My Teacher "I Love You"

My Teacher "I Love You"
Kerapuhan Jihan



Sean dan para sahabatnya tengah mengendarai motor Mereka dengan kecepatan di atas rata-rata guna mempercepat untuk segera sampai pada tujuannya.


Mereka menatap sebuah rumah yang tampak sederhana dan sejuk dengan halaman yang luas dan di penuhi dengan bunga dan pepohonan kecil.


Sean di sambut oleh Arman yang sudah menunggunya sedari tadi


"Dimana jihan,?" Tanya sean to the point


Arman langsung berjalan dan di ikuti oleh sean dan sahabatnya.


Di lantai tiga tampak dinda dan sofi yang sedang berdiri di samping pintu dengan saling berpelukan,membuat mereka sempat bingung sampai akhirnya mendengar suara Teriakan yang berasal dari dalam


"Aakkhhhh"


Sean langsung masuk di ikuti yang lainnya,di samping pintu seorang pria tengah berdiri dengan jarak yang jauh dari keberadaan jihan saat ini,jihan tengah berada di sebuah jendela kaca yang cukup besar duduk menatap lurus ke luar yang tampak padatnya kota Tampak jelas dari tempat dimana jihan berada


Sean hendak maju untuk menenangkan jihan,tapi tangannya di cekal oleh seseorang,saat melihat orang tersebut sean sempat terkejut namun dengan cepat dia bisa mengatasi dan menutupinya.


"Harusnya saat ini dia bersama gue," Teriak jihan pada seseorang yang ada di hadapannya


Sean juga baru menyadari bahwa ada orang di depan jihan,tadi tidak terlihat karna terhalang oleh badan jihan


"Lo liat ini,Harusnya saat ini dia meminum nya dan ini tak akan terbuang sia sia,lo gak tau gimana rasanya kehilangan sesuatu yang berharga yang di perjuangkan sekuat tenaga," jihan terus meluapkan emosi pada orang tersebut


"Dan Sekarang sahabat gue terkapar di rumah sakit gara-gara lo,sebisa mungkin gue nutupi perasaan gue di depan mereka supaya mereka tidak merasakan kesedihan gue,tapi setiap kali gue melihat sahabat gue yang lemah karna berkorban nyawa demi nyelametin gue bayangan kejadian itu selalu membuat gue merasa bersalah" lanjut jihan


"Maafin gue,,,gue ngaku salah,tapi gue tidak ada maksud buat celakain lo,gue sengaja menantang Arman supaya lo segera dapat bantuan,tapi di luar dugaan dia malah menyerang lo" ucap laki-laki tersebut merasa bersalah


"Maaf lo gak bisa mengembalikan nyawa anak gue," Bentak jihan dengan lantang


mereka semua tertegun melihat jihan yang terlihat sangat berani


"Gue tau lo sahabat yang Arman jaga,dan gue gak perna berfikir sedikitpun buat celakain sahabatnya termasuk lo" Jelas dia


"Gue hanya mengiyakan saat anet menyuruh gue baut menyerang lo karna sebelumnya gue memang belum perna melihat wajah asli lo" tambahnya lagi


"Apa lo bilang,Anet,,?" Tanya jihan memastikan


Begitu juga dengan orang-orang yang berada di sana,mereka juga terkejut saat tau siapa dalang di balik kejadian ini.


"Dan dia masih merencanakan hal lain untuk lo,anet menginginkan suami lo dan akan melakukan apapun untuk mendapatkan nya,bukan cuma lo tapi keluarga lo" Ucap Gerry menunduk


jihan tampak berjalan ke arah Gerry dengan sebuah tongkat baseball di tangannya.


"Berani lo sentuh keluarga gue,lo akan mati di tangan gue sendiri," Jihan kembali menundukkan badannya


"Ibu di balas ibu,adik di balas adik begitu seterusnya," Jihan memegang leher baju gerry yang sudah lemah tak berdaya


Jihan mengambil sebuah belati yang dia selipkan di celah celananya.


Semua terkejut melihat aksi jihan.


Jihan mengarahkan belati itu pada rahang gerry membuatnya sedikit terluka dan mengularkan darah,sedangkan gerry hanya terdiam dan memejamkan matanya karna untuk melawan pun dia sudah memiliki tenaga sama sekali.


Saat jihan semakin menekan belati itu sebuah tangan menggenggam tangan jihan,Jihan merasakan genggaman tangan yang sangat dingin menyentuhnya.


Jihan menoleh ke arah tangan tersebut dimana ubay berdiri di samping nya dengan senyuman manisnya,menggelengkan kepalanya agar jihan menghentikan aksinya.


Jihan langsung memeluk ubay dengan sangat erat,begitu juga dengan ubay yang membalas pelukan sahabatnya yang sudah seperti kakaknya sendiri.


"Jangan gini,anak lo pasti sedih melihat seperti ini," ucap ubay lemah karna kondisinya yang masih sangat lemah


"Anet bay,,dia yang membuat gue kehilangan dia" Isak tangis jihan kembali terdengar di dalam pelukan ubay


jangan tanya sean,sedari tadi dia menahan amarah dengan tangan yang terkepal dan mata yang memerah


"Lo gak kasian sama suami lo,dia pasti sedih liat lo seperti ini" ubay menoleh ke arah Sean berdiri


jihan mengikuti pandangan ubay,betapa terkejutnya jihan mendapati sean berdiri di sana dengan tatapan sedih dan mata yang berkaca-kaca


"Samperin gih" Ubay melepaskan pelukannya dan sedikit mendorong jihan


Dengan langkah pelan jihan mendekati suaminya yang terus menatap nya dengan tatapan yang begitu menyedihkan


dengan langkah lebarnya sean langsung menarik jihan ke dalam pelukannya,mencium puncak kepala jihan berulang kali.


"Jangan seperti ini,mas tak sanggup melihat kamu seperti ini" ucap Sean masih memeluk jihan


"Aku gak bisa jaga dia mas,aku gak becus jadi ibu" Gumam jihan meremas pakaian sean di bagian belakang


"Enggak sayang,,kamu sudah berusaha keras menjaganya,kamu ibu yang baik disini mas yang Salah tidak bisa melindungi kalian" Ucap Sean penuh sesal menangkup wajah jihan dan mencium keningnya


"Maafin gue ji,karna tak bisa menjaga lo" Rendy ikut bersuara di belakang sean dengan perasaan bersalah nya