
Alea memasuki rumahnya dengan langkah gontai. Tubuhnya sungguh lelah mengikuti kemauan Cika dan Maudy yang mengajaknya kesana kemari di dalam mall.
"Apa Aidan belum pulang?" Kening Alea mengkerut mendapati rumahnya masih dalam keadaan gelap.
"Sepertinya dia memang belum pulang." Dengus Alea menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
Alea yang sudah malas bergerak itu pun memutuskan untuk istirahat di sofa barang sejenak sembari menunggu suaminya pulang. Tak lama dengkuran halus terdengar menandakan Alea sudah lelap dalam tidurnya.
Pukul 11 malam Aidan pun pulang ke rumah. Lagi-lagi Aidan mendapatkan istrinya itu tertidur tidak berada di dalam kamarnya. Aidan pun berjalan mendekat ke arah Alea yang sedang tertidur pulas di atas sofa masih menggunakan pakaiannya tadi siang.
Aidan sejenak memandang wajah Alea yang begitu cantik saat tidur. Namun mengingat kejadian beberapa jam yang lalu membuat rahang Aidan kembali mengeras. Cukup lama Aidan memandangi wajah Alea. Aidan pun tidak sadar jika saat ini Alea sudah membuka kedua matanya.
"Lo baru pulang?" Tanya Alea dengan suara serak.
Aidan mengangguk. Kemudian menjauhkan tubuhnya dari Alea. Alea merasa heran dengan reaksi Aidan yang terkesan aneh. Kemudian ia pun bangkit dari pembaringan.
"Lo mau kemana?" Tanya Alea melihat Aidan yang hendak pergi.
Aidan tidak menjawab. Namun terdengar hembusan kasar nafasnya.
"Lo kenapa sih?" Tanya Alea merasa aneh.
"Gue gak apa-apa." Balas Aidan dengan datar kemudian beranjak pergi menaiki tangga.
"Aidan kenapa sih?" Raut wajah Alea nampak sedih. Kemudian ia pun turut mengikuti langkah Aidan menuju kamarnya.
"Bukannya tadi pagi baik-baik aja? Apa gue ada salah?" Alea nampak mematung melihat pintu kamar Aidan yang sudah tertutup rapat.
"Huh, sudahlah..." Lirihnya kemudian masuk ke dalam kamar.
Setelah membersihkan tubuhnya, Alea yang hendak tidur itu pun teringat kembali dengan sikap Aidan. Ia memang sudah hampir terbiasa dengan wajah datar suaminya itu. Namun ki ini Alea dapat menangkap sesuatu yang berbeda.
Merasa hatinya tak kunjung tenang, Alea pun beranjak keluar dari dalam kamarnya.
Dengan meyakinkan dirinya Alea pun berniat menemui Aidan.
Ceklek
Pintu kamar Aidan pun terbuka. Alea sejenak terpaku pada pemandangan di depannya saat ini. Wajah Aidan nampak begitu segar dengan rambut basah yang acak-acakan. Sepertinya Aidan juga baru selesai mandi.
"Kenapa?" Tanyanya dengan nada datar.
"Boleh gue bicara sebentar?" Pinta Alea menunduk. Ia sungguh tidak sanggup menatap mata tajam Aidan.
Aidan pun membuka lebar pintu kamarnya.
"Masuk!" Titahnya.
Alea menurut.
"Mau bicara apa?" Tanya Aidan tanpa basa-basi. Saat ini ia sudah berada di depan Alea yang tengah duduk di tepi ranjang.
"Apa gue ada salah sama lo?" Tanya Alea hati-hati.
"Lo merasa ada salah sama gue?" Bukannya menjawab, Aidan justru balik bertanya. "Kemana aja lo sampe malam?" Tanya Aidan mengintimidasi.
"Bukannya gue udah bilang kalau gue udah ada janji dengan Cika dan Maudy mau nonton." Balas Alea jujur.
Aidan nampak berdecih. "Mau nonton sama Cika dan Maudy atau lo juga ingin bermesraan dengan cowok lain?"
"Maksud lo apa sih? Gue gak ngerti!" Cetus Alea tak suka.
"Apa lo pikir gue gak tau jika tadi lo bukan hanya pergi dengan Cika dan Maudy?" Tekan Aidan menatap tajam Alea.
**