Oh My Introvert Husband

Oh My Introvert Husband
Mengakui kesalahan



Suasana kampus sudah mulai sepi saat Alea baru saja keluar dari dalam kelas setelah selesai mengikuti pelajaran. Saat sedang berjalan menuju parkiran mobil, tiba-tiba saja Alea menghentikan langkah sambil meringis.


"Sssht..."


"Lo kenapa Lea?" Tanya Cika melihat Alea kesakitan.


"Gak tau nih. Akhir-akhir ini perut gue terasa nyeri." Lirih Alea memegang perutnya.


Cika dan Maudy pun menuntun Alea untuk duduk di kursi yang berada di dekat parkiran.


"Gue beliin mimum dulu ya!" Ujar Maudy segera bangkit menuju kantin.


"Duh sakit banget..." Lirih Alea memejamkan kedua matanya.


"Sakit banget ya, Le?" Tanya Cika nampak khawatir.


"Lumayan..." Cicit Alea masih mencengkram erat ujung bajunya.


"Gimana kalau kita ke rumah sakit aja buat periksa?" Ajak Cika.


Alea menggeleng. "Paling sebentar lagi sakitnya juga ilang."


"Minum dulu, Lea." Ucap Maudy menyerahkan satu botol air mimum pada Alea. Alea pun menerimanya kemudian meneguknya.


"Udah gak sakit lagi ini." Ucap Alea mengelus perutnya.


"Cepet banget ilangnya?" Heran Cika.


"Sakitnya hilang-hilang timbul gitu." Jelas Alea.


"Yaudah yuk pulang." Ajak Alea kemudian berdiri.


"Yakin lo udah gak sakit lagi?" Tanya Cika memastikan.


"Lo mau pulang atau ke rumah gue dulu?" Tanya Maudy menatap Alea yang sedang memejamkan kedua matanya di sebelahnya.


"Ke rumah lo aja deh. Lagi pula Aidan gak ada di rumah juga. Katanya juga dia pulang malam hari ini." Ucap Alea setelah mendapatkan pesan dari Aidan jika pria itu sedang berkumpul di apartemen Leo saat ini.


*


Sore hari di apartemen Leo nampak menegangkan kala kedatangan Velissa secara tiba-tiba. Aidan yang tengah mengerjakan tugas kuliahnya pun harus mematikan layar laptonya untuk menanggapi Velissa yang sedari tadi merengek untuk bisa berbicara dengannya. Melihat Aidan dan Velissa membutuhkan ruangan privasi, akhirnya Leo dan Aksa pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Leo agar mereka lebih leluasa untuk berbicara.


"Aidan gue mohon... Katakan apa salah gue hingga lo berubah sama gue akhir-akhir ini." Ucap Velissa mengguncang tubuh Aidan.


Aidan menghela nafasnya dengan kasar. "Lo mau tau apa salah lo?" Tanya Aidan dengan datar.


Velissa dengan cepat mengangguk.


"Salah lo itu karna lo udah nyampurin persahabatan kita dengan perasaan."


"Apa maksud lo Aidan?" Velissa agaknya pura-pura tidak mengerti.


"Apa lo lupa dengan kejadian di klab malam itu, hem? Dan apa lo pikir gue gak tau jika ada orang yang berniat buruk pada gue malam itu!" Tekan Aidan.


Velissa terhenyak. Apa Aidan sudah tau jika ialah dalang dari kejadian itu?


"Gue bukan orang yang dengan mudahnya membiarkan setiap kejadian gue lupakan begitu aja, Velissa. Dan gue juga tau jika lo yang menjadi dalang dari kejadian malam itu! Lo yang menyuruh orang untuk mencampurkan obat itu ke dalam minuman gue."


"Ai—" Velissa berusaha menjangkau tangan Aidan, namun pria itu menghindarinya.


"Apa hal yang menjadi alasan lo berniat buruk pada gue malam itu Velissa?" Walau pun sudah mengetahui jawabannya, namun Aidan masih ingin mendengar langsung jawaban dari Velissa.


"Maafin gue Aidan... Semua itu gue lakukan karna gue cinta sama lo. Apa lo gak sadar jika sedari kecil gue udah menyimpan rasa sama lo tapi lo selalu saja menganggap gue hanya sebatas sahabat?" Ucap Velissa berderai air mata.


***