian mengangkat tubuh Alea menuju kamarnya.
Dengan hati-hati Aidan membaringkan tubuh Alea di atas ranjang. Menarik selimut untuk menutupi tubuh Alea. Setelah merasa Alea sudah nyaman dalam tidurnya, Aidan pun berniat keluar dari dalam kamar istrinya itu. Namun, langkahnya terhenti tatkala melihat foto pernikahannya dan Alea terpajang di atas meja belajar Alea. Foto berukuran 6 R itu terbingkai oleh pigura bewarna putih. Sudut bibir Aidan nampak tertarik memperhatikan dirinya dan Alea yang nampak tersenyum palsu di foto itu. Setelah merasa cukup, Aidan pun kembali melangkahkan kakinya keluar dari kamar Alea.
*
Pagi harinya Alea terbangun dari tidurnya. Melirik jam yang menggantung di dinding kamarnya masih menunjukkan pukul 5 pagi. Alea meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Seketika matanya membola ketika menyadari sesuatu.
Tak ingin berlama-lama dalam pemikirannya, Alea turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan muka dan menggosok gigi. Untuk pertanyaan dibenaknya akan ia tanyakan nanti pada Aidan pada saat mereka sarapan pagi.
Seperti biasanya, Alea sudah berkutat di dapur untuk memasak sarapan pagi untuknya dan Aidan. Rutinitas yang sudah biasa Alea lakukan akhir-akhir ini. Jika biasanya ketika bangun tidur Alea langsung sarapan tanpa harus memasak terlebih dahulu, kini ia harus memasak terlebih dahulu untuk sarapannya sendiri dan juga untuk suaminya.
Entah mengapa Alea sudah merasakan tanggung jawabnya sebagai seorang istri. Apa lagi hampir setiap hari Mamanya selalu memberi wejangan lewat telepon untuk selalu memperlakukan Aidan dengan baik dan melayani semua kebutuhan suaminya. Namun satu hal yang belum bisa Alea lakukan, apa lagi jika bukan melayani suaminya di atas ranjang. Memikirkannya saja Alea tidak mau. Mengingat sifat menyebalkan suaminya dan wajah datar suaminya saja Alea sudah merasa dongkol. Bahkan ingin sekali Alea memasukkan suaminya itu ke dalam oven agar es batu yang menyelimuti Aidan bisa mencair.
***
Happy reading!:)
Jangan lupa like, komen, vote dan rate bintang 5 supaya author makin semangat nulisnya. Dukungan teman-teman sangat berarti untuk kinerja jari author dalam menulis😉