
"Alea... Maafin gue..." Ucap Aidan menahan sesak di dadanya. Ia tidak menyangka keputusannya untuk merawat Velissa atas amanat kedua orang tua Velissa membuat rumah tangganya kacau seperti ini.
"Untuk apa lo meminta maaf jika kesalahan terbesar itu terletak pada gue. Harusnya gue yang meminta maaf di sini. Kalau bukan karna gue yang masuk ke dalam kehidupan lo pasti hubungan lo dan Velissa tidak akan terganggu seperti saat ini." Balas Alea tanpa menatap pada Aidan.
"Alea..."
"Sudahlah... Lebih baik lo pergi dari sini sekarang juga dan biarin gue tinggal di rumah Mama dan Papa!" Pinta Alea dengan terisak.
Aidan mengusap wajahnya kasar. "Baiklah. Jika lo ingin tinggal bersama Mama dan Papa gue gak akan melarang." Putus Aidan dengan helaan nafas panjang. "Tapi gue mohon izinkan gue untuk berbicara dengan anak-anak gue sebentar saja." Pinta Aidan dengan lirih.
"Untuk apa lo ingin berbicara dengan mereka? Bukankah lo yang berkata jika tentang mereka itu tidak penting!" Seru Alea menahan sakit di dadanya.
Aidan terhenyak. Ternyata dugaannya benar jika Alea ingin mengungkapkan tentang kehamilannya tadi dan dengan teganya dirinya tak ingin mendengarkan perkataan istrinya.
"Gue sadar gue salah. Tapi gue mohon untuk kali ini saja. Izinkan gue untuk berada dekat dengan mereka." Pinta Aidan lagi.
Alea hanya diam dengan menahan isak tangisnya agar tidak semakin keluar. Melihat Alea yang hanya diam, Aidan pun mengambil langkah untuk mendekat ke arah ranjang istrinya. Kepalanya menunduk saat sudah berada dekat dengan tubuh Alea.
"Maafin Daddy yang sudah mengabaikan kehadiran kalian... Maaf jika Daddy belum bisa menjadi Daddy yang baik untuk kalian... Tetaplah tumbuh dengan sehat. Daddy sangat menyayangi kalian. Daddy mohon jaga Mommy kalian dengan baik. Dan jangan membuat Mommy kesusahan di dalam sana." Aidan mengecup perut istrinya yang terlihat semakin membuncit. Aidan sangat merutuki dirinya sendiri karena tidak menyadari apa yang menjadi penyebab tubuh istrinya semakin berisi belakangan ini.
Aidan hanya bisa terdiam tanpa membantah. Tak ingin membuat Alea semakin tertekan, Aidan pun memilih meninggalkan ruangan setelah sebelumnya memberikan ciuman cukup singkat di kening Alea.
***
"Kenapa makanannya belum dimakan, sayang?" Tanya Mama Zaskia saat makanan yang dibawakannya tadi terlihat belum tersentuh sama sekali.
"Lea sungguh tak berselera, Ma..." Keluh Alea menyandarkan wajahnya di bahu sang Mama.
Mama Zaskia mengelus lembut rambut putrinya. "Apa kamu tidak kasihan pada Baby twins yang kelaparan di dalam sana? Apa anak Mama begitu egois sehingga tidak memikirkan nasib anak-anaknya yang sedang kelaparan saat ini?" Tanya Mama Zaskia mencoba memberi pengertian pada Alea.
"Makanlah... Jika kamu tidak lapar, tapi mereka sedang membutuhkan makanan saat ini." Lanjut Mama Zaskia lagi.
Alea menghembuskan nafas pelan di udara. Kemudian mengelus perutnya. "Maafkan Mommy yang tidak memikirkan keadaan kalian." Sesal Alea. Alea pun segera memakan makanannya hingga tandas. Mama Zaskia yang melihatnya pun ikut tersenyum.
Satu minggu pun telah berlalu. Setelah memastikan keadaan Alea baik-baik saja setelah dirawat di rumah sakit, akhirnya hari ini Alea pun memutuskan untuk kembali masuk kuliah setelah mendapatkan izin dari Papa Bara dan Mama Zaskia atas perkataan dokter yang mengatakan jika saat ini keadaan Alea sudah baik-baik saja.
***