
Tatapan semua orang di meja makan kini tertuju pada Velissa yang sedang menanti jawaban dari Alea. Alea menghela nafasnya karna melihat Velissa yang masih berdiri menanti jawaban darinya.
"Lo gak lihat kalau gue sedang sarapan di sini?" Jawab Alea menyematkan senyum tipis di bibirnya.
"Lo sendiri ngapain pagi-pagi datang ke sini?" Tanya Alea balik.
"Gue kan udah biasa datang ke sini." Ucap Velissa penuh penekanan. "Dan gue baru pertama kali lihat lo ada di sini." Cibirnya.
"Emh, Velissa... Ayo duduk dulu sayang..." Ucap Bunda Vara memecahkan perdebatan kecil kedua wanita itu.
Velissa mengangguk tersenyum. Namun hatinya belum puas dengan jawaban Alea. Hatinya bertanya-tanya sedang apa Alea di rumah Aidan pagi-pagi begini. Velissa pun memutar meja makan untuk duduk di kursi kosong di depan Aidan.
Tatapan Velissa terkunci pada Alea yang makan lebih cepat dibandingkan Aidan. Velissa menyunggingkan senyum sinis melihat tingkah Alea yang jauh dari kata anggun. Velissa yakin jika Aidan pasti merasa jijik melihat wanita itu karna kini noda saos nampak tertinggal di sudut bibir Alea mengingat Aidan merupakan orang yang bersih.
Rahang Velissa nyaris terjatuh dari tempatnya saat melihat Aidan mengelap noda saos di bibir Alea.
"Kan udah dibilang pelan-pelan makannya." Kepala Aidan menggeleng melihat tingkah makan Alea yang seperti anak-anak. Bahkan Alea melupakan jika saat ini mereka sedang berada di rumah orang tua Aidan.
Aidan hanya menyengir sebagai jawaban. "Habisnya masakan Bunda enak banget. Pantesan aja lo suruh gue belajar masak sama Bunda." Ucap Alea pelan namun tetap terdengar oleh Velissa.
"Uhuk.. Uhuk.." Velissa terbatuk saat mendengarkan samar-samar ucapan Alea.
"Kamu tidak apa-apa nak?" Bunda Vara memasang wajah khawatir.
Velissa dengan cepat menggeleng dan segera meneguk air putih di hadapannya. Sarapan pagi itu pun berlanjut dengan hati Velissa yang terasa terbakar melihat sikap manis Aidan pada Alea. Di dalam benaknya Velissa bertanya-tanya tentang hubungan mereka berdua mengingat kemarin Aidan juga menarik tangan Alea saat di kampus.
"Oh iya Tante. Ini ada titipan dari Mama buat Tante." Velissa menyerahkan paper bag bewarna coklat muda ke pada Bunda Vara setelah kembali dari mobilnya.
"Apa ini sayang? Jadi repot-repot begini." Bunda Vara merasa sungkan. Kemudian melihat isi dalam paper bag.
"Gak repot kok Tante. Kebetulan ada sedikit oleh-oleh dari Mama." Velissa tersenyum. Manik matanya menatap Alea yang tengah sibuk dengan ponselnya. Velissa juga berbicara sedikit keras disetiap pembicaraan mereka agar Alea mendengarnya.
"Lo masih mau di sini atau ikut berangkat ke kampus?" Tanya Aidan ke arah Velissa.
"Gue ikut ke kampus dong. Hari ini kan kita ada kelas pagi." Velissa segera bangkit.
Aidan, Alea dan Velissa pun berpamitan pada Bunda Vara. Mereka pun segera berangkat menuju kampus dengan mobil masing-masing.
"Aidan tunggu..." Velissa menahan pergelangan tangan Aidan saat pria itu hendak masuk ke dalam kelas.
"Ada apa?" Tanya Aidan datar.
"Lo ada hubungan apa dengan cewek bar-bar itu?" Tanya Velissa penuh keingintahuaan.
"Seperti yang lo lihat. Gue dan Alea hanya berteman. Namun tidak tau jika besok." Jawabnya seadanya.
**
Lanjut?
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺