
"Assalamualaikum" Jihan dan jeno mengucap salam bersamaan memasuki rumah sean
"Wa'alaikum salam" Jawab Mommy Sarah dan Bunda Ais juga bersamaan
"Bunda,," Jihan melangkah dengan cepat menghampiri bundanya yang tengah duduk santai bersama mommy sarah
Sebelum memeluk bundanya jihan tak lupa menyalami tangan mertuanya.
"Mommy terlupakan nih ceritanya,mentang-mentang ada Bunda ais Mommy jadi gak di anggap" Mommy Sarah dengan wajah memelas
"Mommy,,,Jangan ngomong gitu" Jihan melepaskan pelukannya beralih memeluk mertuanya
Mommy sarah juga membalas pelukan jihan dan tampak beberapa kali mencium ubun² jihan
"Mommy akan tetap selalu menjadi kesayangan aku,sama seperti Bunda,Karna jika bukan Mommy aku belum tentu bisa melihat Bunda sehat seperti sekarang ini,aku berhutang budi dan nyawa pada Mommy" Ucap jihan masih berada dalam pelukan mertuanya
"Jangan bicara seperti itu sayang,Mommy dan Bunda kamu sudah dari dulu bersahabat Bunda kamu sudah seperti kakak buat Mommy " Balas Mommy sarah membelai rambut jihan
"Tetap aja Mommy selain nyawa Bunda aku juga berhutang nyawa karna Mommy telah melahirkan suamiku,Makasih Mommy sudah mempercayai aku sebagai pendamping mas sean" Ujar jihan
Bunda Sarah dan Bunda Ais tersenyum mendengar apa yang jihan katakan
"Daddy dan Mommy benar tidak salah pilih Menantu,Terimakasih Ais sudah mendidik menantuku dengan baik" Mommy Sarah melepaskan pelukannya dan mencium pipi jihan
"Itu sudah menjadi tugas ku Sarah" Timpal Bunda ais
Tanpa mereka sadari seseorang tersenyum mendengar semua yang mereka katakan,
"Makasih Mommy daddy sudah memilihkan wanita terbaik untuk pendamping hidupku,makasih juga bunda karna telah mendidiknya dengan sangat baik" Batin sean menatap ketiga wanita yang berada di dalam rumahnya
"Ngapain di sini pak" Seseorang menepuk pundak sean
"Kamu,,Bikin kaget aja" Kesal Sean pada Ubay yang baru datang. sedangkan yang mengagetkan hanya cengengesan tanpa dosa
"Ngapain kamu disini?" Tanya sean lagi
"Di Suruh istri bapak" Jawab ubay berlalu meninggalkan sean sendiri di ambang pintu
"Assalamualaikum,,," Ucap ubay sedikit kencang
"Wa'alaikum salam,," Jawab sendiri dengan pelan namun masih jelas terdengar oleh ke empat orang yang berada di ruang keluarga
"Dasar tukang Onar" Celetuk jihan
"Eh ada ibunda ratuku yang cantik dan baik hati" Ubay berlalu dari Mommy Sarah dan beralih menyalami Bunda ais
"Ampun Bunda,, sakit Bunda,nanti ubay pulang ke rumah Bunda janji deh" ubay memohon dengan satu tangannya mengangkat menunjuk tanda V dan satunya lagi ikut memegang telinga nya yang di jewer Bunda Ais
"Awas kalau nanti tidak pulang,jangan panggil Bunda dengan sebutan Bunda lagi,Bunda tiga hari tiga malam tidak tenang tidur juga sering terjaga karna nungguin kamu pulang ini malah enak-enakan nongkrong dengan temennya yang tidak jelas itu" Bunda Ais melepaskan telinga ubay setelah melihat telinga ubay Yang memerah
"Maaf bunda,," Ucap ubay dengan rasa bersalah
"Dasar kurang ajar" Kali ini bukan Bunda ais lagi yang memukul ubay tetapi jihan
"Sakit ogeb" Ubay mengelus pundak nya yang habis di pukul oleh jihan
"Lo udah bikin Bunda khawatir ubay,awas lo ya gitu lagi,Baik jay atau lo kalo sampai bikin Bunda kepikiran gitu lagi habis lo nanti di tangan gue" Tegas jihan dengan sorot mata yang tajam
Ubay yang sudah sangat hafal dengan tatapan itu hanya diam tanpa mengeluarkan pembelaan apapun,begitu juga dengan jay Yang baru masuk ikut gemetar mendengar ancaman dari kakaknya.
Banyak yang merasa heran dengan ketakutan dua pemuda itu kepada jihan,Namun mereka tidak terlalu menganggap itu serius.
"Jangan terlalu sering marahin ubay ji,entar punya anak model dia tau rasa lo" Jihan menoleh ke arah sumber suara yang tak lain adalah dinda bersama yang lain
Entah sejak kapan mereka sudah berada di ruangan itu.
"Mana bisa begitu bapaknya model gini tapi anaknya model ini" Tunjuk jihan pada sean dan ubay
"Wahh,,maksud lo gue jelek gitu" Ubay angkat bicara
"Gue gak bilang lo jelek tapi gue gak mau kalo anak gue kelakuan nya kayak lo,bikin pusing" ucap jihan
"Gue sumpahin anak lo nanti mirip gue biar tau rasa" Setelah mengucapkan itu ubay langsung lari terbirit ke atas mengikuti Jeno
"Ubayyyy,," Geram jihan
"Udah kak jangan marah-marah mulu" Ucap bunda Ais
"Sayang,,,ngomong-ngomong gimana itu udah ada tanda-tanda belum?" Tanya Mommy Sarah
mengingat perkataan ubay Yang mengatakan tentang anak Mommy sarah teringat dengan pernikahan Sean dan jihan yang sudah hampir enam bulan,Mommy sarah berharap jihan secepatnya hamil.
"Tanda-tanda apa mom?" bukan jihan yang menjawab tapi malah sean yang menjawab dengan balik bertanya
"Apa yang di katakan ubay tadi,Mommy udah tidak sabar pengen gendong cucu" ucap Mommy sarah menghayal sambil memperagakan menggendong bayi
Mendengar apa yang di katakan Mommy Sarah jihan langsung terpikir keadaannya akhir akhir ini.