
"Sayang kamu tak apa-apa kan?" Tanya sean khawatir
"Aku tak apa-apa mas,tapi orang tadi" Ucap jihan mengingat peristiwa yang baru saja terjadi dan menoleh pada orang yang baru di tolongnya
"Anda baik-baik saja kan?" Tanya jihan pada orang tersebut yang kini tengah di bantu berdiri oleh ubay Dan razi
"Iya saya tidak kenapa napa,terimakasih sudah...." Ucapannya terhenti saat mengetahui siapa orang yang berada di hadapannya
"Sayang,,kamu bener tidak apa-apa kan,,?" Sean memeriksa tubuh jihan dari atas sampai ujung kaki
"Aku baik-baik aja mas" jawab jihan mengelus lengan suaminya memberikan senyum terbaiknya agar sean tidak mengkhawatirkannya yang benar tidak kenapa kenapa
"Bapak tidak apa-apa?" Jihan mendekat pada seseorang yang baru dia tolong beberapa menit yang lalu
"Saya tidak apa-apa,,terimakasih sudah menolong saya" Ucapnya tulus
"Kamu baik-baik saja kan,?" Tanya nya lagi
"Saya baik-baik saja pak,lain kali bapak hati hati,sekarang bapak beruntung tapi belum tentu esoknya bapak juga akan beruntung,bapak juga belum punya istri kalo mati muda apa gak penasaran gitu" Awalnya ucapan jihan begitu bijaksana membuat yang lainnya sedikt kagum,tapi tidak dengan ucapannya di akhir,mereka semua hanya bisa mengulum bibirnya menahan tawa.
Bisa-bisanya jihan menasehati tapi ujungnya seolah menghina nya yang sampai saat ini belum juga mempunyai Istri.
"Kamu kalau mau kasih nasehat gak usah sampai menghina Juga" ucapnya dengan kesal
"Saya kan bicara yang sebenarnya juga,bapak kan belum punya istri iya kan mas" ucapnya meminta dukungan dari suaminya
"Bener sayang,,kamu tak salah" ucap Sean mengiyakan ucapan sang istri dengan senyuman miring tertuju pada orang yang di hadapannya
"Terserah kamu sajalah,ya sudah saya pamit buru-buru mau isi kelas,sekali lagi terimakasih sudah menyelamatkan saya" Ucapnya lalu pergi untuk tidak memperpanjang hal yang tidak penting menurut nya
"Di kasih tau malah gak terima,gimana sih pak sandy itu" gerutu jihan
"Gimana dia mau terima kalau lo bukan cuma ngasih tau,tapi menghina statusnya juga yang jomblo" Timpal rendy tertawa
"Dasar mulut cabe" dinda yang geram mencubit bibir jihan
"Tangan lo di jaga yaa,ini aset berharga buat suami gue kalo lecet gimana" Jihan menepis tangan dinda dan mengusap bibirnya yang habis di cubit oleh dinda
"Omess,," Dinda dan sofi berucap bersamaan
"Udah ayo balik kampus," ajak razi
###
Sean dan juhan memutuskan untuk ke kantor terlebih dahulu karna sean mau mengambil beberapa berkas yang di lupakan tadi.
"Mas,,," jihan tampak ragu saat memanggil sean
"Iya sayang kenapa,?" Sean menoleh ke samping menatap sebentar pada jihan
"katakanlah" Sean seolah tau jika jihan seolah dilanda keraguan
"eemmm,,,,Mas sama anet itu sebenarnya gimana,?" Pertanyaan yang terlontar begitu saja dari mulut jihan
"Kenapa Tanya seperti itu sayang,,hemm,katakan sama mas jangan ada yang di tutupi" Sean mengacak rambut jihan lalu menggenggam tangan jihan seolah memberikan keyakinan padanya
"Entar aja deh kalo udah di rumah,panjang ceritanya" Ucap jihan sambil memperlihatkan deretan giginya bagian depan.
"Biasaan,nanti harus cerita pokoknya,mas gak suka kamu main rahasia rahasiaan sama mas,mas merasa gak di anggap gitu" Ucap Sean tersenyum
Di kantor
"Selamat siang tuan muda,nona muda,," Sapa satpam yang berjaga
"siang juga pak," bukan sean yang menjawab melainkan jihan sedangkan sean hanya menganggukkan kepalanya
"kami masuk dulu ya pak," Jihan menundukkan kepalanya sedikit pada satpam tersebut
"siahkan nona muda" Balas nya juga
"Nona muda sopan sekali,tak salah tuan muda memilih dia sebagai istri,semoga kalian selalu bahagia" Gumam nya sambil menatap punggung keduanya yang mulai menjauh
###
"Berani beraninya dia menghina kamu seperti itu" sean Tampak mengepalkan tangannya mendengar cerita jihan tentang anet
"Mas,,kenapa anet sampai bicara seperti itu sama aku,?" Tanya Jihan lagi
Sean tampak menarik nafasnya dan mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.