Oh My Introvert Husband

Oh My Introvert Husband
Jangan menggodaku



Setelah Kenzo, Cika dan Maudy pamit untuk kembali lagi ke kampus, Aidan pun segera melangkah kakinya kembali menuju kamarnya. Di dalam kamarnya, Mama Zaskia nampak mengelus kepala putrinya yang masih tertidur dengan lelap.


"Mereka sudah pulang?" Tanya Mama Zaskia dengan suara pelan.


Aidan mengangguk. "Mereka baru saja berpamitan." Ucap Aidan.


Mama Zaskia mengangguk paham. Kemudian bangkit. "Mama keluar dulu untuk membuat makanan untuk Alea jika Alea sudah bangun nanti."


"Terimakasih, Ma." Ucap Aidan begitu sungkan.


Mama Zaskia mengangguk dan segera keluar dari dalam kamar putrinya.


Setelah melihat tubuh Mama Zaskia hilang di balik pintu, Aidan pun mendekat ke arah ranjang. Mendudukkan tubuhnya di pinggir ranjang sambil menatap istrinya yang sedang terlelap dengan nyaman.


"Maafin aku, Alea. Setelah ini aku berjanji akan menjaga kalian dengan baik." Ucap Aidan sambil mengelus rambut istrinya. Kemudian beralih pada perut Alea dimana kedua calon bayinya sedang bersemayam.


Setelah puas memperhatikan wajah cantik istrinya, Aidan pun bangkit dari sisi ranjang. Berjalan ke arah sofa dan mendudukkan bokongnya di sana. Aidan pun mulai menghidupkan layar laptopnya karena masih banyak tugas dan pekerjaan yang belum ia selesaikan.


Satu jam berlalu, Alea pun mulai mengerjapkan kedua matanya. Pandangannya nampak mengedar memperhatikan dimana ia berada. Setelah meyakini jika saat ini ia tengah berada di dalam kamarnya, Alea pun bangkit dari pembaringan. Pandangannya terjatuh pada pria yang tengah memejamkan mata sambil memangku laptop di pahanya.


"Aidan..." Lirih Alea menatap dalam pada wajah tampan suaminya.


Aidan membuka kedua kelopak matanya. Pandangannya pun tertuju pada sosok yang tengah memperhatikan dirinya sehingga pandangan mereka beradu.


"Kamu sudah bangun?" Tanya Aidan. Menutup laptopnya kemudian bangkit dari sofa.


"Aidan..." Lirih Alea lagi saat Aidan sudah berada di dekatnya. "A-aku sungguh takut..." Alea memeluk tubuh Aidan dengan erat secara tiba-tiba.


Alea tetap memeluk tubuh yang sangat ia rindukan itu seerat-eratnya. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh suaminya yang sudah membuatnya candu.


Aidan melerai pelukan mereka. Ibu jarinya terangkat menghapus air mata yang masih berjejak di wajah istrinya. "Jangan menangis lagi, ya. Apa kamu tidak kasihan dengan mereka yang pasti akan ikut bersedih karena ibunya bersedih?" Ucap Aidan mengelus perut istrinya.


Alea menimpali tangan Aidan dengan tangannya. "Anak-anak kita..." Ucap Alea dengan bibir bergetar.


"Iya, sayang... Anak-anak kita." Ucap Aidan kemudian mengecup singkat bibir Alea.


Alea tersenyum. "Terimakasih telah datang membela kami." Ucap Alea mengelus kembali perutnya.


"Itu sudah menjadi kewajibanku." Ucapnya kembali mengecup bibir istrinya


Alea kembali menghambur ke dalam pelukan suaminya. "Aku mencintaimu." Ucapnya begitu yakin.


"Aku pun begitu. Sangat mencintaimu dan anak-anak kita." Balas Aidan. Membalas pelukan Alea namun tidak begitu erat. Karena ada Baby twins di antara mereka.


Alea tak dapat menyurutkan senyumannya dengan air mata yang membanjiri kedua pipinya. Kata cinta yang keluar dari bibir suaminya terdengar begitu manis sehingga Alea merasa tidak yakin jika sosok yang sedang mengatakan cinta kepadanya itu adalah Aidan pria dingin dan datar yang sering membuatnya naik darah.


"Kau terlihat semakin tampan akhir-akhir ini." Ucap Alea menyusuri wajah Aidan dengan jemarinya.


"Jangan menggodaku, sayang..." Ucap Aidan sambil memejamkan kedua matany menahan sensasi yang Alea berikan.


***