
Pagi hari Yang begitu cerah
Namun mendung Yang jihan rasa
Jihan memasuki area sekolah dengan langkah gontai,setelah memarkir motornya jihan memilih lebih dulu menuju kelasnya,jika biasanya jihan menunggu sahabatnya di area parkir,kini jihan memilih menunggunya di kelas
"Jihan Larasati,,," Teriak Sofi dari arah belakang
Jihan yang mendengarnya menghentikan langkahnya dan berbalik menatap kedua sahabatnya itu
"Apa sih fi,pagi-pagi udah teriak²,gak serek apa tenggorokan lo" Ujar jihan malas
"Lo tu ya,tumben-tumbenan gak nungguin kita,gak kayak biasanya, lo kenapa?" Selidik Sofi menatap Jihan
"Entar gue cerita,sekarang kita ke kelas dulu aja" ucap jihan berlalu pergi yang di ikuti kedua sahabatnya
Sepanjang waktu pelajaran berlangsung, jihan lebih banyak diam tak seperti biasanya yang banyak bertanya bahkan cerewet.
Jam istirahat pun berlangsung
Semua murid mulai berhamburan ada yang langsung menuju kantin,ada yang main di lapangan ada juga lebih memilih nongkrong di taman sekolah
Jihan kini yang tengah berada di taman bersama Ubay dan Razi,mereka memilih bersantai di bawah pohon rindang yang menyejukkan di samping sekolahnya, tempat itu pun terbilang sepi,namun tampak terlihat dari segala arah.
Jihan duduk bersandar pada pohon dengan posisi kaki selonjoran,dengan Razi yang duduk di belahnya,sedangkan ubay tidur terlentang dengan tasnya yang di jadikan bantal posisi kaki yang ada di tengah² antara jihan dan razi.
Mereka menunggu Dinda dan sofi yang sedang ke kantin membeli makanan.
"Ni,pesanan kalian" Ucap dinda duduk sambil meletakkan beberapa makanan
"Hem,,makasih kak dindaku sayang,," ucap ubay menunjukkan wajah sok imut nya
"Geli gue liat ko gitu bay,gak ada pantas²nya tau gak" Ejek Dinda
Sedangkan razi dan sofi hanya terkekeh dengan kelakuan dinda dan ubay
"Ji,,, Lo kenapa sih dari tadi banyak diem,gak seperti biasanya lo ada masalah?" Ucap sofi menatap jihan yang masih terdiam
Semua mata pun kini beralih menatap pada jihan
"Lo pada apaan sih ngeliatin gue gitu" Ucap jihan yang kurang nyaman dengan tatapan sahabatnya
"Lo sih aneh,mending lo cerita sama kita kalo ada masalah ji,kita sahabat gak ada main rahasia di antara kita,itu janji kita dulu,susah senang kita akan hadapi" Dinda meyakinkan jihan sambil mengelus punggung tangan sahabatnya
"Lo apa jihan,,," Potong dinda yang sudah tidak sabar
"Lo bisa diem dulu gak din,,itu jihan mau ngomong lo malah Potong" ujar razi menjitak kepala dinda
"Iya,,iya,,, Maaf abisnya si jihan lama" ucap dinda lagi
"Belum juga ada dua kata yang jihan ucapin,lo nya aja" sambung sofi
"Udah diam,biar gue ngomong dulu" lerai jihan dan mereka semua akhirnya diam dan patuh layak seorang anak yang menunggu Nasehat ibunya
"Gue akan menikah," ucap jihan sambil memejamkan kedua matanya
"What,,,?" Ucap dinda dan sofi bersamaan membulatkan matanya
Sedangkan Razi dan Ubay Hanya diam tanpa berkata apapun, kaget sudah pasti.
Namun Mereka masih menunggu penjelasan dari jihan
"Lo serius ji,, lo kan masih sekolah gimana dengan sekolah lo nanti kalo nikah?" Ucap sofi
"Gue belum tau juga soal itu,gue cuma baru di kasih tau kalo gue udah di jodohin sama anak sahabat bunda" jelas jihan lirih
"Terus lo sama Rehan gimana" ucap dinda pelan dan hati-hati
Mereka semua tau kalo jihan punya kekasih,namun sekarang rehan kekasih jihan tengah berada di luar negeri tengah melanjutkan kuliahnya, dan selama ini hubungan mereka juga terbilang harmonis
"Itu juga yang gue pikirin,di sisi lain gue gak bisa nolak karna gue merasa berhutang budi sama tante Sarah, dia yang udah biayain operasi bunda,di sisi lain gue juga masih sayang sama Rehan" Jelas jihan dengan mata yang sudah berkaca kaca
"Kenapa lo enggak bilang sama gue waktu itu jihan kalo lo butuh biaya buat biaya operasi bunda ji,gue kan bisa bantu lo,kalo bukan gue lo bisa minta bantuan arman,kenapa harus sama orang lain yang ujungnya lo sendiri yang susah" dinda berkata dengan Nada sedikit tinggi namun bergetar dan mata juga mulai berembun menahan tangisnya
"Gue gak enak sama lo din,gue udah banyak nyusahin kalian, dan untuk Arman gue waktu itu udah coba menghubungi dia tapi nomor nya gak aktif" lirih jihan
"Lo bodoh jihan Larasati,,Tau enggak lo bodoh paling bodoh. Apa perna gue merasa terbebani sama lo bukan cuma lo tapi kalian,lo semua itu saudara buat gue,jadi gak ada perna gue merasa terbebani sama kalian,justru gue senang kalo bisa berguna buat lo pada,, paham gak lo" Ucap dinda tegas pada mereka semua
Yang hanya bisa terdiam mendengar amarah dinda,,,
Mereka semua tau seperti apa dinda kalo sudah marah,dinda,sofi dan jihan sangat susah di kendalikan sudah marah. Apalagi jihan,namun jihan pembawaannya tenang,tidak seperti dinda dan sofi yang mudah tersulut emosi.
"Maafin gue din,,," Ucap jihan menunduk dengan berlinang air mata