
Velissa menghempaskan hampir seluruh barang yang ada di dalam kamarnya. Rasa kesalnya belum juga menyurut saat mengetahui pria yang sedari dulu dicintainya sudah memiliki seorang kekasih dan sialnya wanita itu adalah orang yang ia anggap sebagai rivalnya.
"Harusnya gue yang jadi kekasih lo, Aidan. Bukan ****** itu!" Geramnya dengan tangan terkepal.
"Kenapa lo tidak pernah melihat gue sebagai wanita bukan sebagai sahabat kecil lo, Aidan." Lirihnya. Velissa menelungkupkan wajahnya di atas kedua kakinya yang tertekuk. Ia menangis sejadi-jadinya. Sungguh sangat menyakitkan cinta tak terbalasnya selama ini.
"Seandainya gue lebih cepat bergerak. Pasti ini semua tidak akan terjadi." Sesalnya. Sudah sejak lama ia sangat sangat ingin mengungkapkan isi hatinya pada Aidan. Namun melihat sikap Aidan yang begitu dingin tak tersentuh itu membuat Velissa merasa ragu. Apalagi Velissa sangat takut jika Aidan menjauhinya karena perasaannya itu. Dan terbukti dengan kejadian di klab malam tempo hari. Niatnya yang begitu nekad membuat Aidan menjauhinya.
"Gue akan melakukan berbagai cara untuk bisa mendapatkan hati lo, Aidan." Tekad Velissa. Walau Aidan sudah menekankan padanya untuk menghilangkan perasaannya pada pria itu, namun Velissa yakin jika ia pasti bisa mendapatkan hati Aidan.
*
"Aidan..." Pekik Alea saat Aidan baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk melilit pinggangnya.
"Lo kenapa hobi banget sih teriak-teriak." Ucap Aidan mendekat pada Alea.
Alea terkekeh. Sedetik kemudian wajahnya pun berubah masam.
"Apa benar kalau gue sekarang gendutan..." Ucap Alea memberengut. Memutarkan tubuhnya di depan cermin.
"Tapi kayanya bener deh." Sungutnya memperhatikan beberapa bagian tubuhnya yang mulai melebar.
"Siapa yang bilang lo gendutan, hem?" Ucap Aidan dengan tangan yang sudah melingkar di pinggang Alea.
"Temen-temen gue." Gerutunya.
Aidan terkekeh kecil. Tangannya mulai aktif meraba-raba bagian tubuh Alea yang menjadi favoritnya. Apalagi saat ini Alea hanya menggunakan tanktop dan hotpans membuat birahinya menjadi naik.
"Lo gak gendut. Tapi lo itu seksi." Bisik Aidan di telinga Alea yang membuat tubuh Alea meremang.
"Ish... Lepasin tangan lo!" Alea memberontak mencoba melepaskan diri dari kurungan Aidan.
Bukannya melepas, Aidan justru semakin mempererat pelukannya di pinggang Alea.
"Dasar mesum!!" Jerit Alea menginjak kaki Aidan hingga pelukan pria itu seketika terlepas.
Melihat Alea yang mencoba kabur dari dirinya membuat Aidan dengan cepat mengejar wanita itu yang hendak masuk ke dalam kamar mandi.
"Mau kemana, hem?" Ucap Aidan saat sudah berhasil menangkap tubuh nakal istrinya. "Lo mau kabur gitu aja setelah membuat gue seperti ini." Lirihnya menggesekkan bagian tubuhnya yang mengeras.
"Aidan... Gue mau mandi..." Alea menggerak-gerakkan tubuhnya berusaha melepaskan diri dari suami mesumnya.
Dan sialnya gerakan Alea itu membuat selembar handuk yang melilit pinggang Aidan pun terlepas.
"Aaaa...." Jerit Alea ketika Aidan membalikkan tubuhnya dan melihat sesuatu terpampang nyata tanpa penghalang di depannya.
"Lo yang memancing gue kali ini." Dengan sekali gerakan, Aidan membopong tubuh Alea menuju ranjang.
"Turunkan gue...!!" Alea memukul pelan dada bidang Aidan. "Gue bau Aidan... Gue mau mandi...!!" Alea masih berusaha lepas dari singa kelaparan itu.
"Nanti saja mandinya. Sekarang ada pekerjaan yang harus kita selesaikan." Ucapnya kemudian menindih tubuh istrinya.
Huh, dasar si kulkas mesum.
***
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺