
Sean masuk ke kamarnya tanpa menunggu jihan yang masih tertinggal di belakang bersama Angga.
"Gunung es gue mulai beku lagi" gumam jihan sambil berjalan menuju pintu
"Kak Angga istirahat di sini ya,nanti aja pulangnya biar gak terlalu capek" ucap jihan saat akan menaiki tangga
"Iya badan gue pegel semua, ya udah gue mau istirahat dulu ke kamar,Hati-hati dengan beruang kutub lo,dia lagi mode on gara-gara liat lo sama mantan lo tadi" Ucap Angga tersenyum
Jihan membuka pintu kamar sean perlahan agar tak menimbulkan suara.
Jihan mengedarkan pandangan nya tapi tak mendapatkan sean di kamarnya, hanya terdengar percikan air dari kamar mandi.
Jihan kembali ke kamar sebelah untuk membersihkan dirinya yang juga merasa lengket.
Setengah jam jihan kembali lagi ke kamar sean,terlihat sean tengah fokus dengan laptop nyang ada di pangkuannya.
"Mas,,," Panggil jihan Namun sean sama sekali tak menoleh ke arahnya
"Hemm" sean hanya berdehem
"Mas marah ya gara-gara tadi" ucap jihan yang kini sudah duduk di samping sean
Sean hanya diam tak mengubris nya.
"Mas,,aku lagi ngomong,kamu kok malah fokus sama laptopnya sih" jengkel jihan dengan sikap sean
Sean menoleh sebentar lalu kembali fokus pada laptopnya.
Karena Merasa di abaikan jihan beranjak dan pergi keluar dari kamar sean Tanpa sepatah katapun.
Setelah kepergian jihan sean menghela nafas nya,memikirkan sikapnya yang mungkin sudah keterlaluan pada jihan.
Tapi jika mengingat kejadian tadi siang yang membuat nya terbakar api cemburu,ingin rasanya dia memukul rehan saat itu juga.
Sean mematikan laptop dan menyimpannya,lalu keluar dari kamarnya menyusul jihan di kamar sebelah.
Sean memutar gagang pintu perlahan, namun pintu itu terkunci dari dalam. Sean kembali ke kamarnya dan mengambil kunci cadangan.
Pemandangan pertama yang Sean tangkap suatu pintu kamar jihan terbuka adalah jihan yang meringkuk di atas sofa kamar itu,dengan headset yang menutupi telinganya.
Sean menatap wajah teduh milik jihan yang tertidur pulas.
Mengambil Ponsel yang ada di tangan jihan, melihat apa yang habis di lihat olehnya namun tak bisa karna itu butuh pin yang tidak sean ketahui
Senyum Sean mengembangkan kala mendapati potret dirinya saat tengah mengajar yang menjadi locksreen hp jihan
Perlahan sean mengangkat tubuh jihan dan membawa ke kamarnya.
Saat sean menurunkan jihan di ranjangnya jihan langsung membuka kedua matanya
jihan begitu kaget saat melihat sean yang tengah berada di atasnya,dengan jarak yang begitu dekat.
"Kamu ngapain" ucap jihan langsung bangun dari tidurnya
"Minggir aku mau balik ke kamar" ucap jihan ketus
"Ini kamar kamu mulai sekarang dan seterusnya" timpal sean
"Aku gak mau satu kamar dengan orang yang pernah menganggap aku ada" ucapnya beranjak dari kasur
Dengan cepat sean menarik tangan jihan dan memeluknya,
"Kamu sadar gak sih,aku cemburu liat kamu berpelukan dengan mantan kamu itu,apalagi terlihat begitu jelas kalau dia masih mencintai kamu" ucap Sean pelan di telinga jihan
Mendengar pengakuan sean, Jihan tersenyum. Yang awalnya dia kesal Kini rasa kesal itu hilang begitu saja berganti dengan rasa senang.
Jihan mengangkat wajahnya dan menghadap pada sean bersamaan dengan sean yang juga menatapnya.
Dengan keberanian nya jihan mencium bibir sean. Sean yang awalnya terkejut dengan aksi istrinya tak menyia-nyia kan kesempatan itu.
Sean langsung menahan tengkuk jihan memperdalam ciumannya,jihan berontak kala merasa pasokan oksigen di tubuhnya mulai menipis.
"Kamu mau membunuh ku ya" ucap jihan ngos-ngosan
"Kamu yang memancing ku,dan aku tidak bisa menolaknya" ucap Sean enteng sambil tersenyum melihat wajah kesal jihan
"Dasar gila" gerutu jihan menjatuhkan tubuhnya pada tempat tidur
"Bahkan aku bisa lebih gila dari pada ini" Jawab sean yang kini sudah berbaring di samping jihan
Mata mereka bertatapan,sean beralih menatap bibir jihan berganti pada dada jihan yang naik turun karena tarikan nafasnya terlihat se*si membuat sean tak mampu lagi menahan dirinya.
Bibir jihan kini menjadi candu untuknya,sean mengabsen habis mulut jihan,jihan yang terbawa Suasana pun mulai mengimbangi permainan sean.
Mereka saling melu**t,mengabsen setiap isi mulut masing-masing.
Cium*n panas itu kini beralih pada leher jenjang jihan membuat sang empunya mendesah pelan saat merasakan suatu yang beda.
Tak hanya di situ, Perlahan tangan sean menelusup masuk ke dalam kaos yang jihan pakai,mengelus perut jihan lalu beralih pada kedua gundukan milik jihan menyusup masuk kedalam penghalang nya,sean memencet dan memainkan put**g nya membuat sang empunya semakin terbuai dan tanpa sadar jika desah**nya semakin keras.
Tanpa jihan sadari kini baju yang di kenakan nya tadi sudah tidak ada pada tempatnya.
Tangan Sean terus bermain dengan gundukan milik jihan dengan bibir mereka yang saling bertautan
Sean melepaskan pengait b*a yang jihan pakai,menampakkan dengan jelas dua gundukan milik jihan.
Sean yang terbawa Suasana dan nafsu dengan cepat melu**t dan menye**p benda kenyal itu bergantian. Membuat jihan semakin terbuai dan mend*sah nikmat.
Sean yang mendengarnya semakin terbakar gai**h nafsu dan rasa semangat.sean menyesap dan ******* nya secara bergantian,meninggalkan banyak tanda kepemilikan.
Jihan yang tanpa sadar menahan kepala sean guna memperdalam ******* itu.
Namun Tiba-tiba sean menghentikan aksinya,dan langsung menjatuhkan tubuhnya di samping jihan dengan nafas tersenggal menahan nafsu
"Kamu kenapa,?" Tanya jihan bingung
"Maaf mas tidak bisa melanjutkan ini sekarang" jawab sean dengan penuh sesal dan menahan sesuatu.
"Kenapa" Tanya jihan lagi yang merasa heran,karena tak mungkin semudah itu menghentikan dan menahan nafsu yang sudah memuncak untuk laki-laki normal seperti sean.
"Apa kamu tidak mau menyentuh ku,?" Tanya jihan lagi dengan wajah sendu
"Bukan itu ji," bantah sean
"Lalu apa mas,?" Tanya jihan lirih
"Mas tidak mau memaksa kamu untuk hal itu,mas akan menunggu sampai kamu siap dan kamu sendiri yang meminta nya,maafkan mas ji,mas terbawa naf*u,," jelas sean dengan raut wajah bersalah
Jihan tersenyum Mendengar penjelasan sean.