
"Tadi malam lo yang mindahin gue ke kamar?" Tanya Alea saat ia dan Aidan baru saja selesai menyantap sarapan pagi mereka.
"Bukan gue." Jawab Aidan seadanya.
Alea mendengus. "Jadi setan yang ngangkat gue ke kamar?" Ketusnya merasa dibohongi.
"Mungkin." Jawab Aidan lagi.
Aleaa memberengut. "Bohong banget sih lo!"
"Memang bukan gue."
Alea berpikir. Tidak mungkin ia berjalan ke kamarnya sendiri dalam keadaan tidak sadar.
"Elo kan?" Tanya Alea sekali lagi.
"Gak niat gue ngangkat badan berat lo."
"Gue berat?" Alea nampak tak suka ketika mendengar dirinya dikatakan berat.
Aidan mengangguk.
Alea memperhatikan tubuhnya dari atas sampai bawah. Tidak ada lemak yang berlebih. Badannya cukup profesional.
"Badan lo emang datar dan kurus. Tapi melihat makan lo yang begitu banyak, pasti badan lo berat. Apa lagi kita habis makan tadi malam." Lanjut Aidan.
"Lo ngatain gue datar?!" Suara Alea terdengar meninggi ketika mengatakannya. Yang benar saja. Bentuk tubuhnya yang cukup berisi pada bagian tertentu termasuk idaman para lelaki. Dan suaminya itu seenaknya saja mengatakan ia datar.
Aidan mengangkat kedua bahunya. Melihat wajah Alea yang memerah menahan kekesalannya nampak begitu lucu di matanya.
*
"Bikin mood pagi gue berantakan aja sih dia!" Alea nampak menggerutu saat turun dari dalam mobilnya. Alea terkadang heran dengan Aidan yang tidak pernah bersikap manis padanya.
"Kenapa sih, Lea? Masih pagi loh ini!" Tanya Cika yang sempat mendengar gerutuan Alea saat berjalan ke mobil Alea yang berada di samping mobilnya.
"Gue itu lagi kesel tau!" Cebiknya.
"Kantin dulu, yuk, buat hilangin bad mood lo!" Tawar Maudy yang sudah berada di dekat mereka.
"Tumben pelan banget makan lo?" Tanya Cika yang merasa heran dengan cara makan Alea yang tidak seperti biasanya.
"Masih kenyang gue. Tadi gue udah sarapan di rumah."
"Lo yang masak?" Tanya Cika.
Alea mengangguk. "Siapa lagi kalau bukan gue."
"Lo beneran udah pandai masak, Le?" Tanya Cika tak percaya.
Alea mengangguk mantap. "Sebisa gue aja. Rasanya lumayan lah masih bisa dimakan."
"Luar biasa..." Cika bertepuk tangan dua kali. "Jadi lo ceritanya mau jadi istri idaman buat Kak Aidan?" Goda Cika.
Alea mendelik. "Sialan. Bukan itu juga kali tujuan gue. Gak dengan pande masak juga gue udah jadi cewe idaman dari dulu." Sombongnya.
"Sombong amat..." Seru Cika dan Maudy berbarengan.
Alea terkekeh. "Gue bicara fakta kali..." Ujarnya.
Suasana kantin masih sepi. Hanya ada Alea, Cika dan Maudy beserta beberapa mahasiswa yang lain. Tak lama segerombolan mahasiswa datang memasuki kantin. Suasana kantin yang sudah mulai ramai membuat Alea segera menghabiskan bakso yang masih tersisa di mangkoknya.
"Buru-buru amat sih, Le?" Tanya Maudy melihat Alea yang sudah selesai membersihkan sisa kuah bakso di mulutnya.
"Gue udah gak tahan ini..." Lirih Alea.
"Mau ke kamar mandi?
Alea mengangguk. "Udah nahan dari tadi, nih!" Ujarnya kemudian berdiri.
"Mau ditemenin gak? Nanti lo ilang lagi kaya kemarin!"
"Bener tuh! Ayo gue temenin, gue udah mau selesai." Cika buru-buru menghabiskan makanannya.
"Gue sendirian aja. Udah gak tahan nih gue!" Jawabnya cepat. Menggeser kursi yang didudukinya ke arah belakang.