
Di lapangan jihan membelah kerumunan untuk melihat apa sebenarnya yang sedang terjadi.
Tiba-tiba tatapan matanya tertuju pada dua orang siswa yang tengah baku hantam sampai muka masing-masing tak berbentuk krna babak belur.
"Jayzan Elbarack, Berhenti!!!!..." Suara itu menggema tepat di belakang jay,
"Kakak" Seru Jay sambil menoleh ke belakang arah suara tadi memanggilnya
Bugh,,
Bugh
Siswa yang tadi berkelahi dengan Jay mengambil kesempatan ketika Jay lengah.
"Bangsat,," Jay melayangkan pukulan keras tepat di wajah Andi,Siswa yang tengah berkelahi dengan jay tersebut yang mengakibatkan darah segar mengalir dari sudut bibir Andi.
"Bagus lo ya,,Mau jadi jagoan lo,Ayo lanjutin gue yang bakal jadi jurinya,sekalian ambil senjata tajam sekalian kalo perlu" Ucap jihan dengan suara tinggi membuat orang yang mendengarnya merinding
"Kakak,, dia yang duluan,dia selalu mencari gara-gara dia menghina Kakak dan keluarga kita" jelas jay
"Gue gak butuh pembelaan lo,gue bisa jaga diri gue sendiri," Marah jihan pada Jay
"Kakak gue cuma ngebelain lo,gue gak terima jika ada orang yang ngerendahin lo apalagi bunda,gue cuma ingin jagain kalian,apa lo paham. Lo emang gak perna ngerti perasaan gue" Ucap Jay yang juga mulai tersulut emosi lalu beranjak pergi meninggalkan tempat itu
Jihan yang melihat kepergian adik satu-satunya itu hanya bisa melihat dengan mata yang berkaca-kaca tanpa ada niat untuk mencegahnya.
Di taman samping sekolah
"Maafin Kakak Jay,gue cuma ingin lo fokus pada sekolah lo,gak mikirin gue, apa gunanya gue banting tulang cari tambahan buat biaya sekolah kita kalo kelakuan lo sendiri seperti ini di skolah,lo bisa dapat masalah kalo seperti ini terus jay" Ucap jihan yang tengah duduk sendirian di bangku taman
"Gue sayang sama lo Jay,gue mau lo nanti jadi orang sukses bahkan lebih sukses dari gue,Maaf jika cara gue terlalu keras mendidik lo" sambung jihan sambil menghapus air matanya
Jihan menoleh ke arah sumber suara tersebut, dia sempat tertegun melihat orang tersebut,karna ketampanan nya.
Namun beberapa saat jihan tersadar
"Emangnya lo siapa ikut campur urusan gue,gue gak butuh pendapat lo,ini urusan keluarga gue bukan urusan lo" ucap jihan
"Dasar anak jaman sekarang, di kasih tau malah nyolot,,," ucap pemuda tersebut
"Lo ngapain di sini,bukannya sekarang masih jam pelajaran, jangan-jangan lo bolos ya" sambung nya dengan tatapan menyelidik ke jihan
"Enak aja kalo ngomong,gue udah ijin tadi sama guru gue,ganteng² tapi sayang mulutnya lemes" ucap jihan lalu beranjak dari tempat duduknya menuju kelasnya
Di kelas
"Ji,lo lama banget lo gak apa-apa kan,?" Cemas sofi melihat kedatangan jihan
"Gue gak apa-apa lo kira gue habis di kejar anjing sampek lo tanya gitu" jawab jihan dengan menjatuhkan pantatnya di kursi tempat duduknya
"Ya,siapa tau aja lo berantem sama anak-anak tengil itu,terus trio kutukupret pada kemana" kali ini dinda yang menimpali
"Ya mana gue tau,gue kan baru datang. Mereka sama lo berdua tadi" jawab jihan
"Setelah perkenalan guru baru tadi mereka keluar mau nyusul lo katanya,kita di sini suruh nungguin takut lo nyariin kita kalo semua ikut keluar" jelas Sofi
"Gue bukan bocil yang gak tau jalan,ngapain juga lo pada nyariin gue coba,gue masih ingat jalan menuju kelas" kesal jihan karna menurutnya sahabat² nya terlalu berlebihan
"Lo itu sahabat kita kalo lo lupa,jadi jelas lah kita khawatir" ucap dinda memukul bahu jihan dengan buku yang di pegangnya
"KDRT lo,," jihan sambil mengusap bahunya yang di pukul dinda