
Alea, Cika dan Maudy nampak sedang menikmati satu mangkok bakso di depan mereka. Pandangan mereka beralih pada kedatangan Aidan, Aksa, Leo dan Velissa masuk ke dalam kantin. Jarak tempat duduk mereka yang cukup dekat membuat Alea, Cika dan Maudy dapat mendengar percakapan mereka.
"Aidan, gue bawa makanan kesukaan lo, nih. Gue yang masak sendiri tadi pagi..." Ucap Velissa menyodorkan kotak bekal berisi nasi goreng pada Aidan.
"Aidan aja nih? Kita-kita enggak?" Cibir Leo pada Velissa.
"Kebetulan gue cuma bawa sedikit. Kapan-kapan gue bawain buat kalian juga." Ucap Velissa tersenyum.
"Elah... Biasanya juga cuma Aidan yang dibawain... Lo kayak gak tahu aja sih, Le!" Aksa menyenggol lengan Leo yang duduk di sampingnya.
Leo terkekeh. Ia memang hanya berniat menggoda Velissa. Leo dan Aksa dapat melihat jika Velissa memendam rasa pada Aidan. Sedangkan Aidan, pria itu sama sekali tidak menyadarinya.
"Kebetulan gue udah sarapan nasi goreng tadi. Sekarang gue mau makan yang lain." Tolak Aidan secara halus.
Bibir Velissa nampak menipis. Ia sungguh kecewa dengan jawaban Aidan. Namun ia tetap memaksakan untuk tersenyum. " Yaudah, nasi gorengnya buat Leo aja." Menyodorkan kotak bekalnya pada Leo.
"Rezeki anak sholeh emang gak kemana!" Ucap Leo terkekeh menerima nasi goreng buatan Velissa.
Di meja lain Alea dapat mendengar dengan jelas pembicaraan empat anak manusia itu. Telinganya terasa panas mendengar setiap kata yang keluar dari mulut mereka. Sebagai sesama perempuan, Alea bisa menebak jika Velissa memendam rasa pada Aidan—suaminya.
Dasar bibit pelakor! Makinya dalam hati.
"Ganjen banget sih temannya Kak Aidan itu! Jelas banget dia lagi cari perhatian Kak Aidan!" Sungut Cika yang diangguki Maudy.
"Tapi sepertinya Kak Aidan tidak tertarik padanya. Jadi kita masih aman..." Ucap Maudy.
"Lo gimana sih, Dy. Yang namanya cowok kalau dikasih perhatian tiap saat juga bakalan luluh kali!" Bisik Cika takut suaranya sampai ke meja Aidan dan teman-temannya.
Mendengar ucapan Cika, Alea sedikit membenarkannya. Entah mengapa ia merasa tidak suka mendengar ucapan Cika. Apa karena Aidan sudah berstatus sebagai suaminya? Pikirnya.
"Balik, yuk! Gue udah gak selera makan!" Ucap Alea sembari berdiri dari duduknya. Mereka memang hanya memiliki satu mata kuliah hari ini.
"Kok balik sih, Lea? Makanan gue masih banyak nih, makanan lo sama Cika juga! Mubazir tau!" Timpal Maudy. Bahkan bakso mereka masih ada lebih dari setengahnya.
Mau tidak mau Cika dan Maudy pun mengikuti Alea yang sudah berjalan ke luar dari kantin.
"Alea kenapa sih? Aneh banget!" Gerutu Maudy mengikuti Alea yang berjalan ke arah parkiran.
"Lagi datang bintang mungkin!" Jawab Cika asal.
"Lo mau kemana, Lea?" Cika mencekal tangan Alea yang hendak membuka pintu mobilnya.
"Bukannya di kelas gue udah bilang mau ke Mall habis dari kantin." Cebik Alea.
"Kita ikut!" Ucap Maudy. Dengan cepat ia sudah masuk ke dalam kursi penumpang. Sedangkan Cika memutari mobil Alea untuk masuk ke kursi samping kemudi.
"Mobil kalian gimana kalau kalian bareng sama gue?" Tanya Alea heran.
"Aman... Nanti pulang dari Mall kita balik lagi ke kampus!" Jawab Cika sekenanya.
Alea mendengus. "Nambah-nambah kerjaan aja!" Ucapnya kesal. Cika dan Maudy terkekeh. Alea pun segera menjalankan mobilnya menuju Mall.
*
*
*
*
Lanjut? Happy reading!:)
Jangan lupa like, komen, vote dan rate bintang 5 supaya author makin semangat nulisnya. Dukungan teman-teman sangat berarti untuk kinerja jari author dalam menulis😉
Terimakasih sudah membaca karya recehku: