
"Sayang...." Aidan tak henti-hentinya memberikan kecupan di kening istrinya.
Alea masih terus menangis di dalam pelukan suaminya dengan terisak. Bayang-bayangan mimpinya sungguh benar-benar menakutkan baginya.
"Gue gak mau diduain... Gue gak mau..." Raung Alea.
Aidan semakin mendekap tubuh istrinya. Sepertinya ia sudah paham mimpi seperti apa yang dimimpikan istrinya.
"Aku gak mungkin duain kamu sayang... Apalagi saat ini ada anak-anak kita di dalam sini." Aidan mengurai pelukannya kemudian mengelus perut Alea yang sudah membuncit.
Alea menatap wajah suaminya dengan air mata yang terus berlinang. Wajah tampan yang sudah satu bulan memenuhi pemikirannya kini sudah berada tepat di hadapannya.
"Huuu..." Alea kembali menghambur memeluk tubuh suaminya. Rasa sakit dan kecewa yang ia rasakan lenyap begitu saja berganti rasa ketakutan akan ditinggalkan oleh suaminya.
"Lo jahat..." Alea menepuk dada Aidan dengan gumpalan tangannya.
"Gue memang jahat." Aidan hanya pasrah saat dada bidangnya menjadi bahan amukan istrinya itu.
Mama Zaskia dan Papa Bara yang melihat drama sepasang suami istri itu pun memilih untuk keluar dari dalam kamar. Sepertinya Alea sudah mendapatkan penawar peredam tangisannya. Pikir mereka.
Hingga tangisan Alea mulai menyurut, Aidan pun menuntun tubuh istrinya itu untuk duduk di atas ranjang.
"Ngapain lo di sini? Pergi dari kamar gue!" Perintah Alea memalingkan wajahnya. Moodnya yang sudah mulai membaik tiba-tiba saja memburuk kembali saat mengingat perbuatan Aidan kepadanya tempo hari.
"Alea..." Aidan menggenggam erat tangan Alea meski Alea terus berusaha melepaskannya. "Maafin Aku.. Aku sadar aku memang salah. Dan tidak seharusnya aku lebih mementingkan wanita lain dibandingkan istriku sendiri." Aidan menatap dalam kedua bola mata Alea.
"Pergilah... Gue gak mau melihat lo ada di sini." Usir Alea.
"Maafin aku, Alea... Maaf atas kesalahanku yang telah melukai hatimu... Aku hanyalah pria yang minim ilmu tentang perasaan seorang wanita. Aku sadar jika kesalahanku akan sulit termaafkan. Namun aku mohon izinkan aku untuk berada di dekat anak-anakku saat ini. Sudah cukup satu bulan ini aku tersiksa tanpa kalian..." Aidan menangkup kedua tangan Alea kemudian menjatuhkan wajahnya di paha wanita itu.
Alea kembali meneteskan air matanya. "Jangan kembali jika lo hanya ingin menorehkan luka kembali di hati gue." Lirih Alea. "Gue sadar jika gue tidak ada arti apa-apanya di hidup lo. Dan gue juga sadar. Jika gue hanyalah pemuas na*su lo di atas ranjang." Alea kembali terisak.
"Alea... Apa yang kamu katakan itu tidak benar!" Seru Aidan merasa tidak suka dengan pendapat istrinya.
"Apanya yang tidak benar? Bukannya gue berkata benar? Jika lo hanya membutuhkan tubuh gue. Dan lo tidak pernah mencintai gue." Helaan nafas Alea kian melambat.
"Alea..." Semakin menggenggam tangan istrinya kemudian meletakkannya di dadanya. "Apa kamu tidak pernah merasakan perbuatan aku selama ini karena aku mencintai kamu? Apa kamu pikir aku sejahat itu menyentuh seorang wanita tanpa ada cinta di hati aku?" Tanya Aidan dengan jemarinya menghapus air mata yang membasahi pipi istrinya."
***
Sambil menunggu cerita Alea dan Aidan update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.
- Hanya Sekedar Menikahi (On Going)
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺