
Tenda mereka sudah kelihatan, namun masih sedikit jauh,jihan mengusap keringat yang bercucuran di wajahnya.
"Capek gue," ucap jihan
"Siapa suruh mainnya kejauhan,habis ngapain aja lo" Tanya dinda penuh Selidik
"Apaan sih lo," jihan menjitak kening dinda
"Ubay gendong..." ucap merentangkan kedua tangannya
"Lapor pak,,, bininya minta gendong sama saya" ujar ubay sedikit berteriak
"Kampret,,,," mereka tertawa melihat wajah kesal jihan lalu jihan mengejar ubay dengan sebuah ranting kayu di tangannya.
Sean yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala,namun hatinya menghangat melihat senyum dan tawa sang istri bersama dengan sahabatnya.
Setelah sedikit jauh ubay menghentikan langkahnya lalu menunduk.
Jihan yang mengerti maksud ubay langsung melompat naik ke punggung ubay.
"Wahhh pak sean kalah cepat sama ubay tuh" ejek razi sembari tertawa
"Tuh bocah harus di kasih pelajaran" ucap Sean kesal melihat ubay Yang setengah berlari dengan jihan yang berada di punggungnya.
Lalu di susul oleh sofi yang di gendong oleh razi.
"Arman,,, gue juga mau di gendong" rengek dinda
"Ogah,minta gendong tuh sama pak sean,entar tukeran sama ubay" ucap Arman enteng
"Dasar beruang kutub" dinda menjambak rambut Arman
"Sini biar gue gendong lo" Tawar rendy
"Emang kak rendy masih kuat" ucap dinda mengejek
"Heh bocil,lo kira gue udah bangkotan apa yang gak bakalan kuat gendong lo,bahkan sepuluh biji lo gue sanggup" ucap rendy yang tak terima dengan perkataan dinda yang terkesan meremehkan
"Ya udah ayo buktikan,sini cepetan" ujar Dinda melambaikan tangannya meminta rendy menunduk di depannya lalu melompat naik ke punggung rendy
"Yeee,,,Ayo kak ren,semangat larinya" teriak dinda saat dia sudah berada dekat dengan jihan dan sofi
"Hahh,,, kok dinda bisa sama kak rendy sih" ujar jihan Menatap pada sofi
"Mana gue tau,lo tanya aja sama tuh anak," jawab sofi menunjuk dinda dengan dagunya.
"Pegangan lagi ji gue bakal lari" perintah ubay
"Oke Siap,,,Gooo!!!" Teriak jihan dengan mengacungkan kepalan tangannya memberikan aba-aba pada yang lain
Mereka tertawa bersama,berlari saling mengejar seperti anak kecil yang tak memiliki beban.
sikap mereka berbeda jauh jika bersama dengan orang lain. mereka bersikap seperti itu ketikaago bersama
"Ahhh capek juga" seru jihan saat sudah sampai di depan tendanya
"Capek pala lo peyang,.yang ada pinggang gue encok gara² gendong lo" bantah ubay mendengar jihan mengeluh capek
"Heheh,,,Uluh uluh adiknya kakak ji yang manis,makasih ya udah gendong,entar balik dari sini kita party okeey" ucap jihan sambil mencubit kedua pipi ubay gemas
"Iya,,,kalo perlu kita nginap di club sekalian" jihan memastikan
"Kheemm"
Jihan melupakan keberadaan sean yang dari tadi bersama dengannya.
"Gak ada acara gituan gak baik" tegas sean menatap tajam jihan
"Hahahah kicep kan lo,tau takut juga ternyata" Tawa dinda dan lainnya melihat wajah pias jihan
Mereka bergabung bersama,memasak untuk makan malam nanti
"Mas,,kamu kok masih di sini," Tanya jihan saat di samping sean yang tengah memasak lauk buat makan mereka.
"Kamu ngusir aku,heh?" Tanya balik sean membuat jihan gelapan
"Bukan itu maksudnya,kamu gak takut yang lain curiga apa" jelas jihan
"Gak bakal kan ada yang curiga,kalo pun yang lain curiga palingan juga menganggapnya kalau kita pacaran" jawaban enteng dari sean
"Terserah deh" jihan pasrah
Kini sudah menunjukkan jam tujuh malam, mereka semua bersiap untuk makan malam di tempat masing-masing.
Ada yang makan rame-rame ada pula yang makan hanya dengan kelompok masing-masing.
Jihan mengambil makanan yang tadi sore ia masak bersama.
Jihan makan bersama dengan tiga kelompok lainnya termasuk kelompok Arman salah satunya.
Sean bersama Angga dan rendy bergabung bersama mereka,sean duduk di sebelah jihan yang kosong.
"Malam pak,," Sapa mereka semua
"Malam juga" jawab sean
"Ayo makan, habis itu kita kumpul lagi seperti kemaren," ujar sean
Mereka mengambil makanan pada piring masing-masing,jihan mengambilkan makanan buat sean.
Mereka menganggap bahwa itu hal wajar karna sean adalah gurunya yang kebetulan juga bergabung dan duduk di sebelah jihan.
"Pepet terus neng ji,," Seru Aji di iringi tawa yang lainnya
"Kakak ji yang cantik,punya adek mana?" Ucap ubay memelas mengangkat piringnya ke arah jihan
"Kebiasaan manjanya dimanapun gak hilang" celetuk jihan menatap malas ubay
"Kamu punya tangan kan,sudah ambil sendiri itu" Ucap Sean yang terlihat tidak nyaman melihat kedekatan jihan dan ubay
"Bapak juga punya tangan kenapa tadi di ambilin sama jihan," goda ubay dengan tersenyum sinis ke arah Sean
"Dasar bocah tengil" gumam Sean yang masih bisa di dengar oleh Angga dan rendy
Setelah selesai dengan drama ubay Yang seperti anak kecil,akhirnya mereka menyelesaikan makan malam nya.