
Bukannya menjawab ucapan Aidan, Velissa justru semakin mendekatkan tubuhnya pada Aidan. "Kamu yakin tidak apa-apa?" Tanya Velissa dengan suara parau.
"Gue bilang lo duluan masuk ke dalam! Bukannya lo ingin ke kamar mandi?" Tanya Aidan mengintimidasi.
Velissa yang takut dicurigai itu pun akhirnya menjauhkan tubuhnya dari Aidan dan masuk ke dalam kamar mandi. Lagi pula ia bisa hanya pura-pura masuk sebentar lalu keluar lagi.
Setelah melihat Velissa masuk ke dalam kamar mandi, Aidan pun mengirimkan pesan pada Aksa dan Leo di grup khusus mereka bertiga untuk menyusulnya ke parkiran. Aidan hanya beralasan ke kamar mandi untuk mengelabuhi orang yang berniat buruk padanya.
"Lo kenapa?" Tanya Aksa melihat Aidan yang sudah mulai gelisah.
"Sial! Jangan bilang lo habis dikasih minuman perangsang!" Timpal Leo.
"Cepat bawa gue pergi dari sini!" Pinta Aidan yang kini sudah banjir keringat.
Aidan, Aksa dan Leo pun segera masuk ke dalam mobil Aidan dengan Leo yang mengemudi.
"Kita mau kemana? Lo pasti tau hanya ada satu obat yang bisa menjadi penawar apa yang lo rasakan saat ini." Ucap Aksa yang sudah panik. Ia sangat takut efek obat itu akan berakibat fatal pada Aidan apabila tidak segera diberi penawar.
Aidan pun menyebutkan alamat rumahnya dan Alea. Aksa dan Leo nampak bingung ketika mendengar ucapan Aidan. Namun Aksa tetap mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju alamat yang Aidan sebutkan.
"Kalian boleh pergi!" Ucap Aidan setelah sampai di depan rumahnya.
"Tapi lo gimana?" Tanya Aksa dan Leo nyaris bersamaan.
Aidan melambaikan tangan memberi isyarat agar mereka segera pergi. Ia pun bergegas masuk ke dalam rumahnya untuk mencari obat penawar yang ia rasakan saat ini.
Alea yang seperti biasa menunggu kedatangan Aidan pulang untuk makan bersama pun terlihat kembali tertidur di atas meja makan. Aidan dapat melihat jika sudut mata Alea yang masih basah itu barang sejenak. Merasa seseorang berada di dekat tubuhnya, Alea pun terbangun.
Merasa pasokan oksigen mereka mulai berkurang, Aidan pun melepaskan ciumannya.
Alea yang hendak protes pun mengurungkan niat ketika menyadari wajah Aidan yang sudah tidak bersahabat.
"Aidan, lo kenapa?" Tanya Alea merasa panik ketika melihat peluh membasahi pelipis pria itu.
"Gue dijebak. Seseorang memasukkan obat perangsang ke dalam minuman gue." Jawab Aidan dengan nafas yang sudah memburu. Apa lagi melihat pakaian Alea yang sangat minim membuat gairahnya tidak dapat dibendung lagi.
"Gue mohon tolongin gue kali ini..." Lirih Aidan yang kembali memangut indah bibir Alea.
Alea yang sedikit mengetahui efek dari obat itu yang bisa berujung kematian bila tidak segera diatasi pun tak bisa berbuat apa-apa. Ia juga tidak tega melihat Aidan yang sudah susah payah menahan gairahnya.
Alea pun membalas setiap perlakuan Aidan. Tubuh Alea yang baru pertama kali merasakan sensasi baru itu nampak tegang. Aidan pun memperlakukan Alea begitu lembut untuk menetralkan tubuh Alea. Ciuman mereka pun kian memanas saat ciuman itu sudah turun ke leher jenjang Alea.
"Kita lanjutkan di kamar." Tanpa aba-aba Aidan pun langsungung menggendong tubuh Alea menuju kamarnya.
***
Sudah beri dukungan buat hari ini belum?
Like
Komen
Votenya!:)