Oh My Introvert Husband

Oh My Introvert Husband
Salah menilai



Aidan mendesahkan nafasnya di udara. "Lo tau kalau dari dulu gue hanya menganggap lo sebagai teman dan tidak lebih." Tekan Aidan menatap tajam Velissa. "Gue gak bisa membersamai pertemanan kita dengan perasaan. Dan gue gak bisa mengerti perasaan lo saat ini."


"Tapi kenapa Aidan? Apa kurangnya gue untuk bisa dapatin hati lo?" Lirih Velissa.


"Tidak ada yang kurang dari lo, Velissa. Kekurangan itu berasal dari gue yang tidak bisa membalas perasaan lo. Gue harap lo segera menghapus perasaan lo itu untuk gue. Karna sampai kapan pun gue gak bisa membalas perasaan lo."


"Tapi kenapa lo selama ini selalu baik sama gue Aidan..." Isakan kecil keluar dari mulut Velissa.


"Karna gue menganggap lo sebagai sahabat gue. Dan gue selalu berusaha membuat orang-orang terdekat gue bisa nyaman di dekat gue."


"Dan karna sikap lo itu yang membuat gue seperti ini, Aidan."


"Gue rasa lo bisa menilai setiap perlakuan gue sama lo dan yang lain itu sama aja, Vel." Desah Aidan. Rasanya ia sudah sangat jengah membahas perihal perasaan seperti ini.


"Maafin gue, Aidan. Gue akan berusaha menghilangkan perasaan gue sama lo." Lirih Velissa. Ia tidak ingin lagi melanjutkan ungkapan hatinya melihat raut wajah Aidan yang sudah berubah.


"Gue juga berharap seperti itu. Sebaiknya sekarang lo pulang. Karna tidak baik lo berada di sini sedangkan hanya lo cewek di sini."


"Apa kita masih bisa tetap berteman?" Tanya Velissa meyakinkan.


"Lo akan tetap menjadi sahabat gue sampai kapan pun. Kita bukan hanya berteman satu atau dua tahun. Tapi sudah belasan tahun. Gak mungkin semudah itu gue melupakan persahabatan kita selama ini."


"Terimakasih, Aidan." Tanpa meminta persetujuan Velissa segera berhambur memeluk pria itu. Awalnya Aidan ingin menolaknya. Namun melihat Velissa yang menangid tersedu-sedu membuat pria itu tak tega juga.


Dan semenjak hari itu persahabatan Aidan dan Velissa pun mulai berjalan dengan normal kembali walau Aidan mengikis jarak diantara mereka agar Velissa benar-benar membuang perasaan untuknya.


*


"Boleh. Nanti kabarin aja gue kalau lo udah pulang." Sahut Aidan yang kini tengah memasang jam di pergelangan tangannya.


"Oke." Sahut Alea begitu bersemangat. Semenjak kepulangan orang tuanya ke tanah air seminggu yang lalu membuat Alea selalu ingin pulang ke rumahnya. Gadis itu sangat bahagia karna orang tuanya menepati janjinya untuk menetap di tanah air setelah urusan mereka selesai.


"Lo berangkat sendiri?" Tanya Aidan saat Alea menyambar kunci mobilnya di atas nakas.


"Iya. Emang mau sama siapa lagi? Sama lo? Ya gak mungkin lah. Nanti teman-teman bisa curiga kali." Decak Alea. "Gue berangkat duluan ya. Mau ada yang dibeli dulu sebelum ke kampus." Pamit Alea kemudian meraih tangan Aidan.


"Hati-hati." Balas Aidan mengecup kening Alea.


*


"Gue lihat-lihat Kak Aidan sama Velissa udah dekat lagi ya Le akhir-akhir ini?" Ucap Maudy saat mereka sedang menikmati waktu istirahat di taman setelah dari kantin.


"Maksud lo?" Kening Alea mengkerut tidak paham. "Emangnya sejak awal lo liat mereka emang mereka jauhan gitu?" Decak Alea.


"Iya sih dekat. Tapi kan lo tau jika mereka sebulan belakangan udah jarang main berempat lagi. Emang lo gak tanya Kak Aidan kenapa dia gak main bareng lagi sama Velissa?"


Alea menggeleng. "Buat apa? Gue tu gak mau kali nanti dibilang istri posesif sama dia."


****