
"Hei,,ngapain di sini sendirian" seseorang menepuk pundak jihan dari belakang
"Gue kira siapa,ngagetin aja lo" Jihan menoleh ke belakang dan melihat max yang berdiri tegak dan tersenyum padanya
"Lo gak gabung sama sahabat lo,biasanya kalian selalu bareng" Tanya max lagi
"Bentar lagi mereka dateng kok lagi ke kantin beli makan,lo mau berdiri aja di situ" jihan menoleh kembali pada yang masih berdiri di belakangnya
"Emang boleh," Max memastikan
"Ya boleh lah,,lo kira ini tempat punya gue apa" ucap jihan terkekeh
Max kemudian duduk di bangku sebelah jihan,tak lama sahabat jihan datang dan melihat Max yang sedang ngobrol bersama jihan.
"Ya Ampun Max gue cariin ternyata lo nangkring di sini" teriak ivan berlari dari arah berlawanan
"Lo pikir gue gorengan" Max memukul pelan pundak ivan
"Ikut gue sekarang ada yang mau gue omongin,penting" ivan menarik tangan Max menjauh dari jihan dan sahabatnya
"Apaan sih van narik-narik gue bisa jalan sendiri" Max melepaskan cekalan tangan ivan
"Max Gawat si beni ngincar jihan kayaknya" ivan langsung bicara point nya
"Maksud lo apa bilang beni ngincar jihan" ucap Max yang masih belum ngerti dengan apa yang ivan Maksud
"Gak tau pasti sih,tapi barusan gue gak sengaja lewat di depan kantin dan mendengar beni bertanya tentang jihan pada salah satu anak sekolah di sini" terang dafa pada Max
"Apa rencana beni sama jihan,jika hanya karna gue berteman dengan rasanya kurang masuk akal,kecuali kalo dia memang bener tertarik dengan jihan" batin max berpikir
"Nih anak bener-bener,orang ngomong panjang lebar malah bengong" Ucap ivan
"Gue cuma mikir,apa iya beni suka sama jihan ya" Max mengeluarkan pikirannya.
"Bisa juga sih," ivan dan dafa bersamaan
Di sisi lain.
Brughkkk
"Aduhh,,maaf,,maaf saya tidak sengaja" Ucap jihan sambil membantu seseorang yang di tabraknya mengambil buku yang berserakan di lantai
"Lain kali kalau jalan hati-hati dan pakai mata dengan benar" ketusnya lalu mengambil bukunya di tangan jihan dan berlalu pergi begitu saja
"Yaa ampun,,bukan terima kasih malah ngomel udah di bantuin juga,lagian gue kan udah minta maaf" gumam jihan
Ketika membuka pintu rooftop jihan di kejutkan oleh seseorang yang Tiba-tiba menarik tangannya,membuat jihan menabrak dada orang tersebut
"Aaaaa lepasin" teriak jihan sambil berontak
"Sayang," Panggil sean lembut
"Mas,," jihan mendongakkan kepalanya memastikan
"Ya Ampun mas,bikin aku kaget aja,aku kira siapa" ucap jihan lega
"Emang kamu pikir siapa,hem" sean menarik pinggang jihan merapatkan pada tubuhnya
"Gak ada,mas ngapain di sini,ini lepasin gak enak nanti di liatin anak-anak,ayo ke sana aku udah di tungguin" jihan melepaskan tangan sean yang berada di pinggangnya berjalan menuju tempat mereka biasanya
Sean hanya bisa mengalah melihat sikap cuek jihan terhadapnya.
"Lahh,, pada kemana Ini kok kosong" gumam jihan yang masih bisa di dengar oleh sean
Sean menutup pintu itu dengan rapat,dan berjalan mendekati jihan yang berdiri membelakinginya
Sean memeluknya dari belakang menyandarkan kepalanya pada bahu jihan,menghirup dalam-dalam aroma tubuh sang istri yang menjadi candu nya.
"Maafin mas yaa,,semalam mas ninggalin kamu sendiri di rumah" sean berkata dengan posisi yang sama,sedangkan jihan masih tetap diam tanpa menjawab sepatah katapun
"Gara-gara hal sepele mas pergi tanpa bertanya dulu sama kamu" lanjut sean
"Maksud mas apa,?" Jihan mengangkat sebelah alisnya Mendengar pengakuan sean
"Mas semalam gak sengaja liat kamu memandangi video rehan" mendengar jawaban sean membuat jihan refleks langsung membalikkan badannya untuk melihat sang suami
"Sayang jangan marah yaa,mas cuma takut kamu akan kembali lagi dengan dia,liat kamu memandang dia seperti itu mas takut" jelas sean mengambil kedua tangan jihan dan menggenggamnya dengan erat.
Sedangkan jihan tersenyum geli dengan sikap suaminya itu.
"Mas ninggalin aku gitu aja gara-gara cemburu buta mas itu" Ucap jihan dan sean hanya terdiam
"Gemes banget sih,," jihan tak kuasa menahan diri dengan tingkah suaminya
Jihan mencubit gemas kedua pipi sean lalu dengan cepat mencium bibirnya.
"Dasar posesif,,,mas tau gak aku semalam sempat berpikiran jelek tentang mas,mas pergi gitu aja tidak seperti biasanya,aku sedih aku takut di tinggal mas,aku juga takut semalam hujan deras dan petirnya aku telpon malah gak di angkat" jihan menjelaskan perasaan nya waktu di tinggal sean
"Maafin mas yaa,,mas janji gak akan ulangi lagi" sean mencium seluruh wajah jihan tanpa celah membuat jihan merasa geli