
Tepat jam sembilan malam sean dan jihan kembali
"Mas itu bukannya Anet ya sepupu kamu" Tunjuk jihan pada seorang gadis yang ada di pinggir jalan bersama beberapa orang wanita dan pria yang mungkin itu temannya.
"Spertinya iya,tapi biarlah bukan urusan kita juga" ucap Sean atuh
Jihan hanya mengangguk mengiyakan mendengar perkataan
Tak lama mobil sean memasuki pekarangan rumahnya.
Di sisi lain
"Lo yakin net mau lakuin itu,?" Tanya salah satu teman anet
"Kenapa harus tidak yakin,gue melakukan ini demi cinta gue" Jawab anet dengan enteng
"Itu bukan cinta net tapi obsesi" Sambung salah satunya lagi
"Udah deh pusing gue dengerin lo pada,yang penting gue udah bayar lo pada buat bantu gue" Anet pergi begitu saja meninggalkan tempat tersebut
Anet mengendarai mobilnya dengan suara musik yang menyala cukup keras
"Apapun akan gue lakukan supaya bisa dapetin lo kak" Tiba-tiba wajah yang awalnya ceria kini berubah suram
"Gue juga tidak tau kenapa gue bisa se cinta ini sama lo,gue gak mau jadi saudara lo tapi istri lo" Ucap anet lagi.
***
Jihan baru bangun dari tidurnya karna merasakan gejolak pada perutnya
Dengan gerakan cepat jihan langsung Berlari ke kamar mandi,di kamar mandi jihan memuntahkan isi perutnya yang membuatnya lemas tak berdaya.
"Sayang,," Sean dengan sigap menopang tubuh jihan yang hampir terjatuh,waktu jihan turun dari ranjang sean merasa terganggu dengan gerakan kasar jihan sampai sean mendengar suara jihan yang mual-mual di kamar mandi.
Dengan sigap sean langsung mengangkat jihan membawanya ke ke tempat tidur.
Sean menempelkan tangannya di kening jihan memastikan keadaan jihan.
"Aku gak apa-apa mas,paling cuma masuk angin aja" Ucap jihan menurunkan tangan sean dan menggenggam nya.
Tanpa persetujuan dari jihan sean sudah menyuruh dokter keluarga nya untuk datang memeriksa jihan.
"Kamu diam di sini dulu ya bentar lagi dokter dateng" kata sean sambil menyingkirkan beberapa rambut jihan yang berantakan dan menyeka keringat di kening jihan
"Terserah lah,ngomong juga percuma gak bakal di dengerin" Gerutu jihan dengan memanyunkan bibirnya.
Cupp,,, mengecup bibir jihan
"Jangan menggerutu pada suami gak baik" Ucap Sean sambil mengelap bekas salivanya di bibir jihan
"ihh,,mas jorok tau,ngapain cium aku kan habis muntah jijik" Jihan hendak mengelap bibir sean yang baru saja menciumnya
"Mas gak jijik,dan tak ada kata jijik buat mas jika itu berasal dari diri kamu" Sean tersenyum menatap jihan
"Parah ini,,kayaknya gue gak boleh banyak² bawa ubay Dan razi kesini,jadi apa laki gue nantinya kalo kebanyakan gaul sama mereka" Gumam jihan yang masih terdengar jelas di telinga sean
Sean tertawa mendengar apa yang jihan katakan
"Kenapa kok ketawa" bingung jihan
"Gak apa-apa lucu aja liat kamu,gemes pengen makan,untung lagi sakit kalo enggak udah habis sekarang juga" sean mengacak rambut jihan
"Dikira aku makanan apa di makan" Timpal jihan
Tok tok tok
"Masuk,," Jawab sean
"Morning bro,,lama gak ketemu" Seseorang menggunakan jas putih dengan setelan dalamnya yang menggunakan piyama datang bersama Angga di belakangnya
Sean berdiri bersalaman layaknya para pria lainnya.
"Woww,,ini istri lo yaa,cantik banget istri lo sen," Ucapnya
"Udah gak udah banyak bacot masih pagi juga,mendingan lo buruan periksa dia" Angga mendorong bahu dokter tersebut
"Hai,,,kenalin gue Andi sahabat suami kulkas lo" Sapa dokter yang bernama Andi tersebut
"Hai juga pak dokter,Saya jihan" Balas jihan dengan senyuman manisnya
"Jangan terlalu formal biar gak canggung,panggil aja kayak lo manggil Angga dan rendy biar nyaman,Bisa gue mulai periksa nya?" Ucap Andi dengan senyuman yang ramah
"Silahkan kak" jawab jihan sedikit canggung
Andi mulai dari tekanan darah jihan dan keluhan nya.
"Lo mau ngapain" ucap Sean menahan tangan Andi
Ketika andi hendak memeriksa bagian perut jihan Tiba-tiba sean menghentikan gerakannya
"Ya mau periksa bini lo lah,lo gak liat ini apa,?" Jawab andi sambil menunjukkan Stetoskop di tangannya
"Tapi gak perlu pegang-pengang perut istri gue segala,lo modus yaa" tuduhnya
"Ya tuhan,,mimpi apa aku semalam dapat pasien goblok gini pagi-pagi lagi" ucap Andi geram memukul keningnya sendiri
sedangkan Angga hanya bisa mengulum bibirnya menahan tawa melihat tingkah bodoh sean,begitu juga jihan yang tak habis pikir dengan kelakuan suaminya itu.
"Lo bener-bener bucin" tanpa menunggu persetujuan dari sean lagi andi langsung memeriksa jihan