
Di sebuah bukit yang cukup jauh dari tempat semua murid beristirahat sean membawa jihan
"Lepasin,,lo apa-apaan sih" jihan menghempaskan tangan sean
"Apa yang lo lakukan tadi" Tanya sean dengan tatapan mengintimidasi
"Bukan urusan lo," ketus jihan
"Jelas itu urusan gue,lo istri gue jihan" ucap Sean geram
"Sejak kapan lo nganggap gue istri lo" Kata-kata jihan bagaikan devaju
Membuat sean tak mampu menjawabnya
"gue enggak suka dengan apa yang lo lakukan barusan" sean menatap tajam jihan
"gue gak butuh pendapat lo,suka atau tidaknya lo itu bukan urusan gue,terserah lo" kata jihan
"gue melarang lo karna gue perduli sama lo,paham gak sih" geram sean
"Cukup lo permainkan perasaan gue sean,jangan memberi harapan gue lagi,gue gak sekuat itu,gue mohon" ucap jihan dengan suara yang mulai melemah dan serak
"Kenyataan pas gue tau lo gak pernah nganggap gue sebagai istri lo,itu lebih menyakitkan dari pada saat gue menjelaskan dan memutuskan hubungan gue dengan rehan"
Jihan terdiam menghela nafas
"Gue meyakinkan hati gue dan memilih lo,tapi apa yang gue dapatkan. Lagi-lagi sakit,gue tak sanggup lagi sean.Hati gue sakit untuk yang kedua kalinya,Gue juga punya perasaan.
Gue gak mau terlalu dalam lagi mengharapkan cinta yang mungkin tidak akan bisa gue miliki, biarkan gue pergi agar kita tidak saling menyakiti" Ucapnya tersenyum dengan airmata yang mengalir deras di pipinya
Sean mematung mendengar perkataan jihan,ada rasa bahagia di hatinya namun juga Amarah ketika jihan memintanya untuk membiarkan jihan pergi.
Jihan berbalik hendak pergi namun dengan cepat sean menarik tangan nya.
"Jadi maksud lo, lo menyesal mencintai gue gitu,,hemm?" Tanya sean dengan wajah dingin dan tatapan tajamnya
"Gue tidak perna menyesal mencintai lo,tapi gue juga tak mau memaksa lo untuk mencintai gue,jadi jalan terbaik untuk kita adalah lo melepaskan.....
Belum selesai jihan dengan ucapannya, sean terlebih dahulu melahap bibir jihan, merasakan air mata yang mengalir dari mata jihan.
"Jangan pernah meminta gue untuk melepaskan lo,itu tidak akan pernah terjadi,karna sampai kapanpun lo akan tetap jadi milik gue" ucapnya melepaskan tautan bibirnya
"Lo egois sean" jihan memukul dada sean
"Gue gak egois karna gue gak mau kehilangan istri gue,katakan jika lo mencintai gue" Ucap Sean dengan tegas menatap dalam mata jihan
"Cukup sean jangan permainkan perasaan gue,"
Sean mencium dan ******* lembut bibir jihan,menahan tengkuk jihan untuk memperdalam ciumannya Lalu melepaskan bibirnya dari bibir jihan
"katakan jihan kalau lo memang mencintai gue" sean mengulangi perkataannya
"Cukup sean,,Gue memang mencintai lo,tapi melihat sikap lo beberapa hari ini gue sadar kalo lo,,,
belum juga jihan menyelesaikan perkataan nya sean sudah lebih dulu memotongnya
"Gue cinta sama lo jihan" Ucap Sean menatap lembut kedua mata jihan
"Apa maksud lo bicara seperti itu, lo mau mempermainkan gue heh" bantah jihan
"gue sebenarnya sakit hati saat liat lo bersama dengan pacar lo itu,melihat lo memeluk nya dengan penuh cinta membuat hati gue sakit ji,lo sadar gak sih" Lirih Sean
"Lo tau tentang gue dan rehan?" Tanya jihan dengan hati-hati
"Hem,,gue melihat sendiri saat lo bertemu dia di sekolah dan kemaren saat lo memeluknya dengan mesra saat di pantai" jelas sean dengan wajah dinginnya
"Jadi itu sebab kenapa kamu gak pulang malam itu?" Tanya jihan penasaran dan memastikan
"Hem,,," sean mengangguk
"aku bisa jelasin semuanya," kata jihan
"Ya,kamu memang harus menjelaskan itu" timpal sean
sean meraih tubuh jihan dan menggenggam kedua tangan jihan
"Jihan,,, Kamu mau kan memulai hubungan kita dari awal" ucap Sean serius menatap kedua mata jihan
"Bodohh,,kenapa masih Tanya lagi sih,kan kamu sendiri tadi yang bilang gak akan melepaskan aku sampai kapanpun" Ucap jihan membuat sean terkekeh,bisa-bisanya di saat dia serius istri nya itu malah mengatakan dirinya bodoh
"Makasih ji,kamu udah mau menerima aku" sean memeluk erat jihan
"Jangan seperti itu lagi ya,aku sedih kalo kamu bersikap seperti itu" jihan membalas pelukan sean tak kalah erat
"Kamu juga jangan ulangi lagi yang seperti tadi,mas gak suka" Ucap Sean dengan tegas
"Aku udah biasa gitu kalo lagi ada masalah" jelas jihan enteng membuat sean membulatkan matanya
"Mas gak suka kamu seperti itu,ingat mulai sekarang kurangi kebiasaan buruk itu"
"Siap pak....
Eemmmhhhh
Sean ******* dan menyesap bibir jihan dengan lembu, yang awalnya hanya lum***n kini menjadi semakin panas,tangan sean mengelus pundak jihan dan tangan satunya menahan tengkuk jihan.
Mereka melepaskan tautannya memasok oksigen sebanyak mungkin, lalu menyatukan kembali bibir mereka.
"Maaf aku kelepasan" ucap Sean mengusap sisa saliva nya di bibir jihan
"satu lagi,jangan panggil aku bapak" ucap Sean tak mau di bantah
"iya maseehhh" jawab jihan bercanda
"Sekarang kita kembali ke tempat camping,pasti temen kamu pada nyariin" ajak sean
"Ya tuhan,, lupa aku" jihan menepuk jidatnya
Mereka berlari sambil bergandengan tangan menuju tempat awal Mereka sampai, namun tidak ada satu orang pun disana.
"Jihan,,, lo dari mana aja sih," suara cempreng dinda langsung menyambut kedatangan mereka berdua saat turun dari bukit
"Ya ngapel lah orang punya laki juga,gak liat apa tuh tangan nempelnya udah kayak orang mau nyebrang" celetuk ubay
Mereka yang belum menyadari langsung mengikuti arah mata ubay
"Cieee yang udah baikan ya,,gak galau lagi kan" Goda sofi cekikikan
"Kayaknya kita mesti rayain ini,besok balik dari sini kita langsung ke tempat biasa gimana" usul razi
"Ide bagus tuh,gimana ji setuju gak. Lagian udah lama kita enggak....
"Diem gak lo" Dinda memukul kepala ubay
"Sakit bego" ubay mengusap kepalanya
"Hehehe maaf pak lupa kalo jihan udah punya pawang,tapi sekali-kali boleh lah pak" cengir ubay saat menyadari maksud dinda yang meminta nya untuk diam